Senin, 04 Februari 2013

Perpecahan Partai Jelang Pemilu, Sebuah Ujian Demokrasi


Ada peristiwa menarik jelang pemilu 2009 lalu yang mungkin tak akan pernah dilupakan publik, dua anak bangsa yang masih punya hubungan saudara berebut secarik kertas undian nomor urut partai, mereka adalah Yeni Wahid dan Muhaimin Iskandar. Peristiwa itu merupakan klimaks yang terjadi atas konflik berkepanjangan di tubuh PKB. KPU lebih memilih PKB versi Muhaimin Iskandar sebagai pihak yang sah untuk mengikuti pemilu. Pada saat penghitungan suara selesai, posisi PKB turun drastis disalib partai demokrat.
PDIP pun tak terhindar dari konflik, beberapa tokoh penting yang menjadi pendukung asli Megawati dari konflik yang terjadi pada PDI tahun 1997 seperti Haryanto Taslam dan Laksamana Sukardi justru merasa kecewa dengan kepemimpinan Megawati dan keluar  mendirikan partai baru bernama Partai Demokrasi Pembaharuan.
Partai Amanat Nasional begitu juga, Sutrisno Bachir yang berhasil mempertahankan partai dengan ramuan jitu mengajak artis menjadi caleg justru disingkirkan setelah pemilu. Pada masa sebelumnya tokoh pendiri seperti ekonom Faisal Basri sudah terlebih dahulu angkat koper.
PPP sempat goyah dengan perpecahan dan melahirkan Partai Bintang Reformasi. Setiap Munas yang dilakukan pun selalu membuat was-was karena ada saja pihak yang merasa kecewa.
Golkar memiliki sejarah perpecahan yang lebih panjang, namun karena pengalamannya selalu mampu keluar dari krisis. Pada masa reformasi, kubu Jenderal Edi Sudrajat yang kalah dalam pemilihan ketua umum memilih keluar dari Golkar dan membuat PKP (Partai Keadilan dan Persatuan), pada pemilu 1999 juga underbond seperti MKGR menyatakan diri sebagai partai dan ikut pemilu.
Pada pemilu 2009 lalu, muncul Hanura hasil karya Jenderal Wiranto yang kalah saat pemilihan ketua umum oleh Yusuf Kalla, juga ada Gerindra yang diprakarsai oleh Prabowo Subianto yang juga merasa tidak lagi nyaman di Golkar.
Pada pemilu nanti ada Partai Nasdem yang walaupun diisi dari berbagai pihak yang gagal di partai sebelumnya. namun begitu tetap saja energi terbesarnya adalah jebolan Golkar Surya Palloh dan Ferry Mursidan Baldan.
Bagaimana dengan PKS? Pada pemilu 2009 lalu ketika semua partai menunjukan grafik menurun karena pesona Susilo Bambang Yudhoyono yang sangat aduhai, PKS masih mampu menaikan jumlah kursinya di DPR dari 45 kursi menjadi 57 kursi. Pada waktu itupun di kalangan internal kader sempat muncul friksi-friksi seperti forum peduli kader, namun hal itu tak menjadi sesuatu yang sangat istimewa dalam memecah belah kesolidan partai. Jelang pemilu 2014 ketika Luthfi Hasan Ishaq ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK dan Anis Matta menggantikan sebagai presiden, justru banyak anggota yang dulu meninggalkan partai menyatakan untuk kembali ke pangkuan PKS.
Jelang pemilu 2014 kali ini, selain PKS setidaknya beberapa partai telah merasakan ujian kesolidan. Demokrat selalu menghiasi media pmberitaan dengan wisma atlit, hambalang dan kasus-kasus lainnya dengan tokoh-tokohnya seperti Andi Malarangeng, M Nazarudin, Angelina Sondakh dan Hartati Murdaya. Partai Nasdem sebagai satu-satunya partai baru yang tadinya dianggap sangat menjanjikan tak luput pula dari ujian kesolidan, perpecahan dua bos media tak terelakan. partai amanat nasional dan gerindra diuji dengan peristiwa calon anggota legislatif andalannya yang terlibat dengan narkotika.
Demokrasi membutuhkan partai politik sebagai pelaku didalamnya, partai politik harus diuji agar tambah dewasa dan belajar dari peristiwa itu. Partai politik yang baik  adalah partai yang selalu mampu memperbaiki diri, siap dicaci maki, belajar dari kesalahan serta  siap bertarung kembali untuk membawa negeri ini kearah yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar