Rabu, 08 Januari 2014

Belajar Sosiologi Demokrasi Dari Mesir

Kita memang seharusnya taat pada hukum dan mengikuti prosedur, tapi kita sebaiknya  tidak melupakan tujuan. Hukum dalam bernegara dan berdemokrasi hanyalah sebuah perangkat untuk mencapai tujuan. Tujuan demokrasi adalah agar semua menjadi ideal, hati kita menjadi satu, suara kita bisa  terwakili, mampu menciptakan  kebersamaan ,tidak ada yang teraniaya, dan dunia berada pada kondisi yang aman, tanpa masalah.
Selama tujuan itu belum terwujud maka prosedur apapun adalah gagal dan salah. Maka tak ada prosedur yang perlu diindahkan jika tujuan tidak tercapai. Apalagi menjadikan prosedur sebagai alat politik dan menggunakannya untuk kepentingan pribadi atau golongan. Maka sikap itu adalah kekonyolan paling konyol.
Seperti halnya demokrasi di Mesir. Prosedurnya presiden Hosni Mubarak seharusnya tetap menjabat sebagai presiden. Salah, jika ada pihak yang ingin melengserkannya. Namun ini adalah masalah tujuan tadi, banyak hati yang tidak ridho dan banyak hati yang menginginkan ia mundur. Maka seharusnya presiden Hosni Mubarak bisa menyadarinya dan melakukan tindakan bijak untuk mundur.
Hubungan rakyat dan pemimpin adalah ibarat orang yang pacaran. Jika ada seorang gadis yang secara tegas mengatakan, ”saya tidak menyukaimu“ atau  menyatakan perasaan tidak  nyaman, maka sebaiknya kita juga bisa mendengarnya dan menghormatinya. Akankah kita akan memaksakan seorang gadis mencintai kita, sedangkan gadis itu tidak menyukai kita. Akankah rakyat kita paksa untuk menerima seorang pemimpin yang tidak diridhoinya. Akankah Hosni Mubarak memaksa rakyat Mesir untuk mencintainya sedangkan rakyat Mesir banyak merasa kecewa dengannya.
Pelajaran Demokrasi di Mesir adalah pelajaran bagi semua pemimpin dunia, terutama juga di Indonesia. Kita semua seharusnya mengutamakan kebersamaan dan kerelaan hati semua orang. Jangan seperti seorang cowok yang tidak bertanggung jawab, apalagi memaksakan rakyat untuk mencintai presiden yang tidak disukainya.
Presiden SBY dan presiden Indonesia berikutnya seharusnya bisa peka akan perasaan rakyat. Karena rakyat adalah seperti wanita lemah yang butuh dicintai dan dilindungi. Bukan dimanfaatkan, apalagi menafikkanya, menganggapnya tidak ada.Rakyat membutuhkan cowok yang bertanggung jawab bukan cowok yang pintar  mengelabui seperti buaya darat. Dalam hidup berbangsa dan bernegara dan juga berdemokrasi, maka marilah kita bercinta dengan baik. Kualitas seni bercinta kita adalah kualitas kecerdasan kita dan kualitas moral kita, dan tentu adalah kualitas hidup kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar