Senin, 18 Februari 2013

Manajemen Timnas yang Amburadul


Bagi seorang pemain sepak bola profesional atau senior, bermain di Timnas negaranya adalah suatu cita-cita. Kita dapat melihat pemain kawakan Inggris David Beckham, bagaimana semangatnya dalam menjajal berbagai klub internasional. Semua itu ia lakukan demi menjaga performa serta staminanya, dengan harapan suatu waktu ia dapak kembali dipanggil untuk memperkuat Timnas negaranya, yaitu Inggris.
Namun aneh beribu aneh, di Indonesia justru para pemain yang dianggap berkompeten secara skill, malah mereka berlomba-lomba untuk tidak memenuhi panggilan negara, guna membela Timnas Indonesia di ajang kompetisi internasional.
Walaupun ada segelintir pemain yang masih menyimpan cinta negeri dan Ibu Pertiwi. Mereka tetap menyambut panggilan tersebut, walau bagaimanapun kondisinya. Termasuk pemecatan atau pemberhentian gaji di klub asalnya. Adapun segelintir nama tersebut adalah seperti Bambang Pamungkas, Stevie Bonsapia, Irfan Bachdim, Raphaele Maitimo dll.
Bagi Maitimo, bermain di Timnas sudah merupakan tekad. Sejak ia memutuskan dirinya siap untuk dinaturalisasi oleh Indonesia. Maka negara satu-satunya yang akan ia bela dalam berbagai kompetisi internasional adalah Indonesia. Memang, hal itu telah terbukti dari komitmen yang ditunjukkan selama ini oleh Maitimo, karena selalu memenuhi panggilan negara untuk membela Timnas Indonesia. Walaupun untuk dapat terlaksana niat tersebut, ia harus terlebih dahulu mengarungi samudera selama 17 jam penerbangan.
Namun malang tidak dapat ditolak. Setelah mempersiapkan diri secara maksimal baik dari segi mental maupun fisik selama beberapa minggu, demi asa memperoleh hasil maksimal dalam laga Pra Piala Asia 2015 kontra Timnas Irak. Secara mengejutkan, Maitimo didiskualifikasi dari laga perdana tersebut. Alasannya, Indonesia tidak mampu menunjukkan beberapa dokumen penting, menyangkut legalitas naturalisasi Maitimo. Tentu saja peristiwa tersebut sangat memukul Maitimo, karena sangat mengharapkan dapat membela Timnas Indonesia dengan segala kemampuannya.
Yang menjadi pertanyaankita. Apakah sebegitu profesionalnya Official Timnas Indonesia, sehingga dukumen yang begitu penting harus ketinggalan? Sedangkan dampak dari kelalaian sebagian official tersebut, justeru harus ditanggung oleh semua anggota tim dan bangsa Indonesia tentunya. Suatu hal yang sangat tidak masuk akal dalam tata kelola manajemen Timnas.
Harapan sebagai fans berat Timnas adalah, semoga kefatalan ini menjadi pelajaran dan tidak akan terulang kembali di masa yang akan datang. Semoga…!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar