Senin, 18 Februari 2013

Wakil Rakyat yang Mengaku Wong Cilik


Yang mengatakan orang miskin tidak mau dicabut subsidi BBM-nya, sebenarnya siapa? Setiap ada rencana kenaikan harga BBM yang berarti mencabut sebagian atau keseluruhan subsidi BBM, maka kisruh pun akan muncul. Demo-demo akan terjadi. Penentangan muncul dimana-mana. Lalu para pejabat atau oknum yang mengaku-ngaku mewakili masyarakat mengatakan, “Rakyat tidak mau subsidi BBM dicabut”.
Dalam situasi adanya penentangan begitu, tampillah pahlawan-pahlawan kesiangan bak membela rakyat. Ada saja pejabat atau tokoh yang mempersoalkan rencana kenaikan harga BBM itu. Terutama anggota DPR selalu mengatakan, rakyat tidak siap dengan harga BBM yang mahal. Mereka akan menjadi bertambah miskin. Janganlah penderitaan rakyat ditambah-tambah gara-gara kenaikan harga BBM. Akhirnya rencana kenaikan BBM tidak bisa dilakukan. Dan yang menikmati subsidi lebih banyak, ternyata adalah mereka yang lantang menentang itu. Semua orang tahu, rumah mereka sangat besar dan memakai arus listrik sangat banyak. Mobil mereka juga ber-CC besar dengan kebutuhan minyak yang juga sangat besar.
Ketika antrian panjang terjadi di mana-mana, di tempat-tempat pengisian bahan bakar (SPBU) dan rakyat juga yang menjerit karena sulitnya mendapatkan BBM justru rakyat yang terpaksa berlama-lama di terik matahari sekedar mengisi motornya itu mengatakan, “Lebih baik harga minyak bensin ini naik saja asal jangan putus di SPBU.” Hah, saya terkejut juga mendengar kalimat itu. Apakah itu benar-benar dari hatinya atau sekedar karena emosi saja. Maklum untuk mendapat giliran mengisi bisa sampai menunggu dua jam di tengah tusukan panas matahari.
Kekurangan minyak memang disebabkan oleh beberapa faktor, seperti jumlah kendaraan yang sudah jauh lebih banyak (perkembangannya) dari pada pasokan minyak. Minyak bersubsidi memang sudah dijatah untuk satu-satu daerah. Faktor lain adalah karena masih maraknya penyelundupan minyak bersubsidi ke luar negeri atau ke perusahaan-perusahaan atau industri. Belum lagi para pengecer jalanan yang juga membeli minyak bersubsidi di SPBU untuk dijual kembali. Mereka membeli di SPBU dengan menggunakan motor atau mobil secara berulang-ulang. Faktor pengecer jalanan ini juga membuat stok BBM bersubsidi cepat habis.
Kini semuanya memang tergantung kepada semua kita. Tidak hanya pemerintah (penguasa) saja yang pantas memikirkan kesulitan BBM yang disebabkan oleh kebijakan subsidi ini. Jika subsidi dicabut dan rakyat miskin dapat dibantu dengan cara lain, sudah saatnya subsidi secara nasional dicabut saja. Tentu saja pemerintah wajib memikirkan, bagaimana membantu rakyat miskin (tak ada mobil atau motor) agar mereka tidak kesulitan mendapatkan BBM (untuk memasak) karena tidak mampu membeli.
Jika para pejabat khususnya anggota dewan dan orang-orang kaya itu masih menjual nama rakyat miskin untuk tidak boleh menaikkan harga minyak, jangan-jangan sebenarnya mereka itu yang keberatan mencabut subsidi BBM. Sebab jika subsidi dicabut, mereka harus membeli BBM (bensin) dengan harga mahal. Mereka juga akan membayar biaya listrik lebih mahal karena di rumah mereka memang ber-AC disamping penggunaan lampu yang banyak. Tapi dengan pintarnya mereka menjual nama rakyat kecil, mereka seolah memperjuangkan kepentingan rakyat miskin untuk tidak mencabut subsidi BBM. Entahlah!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar