Rabu, 08 Januari 2014

Pluralisme Sosiologis Sebagai Solusi ?

Pluralisme (yang berhubungan dengan masalah keagamaan) dewasa ini seolah sudah menjadi sebuah ‘world’ view’ tersendiri,sebuah ‘kacamata sudut pandang’ yang dibuat manusia sebagai upaya untuk melihat dan menyikapi adanya keragaman agama.
Dan karena sudah mendunia maka pluralisme yang saya sorot disini lebih kepada membicarakan pluralisme sebagai ide, konsep, gagasan, pemikiran manusia yang biasanya terdapat di dalam buku buku ‘teks’ pluralisme yang awal mula nya mungkin lahir dari para pemikir yang mayoritas dari dunia ‘barat’ sana,jadi disini saya lebih focus kepada membicarakan konsep-pemikiran ‘pluralisme’ sebagai teks yang biasanya ada di buku buku ‘panduan’ nya, bukan berbicara konteks,supaya jangan ada fihak yang tersinggung.
Hanya karena konsep ‘pluralisme’ ini seperti tidak memiliki konsep yang baku seperti rumus matematika maka disini saya mencoba membuat definisi sendiri yang bila keliru mohon dimaafkan dan mohon diperbaiki.
Untuk mudahnya saya mencoba membagi konsep pluralisme ini kepada dua bagian : pluralisme sosiologis dan pluralisme ideologis,yang mana kelak yang menurut anda paling tepat untuk dipakai sebagai ‘kacamata sudut pandang’ dan solusi masalah ?.
Pluralisme sosiologis atau bisa juga disebut ‘pluralisme humanistik’ adalah cara menyikapi adanya keragaman agama dengan cara menganjurkan untuk saling menghormati satu sama lain diantara para penganutnya,(walau saling menghormati bukan berarti ‘saling membenarkan’) dengan mencoba mencari sisi persamaan yang bersifat manusiawi dari tiap manusia yang memeluk agama yang berbeda itu,misal : persamaan manusia yang sama sama selalu ingin kebahagiaan, ketenangan, ketentraman dan kedamaian,dan sama sekali TIDAK mempermasalahkan atau mengutak atik isi bagian dalam dari tiap agama yang dipeluk manusia,sehingga misal,tidak mencoba menyama ratakan tiap agama misal dengan membuat rumusan : ‘semua agama sama benar’.
Pluralisme ideologis sebaliknya,lebih berupaya mencari sisi persamaan dari tiap agama yang dipeluk manusia, sebab itu mencoba masuk ke isi bagian dalam dari tiap agama,mencoba mengutak atiknya dan lalu mencoba membuat konsep persamaan dari tiap agama dengan membuat rumusan : ‘semua agama sama benar’,dengan melihat kepada ‘kulit luar’ dari agama yang sama sama mengajarkan moralitas - kebaikan, tanpa melihat kepada apa dan siapa yang disembah tiap pemeluk agama.
Artinya, pluralisme sosiologis ibarat satpam yang hanya berjaga diluar rumah yang hanya bertindak bila ada gangguan keamanan atau bila ada yang masuk ke dalam rumah tanpa izin,artinya tidak mencoba masuk ke dalam kamar sang majikan untuk mengutak atik isi kamarnya atau mengutak atik apa yang ada dalam fikiran sang majikan,sedang pluralisme ideologis ibarat satpam yang mencoba masuk kedalam kamar serta kedalam fikiran sang majikan.
Sebab itu pluralisme sosiologis selalu lebih berupaya mencoba mencari cari persamaan sebagai sesama manusia,selalu mencari upaya perdamaian diantara sesama manusia dan sama sekali tidak mempermasalahkan isi bagian dalam dari tiap agama yang dianutnya sebab faktor persamaan manusiawi serta faktor kerukunan dan perdamaian yang lebih banyak dilihat-dikaji dan di utama kan.
Pluralisme ideologis sebaliknya adalah cara menyikapi adanya keragaman agama dengan cara lebih mencoba mencari persamaan dari sisi agamanya (fokus ke-‘agama’-nya bukan ke-‘manusia’-nya) dan mencoba mempermasalahkan isi bagian dalam dari tiap agama yang di anut lalu mencoba menarik semacam ‘benang merah’ misal dengan membuat kesimpulan ‘semua agama sama benar’.
Bahkan seorang penganut ideologi pluralisme yang terlalu ‘ekstrim’ sampai memperlihatkan sikap tidak suka bila umat agama tertentu membuat klaim kebenaran terhadap agama nya-beranggapan bahwa agamanya sebagai ‘paling benar’,mungkin ia ingin siapapun pemeluk agama tidak mengklaim bahwa agamanya sebagai ‘paling benar’,atau mungkin ia ingin tiap pemeluk agama tidak lagi mempermasalahkan benar-salah agama yang dipeluknya asal baik dengan sesama (?), atau mungkin ia ingin kebenaran agama dianggap ‘relatif’.
Nah masalahnya adalah ‘pluralisme ideologis’ ini mungkin bisa saja maksudnya ‘baik’ karena bertujuan mencari kerukunan tetapi karena terlalu masuk ‘kedalam’-terlalu banyak berbicara tentang ‘agama’ nya bukan ‘manusia’ nya sehingga akhirnya malah menimbulkan keresahan tersendiri pada pemeluk agama tertentu karena beberapa hal seperti : Semua agama itu tidak bisa dilihat dan dinilai dari permukaan kulit luar semata,semua agama tidak bisa dianggap ‘sama rata dan sejajar’ hanya karena dianggap sama sama mengajarkan akhlak-moralitas-kebaikan,sebab inti dari agama bukan ajaran moral-ajaran kebaikannya tetapi lebih kepada : apa dan siapa yang disembahnya,nah agama ‘nampak sama’ dari segi ajaran moralnya tetapi akan nampak berbeda jauh bila melihat kepada apa dan siapa yang disembahnya. Sebab itu para pemeluk agama tentu menolak bila tuhan yang disembah agama nya disama ratakan atau dianggap ‘sama saja’ dengan tuhan yang disembah agama lain,contoh konkrit : muslim tentu akan menolak bila Tuhan yang disembahnya harus disama ratakan atau disejajarkan dengan apa yang dalam agama islam (maaf) dianggap sebagai ‘berhala’,begitu juga dengan penganut agama lain juga tentu tak akan mau tuhan nya dianggap ‘sama’ dengan tuhan yang disembah agama lain. Para pemeluk agama tentu menolak bila tidak boleh menganggap agama yang mereka anut sebagai ‘yang paling benar’,sebab pertama, itu adalah hak mereka yang menganut agama apapun,dan kedua,mereka menganut agama tertentu tentu karena mereka meyakininya sebagai yang paling benar,bila tidak menganggapnya sebagai yang paling benar tentu buat apa mereka menganutnya ?. Berlawanan dengan logika akal : pernyataan ‘semua agama sama benar’ secara keilmuan otomatis akan menimbulkan konsekuensi membenarkan semua tuhan yang disembah semua agama,misal,ada 100 agama dengan tuhan yang disembahnya berbeda beda,maka menyebut ‘semua agama sebagai sama benar’ akan berarti bahwa ada 100 tuhan yang menciptakan dan mengendalikan alam semesta ini. bukankah itu suatu konsep - pemikiran yang sulit diterima logika akal sehat ? Sebab menurut tela’ah logika yang mengendalikan alam semesta itu mustahil lebih dari satu sebab ke stabilan dan ketertataan alam semesta mustahil bila berdiri diatas dua atau lebih tuhan yang masing masing bisa saling berselisih satu sama lain yang membuat terganggunya ke stabilan alam semesta.(secara logika Tuhan harus satu). Bila konsep pluralisme terlalu ‘masuk kedalam’ sampai menolak klaim kebenaran dari suatu agama tertentu berarti kebenaran agama tak boleh ada yang dianggap bersifat mutlak-menjadi harus dianggap ‘relative’ (?), atas gagasan demikian maka secara otomatis pemeluk agama secara logis nantinya akan berfikir : ‘lha mengapa yang kebenarannya relative saya jadikan keyakinan ?’, atau : ‘apakah keyakinan (hakiki) bisa berdiri diatas sesuatu yang harus dianggap bersifat relative’ (?).
Sebab itu solusinya menurut saya, agar tidak menimbulkan keresahan diantara para penganut agama,serta tidak menimbulkan problem pertentangan dengan logika maka sebaiknya cukup bila penggagas pluralisme itu menganjurkan kepada para penganut tiap agama itu untuk sekedar saling menghormati dan saling mencari persamaan diantara mereka sebagai sesama manusia saja,agar hidup rukun dan damai,artinya jangan terlalu masuk ‘ke dalam’ ke masalah yang berhubungan dengan inti agama dengan membuat sikap atau pernyataan : Membuat benang merah pembicaraan mengenal masalah agama yang berujung mengganggap ‘semua agama sama benar’. Menolak atau bersikap antipati terhadap klaim kebenaran mutlak penganut agama tertentu.
Sebab itu bila ada yang keberatan tuhannya di samakan dengan tuhan agama lain itu suatu hal yang wajar sebab fakta nya masing masing penganut agama menyembah tuhan yang berbeda beda,dan klaim kebenaran oleh penganut agama tertentu bukankah itu adalah hak masing masing sebagai konsekuensi mereka menganut agama nya ? Bila manusia diberi hak oleh negara untuk menganut agama tertentu maka bukankah hak nya pula untuk mengklaim agamanya sebagai ‘yang paling benar’ ? Masa diberi hak beragama tetapi kemudian tidak boleh menganggapnya sebagai ‘yang paling benar’ ? Masa diberi hak untuk mencicipi gula tetapi tidak boleh mengatakan ‘gula itu mutlak manis’ ?.
Dengan kata lain bila kaum pluralis atau penggagas pluralisme betul-betul ingin sekedar mencari kerukunan-kedamaian antar umat beragama tak perlu sampai harus terlalu masuk ‘kedalam’ sampai membuat konsep pemikiran atau rumusan ‘semua agama sama benar’ misal, atau menolak klaim kebenaran mutlak dari golongan tertentu,atau sampai me relatifkan kebenaran agama, biarlah soal benar-salah tentang agama dibicarakan oleh dan menjadi dimensi pembicaraan para pemeluk agama masing masing,bahkan andai suatu saat diantara mereka terlibat perdebatan masalah ‘kebenaran’ asal sebatas masih mengikuti etika dan tetap saling menghormati, itu adalah dinamika yang mencerdaskan,toh asal jangan saling menghujat dalam arti saling menghina satu sama lain.
Dan dalam tiap agama sebenarnya telah ada didalamnya ajaran untuk saling menghormati dan saling menghargai yang berbeda kepercayaan toh ? (walau saling menghormati bukan berarti saling membenarkan).
Sebab itu mencari persamaan secara sosial sebagai sama sama manusia,misal : sama sama butuh kehidupan ekonomi yang mapan, stabil, sejahtera, sama-sama butuh kehidupan bermasyarakat yang rukun, tenang, tentram, damai, sama sama bertanggung jawab secara sosial di lingkungannya masing-masing, sama-sama harus membangun dan mempertahankan kedaulatan negara, sama sama membangun SDM yang berkualitas,sama sama mencegah aksi kejahatan, dan sebagainya yang bersifat ‘sosiologis-humanistis’ menurut saya lebih bermakna ketimbang terlalu mempermasalahkan hal hal yang lebih bersifat ‘ideologis’ yang malah bisa menimbulkan rasa resah-gelisah dikalangan penganut agama tertentu.
Dan menurut saya di Indonesia ini ‘pluralisme sosiologis’ telah berjalan secara alami karena bangsa bangsa timur punya tradisi tenggang rasa dan tradisi saling menghormati,dan hati hati dengan ide ‘pluralisme ideologis’ yang lahir dari kepala beberapa pemikir terkemuka dari dunia barat sana yang disamping bertentangan dengan logika akal sehat juga bisa bisa membuat hubungan antar para pemeluk agama malah menjadi ‘keruh’.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar