Sabtu, 23 Februari 2013

Salahkah Hukuman Mati bagi Para Koruptor?


Di antara sekian banyak kontestan Miss Indonesia 2013 yang tayang di RCTI tadi malam, saya menjagokan wakil dari Sulawesi Tenggara. Saya memilihnya karena dia cantik. Meski melulu pakek bahasa Indonesia saat jawab, dara 17 tahun ini terlihat tulus. Tapi wajah cantik saja enggak cukup, dia mungkin keliatan gugup. Dan bahwa ada banyak yang jauh lebih berkualitas dirinya. Tapi ada yang seru pas pertanyaan di Lima Besar. Yah, dia juga masuk TOP 5!
Pertanyaan itu datang dari seorang desainer lelaki yang sudah berumur. Pertanyaannya seperti ini, “Apa hukuman terbaik untuk koruptor agar memberikan efek jera?”.
MIss Sultra menjawab dengan yakin, “HUKUMAN MATI” entah bagaimana bahasa detilnya, tapi hukuman mati bagi para koruptor ini sangat memberikan efek jera juga untuk meminimalisasikan kepadatan penduduk. Usai menjawab, scene berganti sama si kakek berkacamata tadi. Yang tampak menepuk jidat dan pasang mimik tak puas. Sementara tepuk tangan bergemuruh. Entah menertawakan entah mendukung. Si Daniel yang bawain acara juga kasih respon yang menurut saya kurang cerdas. Terdengar sangat menertawakan dan menyepelekan. Yah, sial kali yah Miss Sultra dapat pertanyaan kayak gitu? Pertanyaan yang enggak membawanya sampai ke Top 3.
Apa mungkin HUKUMAN MATI bukan solusi? Apa mungkin juri gak setuju sama komentar tersebut. Jangan-jangan juri (terutama si kakek tadi) mengira bahwa jawaban itu terlalu ekstrim? Sehingga tanpa sadar mendukung para koruptor di Indonesia. Atau mengharapkan jawaban yang lebih enak? Mungkin seperti, mendikotomikan dulu korupsinya sampai sejauh mana. Apa kecil, apa besar. Namun waktu sepanjang 60 detik yang menuntut pikiran harus serba cepat dan tanggap, jawaban tadi menurut saya brilian. Tapi saya lupa, orang2 di bangku juri kan berkapabel semua. Secara orang-orang kaya mereka. (HAHAHAH!!! Apa hubungannya?)
Di Indonesia ini paradigmanya masih sama. Orang jawab pakek bahasa Inggris dianggap keren. Padahal yang penting kontennya. Memang banyak Miss Indonesia Top 10 yang jawabannya keren-keren. Mereka menunjukkan kalau mereka bisa english. Tapi soal konten atau isi jawaban, itulah yang terpenting. Wakil Jateng di Top 10 menjawab sempat ngeblang sendiri, namun dia berhasil jadi juara dua. Tentu penilaian sudah mulai pas karantina. Yah anggap saja semuanya cocok dan adil.
Di tangan Daniel, tayangan ini mirip Indonesian Idol. Kacrut banget! Pengumuman finalis yang masuk final aja kayak gaya-gaya Indonesian Idol babak eliminasi. belum lagi jam yang molor. Sampai lima jam kali ada. Isinya dipenuhi konser musik BCL, Chakra Khan, dan Trio Idol yang salah satunya masih lupa lirik mulu (Sapa? Tuh yang jabrig rambutnya kayak mi beku) Untungnya pas nyanyi kayak ada text screen.
Dan pemenangnya adalah Vania, asal Kalimantan Barat, Dia pintar seriosa, fluent english dan soal cantik, sesungguhnya lebih cantik Whulandary. Tapi di Miss World tampaknya bukan itu yang jadi patokan. Inesh Putri saja bisa masuk Top 15, padahal fisiknya biasa saja. Apakah Vania akan berjaya di Miss World 2013 yang tuan rumahnya adalah Indonesia sendiri? Kurang yakin, kalaupun masuk, mungkin hanya akan kembali masuk Top 15, atau tidak masuk sama seakali karena “jatah” Top 15 sudah dua tahun sebelumnya diberikan. Jadi tuan rumah bukan berarti hars place kan? Kayak kasus Thailand di Miss Universe 2005, atau Cyprus di 2000.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar