Rabu, 08 Januari 2014

“Membongkar Jaring Kuasa Kapitalisme Global” Studi Sosiologis Atas Marginalisasi Musik Rock Indonesia

Berkembangnya pengetahuan dan teknologi telah memberi jalan baru bagi manusia dewasa ini sekaligus membantu mempermudah aktivitas hidupnya. Timbulnya kecenderungan untuk melakukan sesuatu dengan cara yang instan telah menjadi salah satu ciri manusia saat ini dalam menikmati arus modernisasi sebagai kekuatan ladang interaksi berkembangnya kapitalisme global di negara berkembang seperti Indonesia. Salah satu contoh kongkrit dari kekuatan tuntutan interaksi kapitalisme global adalah membuludaknya industri musik. Baik aliran pop, rock atau dangdut dan sejenisnya. Terjadinya aktivitas seperti inilah merupakan salah satu fakta sejarah adanya benih-benih perubahan dalam bidang seni dan budaya.
Mengacu pada diskusi diatas maka salah satu isu yang masih menarik untuk kita diskusikan dewasa ini adalah tema-tema tentang kajian seni, budaya dan perubahan sosial (social change). Isu seni, budaya dan perubahan sosial (social change) merupakan salah satu diskursus yang mungkin kurang diminati bagi sebagian kalangan intelektual, cendikia dan para penggiat media. Kasus-kasus hukum, agama, politik serta urusan rumah tangga seperti isu perselingkuhan para artis-artis yang tersebar di bumi Nusantara ini lebih masuk dalam lirik-lirik kehidupan mayoritas penduduk bumi Nusantara ini.
Isu-isu seni, budaya dan perubahan sosial (social change) bagi kalangan tertentu diklaim sebagai diskusi yang kurang memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan suatu bangsa. Seperti diskusi yang akan kita bahas pada kesempatan ini adalah tentang musik rock Indonesia. Dalam konstruk masyarakat yang tinggal dibumi nusantara ini bahwa musik-musik Indonesia tak ubahnya sebagai hiburan belaka. Tidak sedikit manusia-manusia di bumi nusantara ini, kurang peduli dengan pesan-pesan sosial yang melekat disetiap lirik-lirik lagu, terutama musik rock misalnya Group slank, Koil, Pas, Jamrud. Dalam studi sosiologi, musik rock memiliki dimensi kritik sosial dan dimensi dakwah ?.
Upaya menguak dunia subkultur anak muda Indonesia hari ini, dalam sejarahnya ada dua kurun waktu yang cukup penting untuk kita lihat yaitu era 1998 dan pasca-1998, atau lebih populer di kenal dengan istilah pra reformasi dan pasca-reformasi. Sejarah silam ini penting untuk kita refleksikan, karena bagaimanapun kondisi sosial sosial-politik sebagai habitat tempat sebuah generasi muda tumbuh sangat berpengaruh pada terbentuknya karakter, mentalitas dan attitude. Kondisi sosio-politi dibawah rezim orde baru yang dikenal dengan otoriter telah mampu merubahbentuk-bentuk ekspresi subkultur anak muda Indonesia. Perjalanan musik Indonesia pada era orde baru berjalan lurus dan searah sesuai dengan keinginan dan tekanan pemerintah.
Pada era 1990-an, setiap kita mendengar kata underground dan independent, seolah yang nampak dimata kita adalah musik metal, hardcore, punk, dan sejenisnya. Fashion sangar, rambut gondrong, celana butut dan sobek, sepatu bot, dan membuat orang yang melihat akan berpikir sebagai grombolan Underground. sekelompok pasukan manusia yang diJudgment sebagai pengganggu terhadap stabilitas sosial negara-bangsa, sehingga ruang ekspresi anak muda Indonesia dibatasi tidak heran jika dibatasi oleh pemeritah, ini terlihat jelas pada rezim orde baru yang terkenal brutal.
Dari situasi yang tidak menentu inilah, menjadikan subkultur anak muda Indonesia memiliki dialektika sendiri untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Negara yang seharusnya memberi ruang ekspresi menjadi terbalik dipenjara oleh para penguasa orde baru dengan tujuan utama adalah melanggengkan kekuasaannya. Musik rock dan sejenisnya oleh penguasa dinilai sebagai musik yang tidak merepresntasikan kepribadian dan identitas bangsa, padahal kita sendiri bingung, identitas bangsa Indonesia itu seperti apa.
Dalam sejarah perjuangan Musik rock Indonesi dan sejenisnya yang bisa kita refleksikan untuk kita sebagai generasi muda yang harus memiliki semangat dan kepedulian terhadap sesama sekaligus tanggungjawab moral pada bangsa ini misalnya dalam hal ini kita mencoba merefleksikan apa yang telah diperjuangkan oleh para penggiat musik rock Indonesia sseperti slank,Koil,Pas, Jamrud dan sejenisnya.
Mari kita refleksikan bersama hasil dari penelitian Dr. Abdullah Sumrahadi dengan perjuangannya dia mampu meraih gelar Doktor. Dia mencoba untuk membongkar serta memberi pemahaman yang lebih dialogis tentang perjalanan musik rock Indonesia dimana dia dengan tegas mengatakan seperti tertera dalam judu disertasinya “Menemukan Kritik Sosial Dan Kesadaran Kritis Pada Musik Rokck Indoensia” berikut cuplikan salah salah satu hasil penelitian Dr. Abdullah Sumrahadi yang saya kira unik dan menarik analisisnya : “Band beraliran rock menunjukkan adanya tanda-tanda dan kesadaran kritis terhadap suatu masalah sosial yang dialami oleh diri komposer atau musisi dan juga masyarakat luas. Misalnya, jika kita kembali memerinci apa yang sudah disajikan oleh Koil dalam album mereka yang berjudul Blacklight Shine On tahun 2008, menunjukkan adanya suatu kesadaran diri sebagai musisi dan bagian dari masyarakat. Melalui album itu Koil membuat lagu berjudul Sistem Kepemilikan, lagu itu memberikan gambaran tentang bagaimana kondisi dan pengaturan kepemilikan aset dan kekayaan bangsa. Kepemilikan dan kekayaan aset tersebut, harusnya menjadi bagian dari upaya menyejahterakan warga negara. Tetapi yang muncul justru pengelolaan dan kepemilikan aset kekayaan bangsa dikelola oleh asing. Pertanyaan kritis dari lagu tersebut, Sebetulnya apa yang kita miliki ? Tidak ada kebanggan terhadap diri sendiri ? Pertanyaan itu menyiratkan adanya kesadaran bahwa, musisi sebagai bagian dari kehidupan sosial dan bermasyarakat tahu ada ketidakberesan dalam mengelola aset yang bermanfaat bagi warga negara. Dan akhirnya muncul ketidakbanggaan terhadap diri sebagai warga negara. “Berlanjut pada lirik lagu lainnya dari Koil yang berjudul Ini Semua Hanyalah Fashion, memberikan gambaran bahwa pelayanan negara dan perilaku rakyatnya memiliki unsur-unsur linearitas. Melalui teks lirik mereka, Koil sedang menunjukkan bagaimana aparatur atau pemimpian negara memberikan keyakinan kepada publik untuk tahu dan mengerti langkah-langkah yang diambil oleh penguasa, bahwa menjual aset bangsa merupakan suatu progress dalam pembangunan kesejahteraan. Selain itu, Koil juga menunjukkan suatu kritik dan kesadaran bahwa, dalam diri mereka sebagai musisi dan juga yang dialami oleh sebagian masyarakat luas, ada suatu sikap inkonsisten. Sikap itu dapat ditunjukkan dari, bagaimana ketika mendengarkan dan melihat tayangan dari televisi yang berisi pernyataan dari penguasa, kita kemudian tergerak menjadi patriot penyambung lidah penguasa, dengan memberikan ulasan dan penjelasan lebih jauh dan rinci. Akhirnya membuat legitimasi bahwa, keterangan dan pernyataan dari pemerintah atau penguasa itu pas dan layak untuk dilaksanakan, dan kita sebagai warga negara tidak perlu untuk mengritisi bahkan menolaknya. Tetapi pada sisi yang lain, sebagian dari kita yang tadi memerankan diri sebagai patriot, sebenarnya tak lebih juga mengalami krisis figur dan kepemimpinan, sehingga untuk menjembatani krisis itu, sebagian dari kita mengidolakan selebriti dari suatu liputan majalah maupun televisi, seperti juga para penguasa yang mengidolakan para selebriti bukan para patriot yang konsisten dan bertanggungjawab terhadap amanah kekuasaan. “…Lewat teks lagu Gaya, Jamrud sedang menunjukkan suatu fakta bahwa, dalam masyarakat mulai berkembang dan tidak menganggap relasi seksual sesama jenis sebagai suatu masalah serius. Meskipun teks atau ujaran dari lagu tersebut berupa sindiran atas kesadaran sosial yang ditumbuhkan dari pengamatan para anggota Jamrud yang mencipta lagu. Pergeseran pemahaman dan perdebatan tentang upaya untuk saling memahami serta menghormati subyek pelaku model percintaan sesama jenis menunjukkan adanya pola perubahan sosial masyarakat yang bersumber dari pengarusutamaan studi transgender. Meskipun tidak semua masyarakat ikut terpengaruh dengan pengarusutamaan tersebut. Ada sebagian yang mampu menerima dan sebagian lain menolak, dan ada pula sebagian yang lain menjadikan hal tersebut sebagai bahan sindiran dan lelucon. Pada situasi terakhir ini Jamrud mengambil peran melalui sindiran yang dikemas lewat lirik bergaya satir sebagai edukasi seks lewat lagu. “…Maka Pas lebih berkonsentrasi pada persoalan penyimpangan kekuasaan, korupsi. Melalui lagu Jengah, Pas membangun kesadaran bahwa, mereka sebagai musisi merasakan adanya perilaku korupsi yang dilakukan oleh pejabat dewasa ini. Posisi Pas, selain intelektual kampus dan pemerhati sosial maupun hukum menempati ruang kritik yang sama. Selain itu, menunjukkan semangat dan perhatian musisi yang selama ini identik dengan penciptaan lagu-lagu melankolis ke dalam lagu-lagu bermuatan kritik anti terhadap korupsi. Lewat lagu Jengah, Pas mengilustrasikan apa yang mereka lihat dan perhatikan dari pelaku kekuasaan, pejabat didalamnya. Bahwa, korupsi, suap dan kebohongan dari penguasa menjadi hal yang wajar dipraktikan dalam dunia politik. Di luar kapasitas Pas dalam menulis lagu itu, komunitas (penggemar) mereka di Bandung telah membuat kampanye anti korupsi melalui kaos-kaos yang mereka disain. Kaos-kaos itu dibuat oleh jaringan produksi indie di dunia fashion dan dipasarkan melalui distro-distro. Hal tersebut menunjukkan adanya kesadaran kritis suatu komunitas dalam masyarakat yang memiliki sikap anti terhadap korupsi. Dan komunitas-komunitas tersebut berada dalam ruang musik rock yang diciptakan oleh musisi idola atau teman mereka. “Akhirnya Slank membuat semacam konklusi yang bisa mengaitkan kecurigaan Edane, dengan korupsi pada wakil rakyat di parlemen melalui lagu mereka yang berjudul Gosip Jalanan. Lagu tersebut mengumandangkan fakta yang selama ini terabaikan oleh jerat hukum. Gosip Jalanan seperti menjadi petunjuk bagi KPK untuk menjerat anggota Dewan Yang Terhormat ke dalam pasal-pasal Tindak Pidana Korupsi, selain juga menyinggung perasaan para anggota Badan Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat. Lewat petikan lirik berikut, Kacau balau 2X negaraku ini // Ada yang tau mafia peradilan // Tangan kanan hukum di kiri pidana // Dikasih uang habis perkara // Apa bener ada mafia pemilu // Entah gaptek apa manipulasi data // Ujungnya beli suara rakyat // Mau tau gak mafia di senayan // Kerjanya tukang buat peraturan // Bikin UUD ujung-ujungnya duit // Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar // Pake peci tapi kelakuan barbar // Ngerusakin bar orang ditampar-tampar, kita menjadi tahu apa yang menjadi perhatian Slank. 
Dari berbagai laporan media, kita tahu bahwa “perang” antara Slank dan koruptor di DPR bermula sejak 24 Maret 2008, pada saat anggota-anggota Slank datang ke gedung KPK. Kedatangan Slank ke KPK memang tidak ada kaitan langsung dengan suatu konser, tetapi mereka datang secara khusus untuk memberi dukungan kepada KPK agar korupsi tidak semakin merajalela. Dan pada saat hendak mengakhiri kunjungan, di lobi utama gedung KPK, Slank menggelar pertunjukan dengan tajuk “Bangkit Melawan Korupsi.” Dalam aksi sederhana tersebut Slank membawakan lagu-lagu mereka yang syarat muatan kritik birokrasi dan lainnya, termasuk Gosip Jalanan. Dalam konferensi pers sesaat ketika konser berlangsung Kaka, vokalis Slank berujar, “kita terus bernyanyi dan berusaha menyadarkan bahwa korupsi adalah kejahatan, pengkhianatan”. Dan akhirnya konser itu membuat wakil rakyat tidak nyaman. Oleh Badan Kehormatan DPR RI lagu Gosip Jalanan dianggap menyudutkan mereka para wakil rakyat. Ada grup band yang lagi aktif mendukung KPK, membuat lirik yang menyakiti lembaga DPR RI. Bunyi liriknya, DPR tukang buat UU dan korupsi.
Faktas sejarah perjuangan para musisi-musisi Indonesia jika coba dikaji dari masa Orde Baru hingga sekarang dapat dipahami sekaligus perlu diapresiasi apa yang telah dilakukan oleh para musisi Indonesia dalam upaya mengawal perubahan lewat seni dan budaya Industri Musik. Semangat kritik sosial dan kesadaran kritis tentang posisi musik rock Indonesia secara lebih ilmiah telah mampu di buktikan kepada halayak lewat penelitian disertasinya oleh salah satu tokoh Sosiolog yakni Dr. Abdullah Sumrahadi yang memiliki kepedulian pada kajian seni dan budaya. Manusia ini adalah salah satu sosok intelektual dari sekian intelektual yang tersebar dibumi Nusantara ini yang peduli pada perjuangan pasukan musik rock Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar