Senin, 18 Februari 2013

Hari Tanoe Gabung Partai Hanura


Hari Minggu kemarin telah berlangsung pernyataan politik paling penting menjelang Pemilu 2014 yaitu bergabungnya Hary Tanoesoedibjo sebagai kader Hanura. Banyak analis politik melihat Hary Tanoe dengan kekuatan dana dan jaringan media-nya merupakan kekuatan politik terbesar saat ini. Berkibarnya Nasdem beberapa waktu lalu tak lepas dari tangan dingin Hary Tanoe yang dikabarkan menggelontorkan banyak duit ke jaringan politik Partai Nasdem sehingga Partai ini lolos Pemilu dan menjadi satu-satunya Partai baru yang berhasil lolos kualifikasi KPU. Namun setelah Partai Nasdem dinyatakan lolos dari kualifikasi KPU dan boleh ikut dalam Pemilu 2014, Surya Paloh dengan tangan besi dan cara diktator menggeser kekuatan politik Hari Tanoe di tubuh internal Partainya, uniknya perginya Hari Tanoe dari Partai Nasdem ternyata merupakan eksodus besar-besaran kader Partai Nasdem.
Hari Tanoe besar di lingkungan Pasar Modal, kemampuan berbisnisnya di Pasar Modal bukan terletak pada kemampuan trading saham atau permainan-permainan retail tapi ia orang yang amat jeli dalam melihat insting "penambahan nilai" atau economic value added dari sebuah kondisi ekonomi makro yang dikaitkan dengan nilai perusahaan. Kejelian inilah yang membuat ia mampu berdiri di jajaran terdepan dalam barisan para manajer investasi yang mampu mengakuisisi dan merestrukturisasi asset serta hutang perusahaan menjadi kekuatan yang bernilai.
Kemampuan Hari Tanoe di bidang Investments Banking antara tahun 1999-2002 jelas bukan main-main, pada masa ketika obralan perusahaan-perusahaan tawanan BPPN, Hari dengan jeli melakukan restrukturisasi bahkan dengan cerdas ia mengakuisisi RCTI dan seluruh grup Bimantara, ia juga mengakuisisi TPI lewat leverage buy out dari permainan pembentukan postur restrukturisasi hutang-hutang Bimantara. Kemampuan Hari ini adalah modal jenius dalam melihat bagaimana sebuah entitas bisa bernilai di depan pasar.
Pasar Politik saat ini memiliki mekanisme kerja sama persis dengan mekanisme kerja perusahaan, kekuatan partai politik dalam interaksinya dengan publik tidak lagi diletakkan pada "pembentukan masa" seperti jaman Orde Lama, "Kekuatan Elitis Tekhnokrat" seperti pada masa Soeharto, tapi kekuatan interaksi partai politik dengan masa saat ini diletakkan sebagai "kekuatan tawar menawar uang". Politik transaksional adalah arus besar penguasaan politik saat ini, dan Hari Tanoe adalah jagonya saat ini.
Wiranto adalah Jenderal yang amat berpengaruh karena peranannya yang penting pada masa penumbangan Soeharto. Wiranto sebenarnya bukan jenderal bertipe "Commander Type", tidak seperti Jenderal Sumitro eks Pangkopkamtib yang terkenal pada masa Malari 1974 atau bukan merupakan seorang Jenderal flamboyan seperti Letjen Prabowo Subianto. Wiranto adalah tipe Jenderal yang besar dari jalur ajudan, ia amat memahami personal orang ketimbang kemampuan bertempur, Wiranto adalah jenis Jenderal dibelakang meja, ia bukanlah Jenderal Patton tapi dia lebih menyerupai "Ike Eisenhower".
Salah satu ciri khas Wiranto yang amat berkarakter "orang Solo" adalah "iso ngeroso", ia bukanlah perwira militer yang memiliki ambisi besar, ada cerita saat dirinya masih Kolonel dan ada kemungkinan jabatannya mentok cuman sampai Kolonel, saat dia masih jadi ajudan Presiden Soeharto, dia mengenalkan dirinya pada BJ Habibie di masjid Istiqlal seusai acara ICMI pada tahun 1990, Wiranto meminta agar BJ Habibie jangan melupakannya. Dan BJ Habibie mengangguk, ternyata benar BJ Habibie menjadikan Wiranto sebagai panglima militernya serta menendang keluar Prabowo.
Dibalik sikap kesan lemah Wiranto, ada semacam kemampuan insting politik yang tinggi. Terbukti sampai saat ini ia masih eksis sebagai kekuatan politik nomor satu dan Partainya mampu lolos dari electoral threshold. Kemampuan insting Wiranto, kerendah-hatiannya menerima orang luar serta partainya yang cenderung gurem maka ini adalah "makanan yang tepat" bagi Hari Tanoe untuk membuktikan dirinya memiliki tangan dingin dalam membesarkan entitas.
Partai Hanura kemungkinan akan menjadi Partai terkuat nomor empat bahkan bisa menggeser kekuatan Partai Nasdem. Kekuatan Hari Tanoe adalah kemampuannya membangun jaringan, kemudian Hari Tanoe bakal menjadikan salah satu stasiun televisi-nya menjadi "tweede TV One or Metro TV" menjadi stasiun TV khusus politik. Apa yang dilakukan Hari Tanoe adalah merupakan investasi jangka panjangnya dalam menguasai jaringan politik di Indonesia.
Restrukturisasi Hanura akan dibawa dengan sistem cluster dan tiap cluster memiliki rantai komando yang jelas, kekuatan pendanaan menjadi unsur penting dalam pembiayaan operasional Hanura. Infiltrasi Hanura dalam kekuatan politik lokal akan menjadi sangat kuat, Hari Tanoe jelas akan melakukan politik "Benteng Stelsel" dalam menguasai kekuasaan politik tanah air dengan mengegolkan Gubernur, Walikota, dan Bupati.
Hari Tanoe juga akan membentuk pasukan diplomasi di tingkat atas, negosiator-negosiator bisnis akan menjadi punggawa paling penting dalam lansekap diplomasi Hanura dengan Partai-Partai politik besar. Prospektus Hanura akan menjadi Partai kuat adalah sangat mungkin dibawah kecerdasan Hari Tanoe dalam mengolah nilai tambah sebuah entitas.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar