Rabu, 08 Januari 2014

Kekerasan: Dalam Kacamata Sosiologis

Kekerasan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini merupakan sebuah dari proses sosiologis yang alamiah terjadi di masyarakat. Dikatakan wajar dikarenakan bahwa masyarakat sebagai arena sosial merupakan arena sosial yang diperebutkan oleh setiap aktor-aktor yang ada dimasyarakat. Setiap aktor berupaya untuk mengungguli setiap aktor lain yang ada di masyarakat sehingga konflik menjadi rentan dan mudah terjadi. Penyebabnya sering dikarenakan ketidakadilan terhadap distribusi modal sosial dan modal ekonomi yang terjadi di masyarakat. Selain isu-isu sensitif tertutama yang menyangkut harkat hidup orang banyak sangat mudah menjadi pemicu munculnya konflik atau kekerasan.
Di dalam sosiologi terdapat dua aliran besar yang membagi masyarakat dalam menyikapi fenomena konflik atau kekerasan yang terjadi di masyarakat. Klasifikasi ini terjadi akibat perbedaan cara memandang fenomena konflik atau kekerasan itu sendiri. Sehingga menghasilkan dua perbedaan dari cara menanggapi konflik atau kekerasan itu sendiri. Pembagian tersebut terbagi atas cara pandang perspektif kritis dan perspektif fungsional.
Di dalam perspektif kritis dimana mereka sepakat bahwa konflik lumrah terjadi di masyarakat, akibat kontestasi demi memperjuangakan ketidakadilan dalam distribusi modal sosial dan ekonomi. Perspektif ini mengaharuskan aktor-aktor sosial untuk berkontestasi dikarenakan setiap aktor memiliki kepentingan yang berbeda harus saling berhadapan, selain itu ditambah dengan seiring dikuasinya mode of production, sehingga konflik yang bisa saja berujung pada tindak kekerasan terjadi. Dalam kasus belakangan ini bukan isu agama yang menjadi faktor terbesar dari tindak kekerasan, namun tidak berjalan dengan baik pembagian dari distribusi modal tersebut, sehingga menyulut kekeselan yang berakhir pada bentrokan.
Dalam perspektif berikutnya yaitu perspektif fungsional, dimana digambarkan bahwa masyarakat seperti halnya tubuh manusia yang terdiri dari berbagai organ yang membentuk kesatuan. Dari tiap-tiap organ tersebut memiliki fungsi dan kerja yang berbeda namun saling menunjang satu sama lainnya. Jika salah satu organ mengalami disfungsi maka organ yang lain dituntut untuk membantu organ yang mengalami disfungsi (konflik) tersebut. Menuju titik keseimbangan (equilibrium) merupakan keharusan yang harus tubuh manusia lakukan demi melakukan aktifitas sehari-hari. Begitu juga masyarakat yang terdiri dari berbagai aktor-aktor/organ-organ. Setiap aktor atau organ diharapkan menuju kepada titik keseimbangan tersebut sehingga seminimal mungkin jangan sampai terjadi konflik. Jikalaupun konflik atau kekerasan terjadi diharapkan tidak menggangu stabilitas dan dikemudian tetap menuju keselarasan.
Walaupun konflik atau kekerasan lumrah dan wajar terjadi di masyarakat disebabkan yang telah dijelaskan di atas. Serta terdapat dua sudut pandang bagaimana kita melihat konflik itu dalam kacamata sosiologis. Alangkah baiknya jika segala hal tersebut diselesaikan dengan cara dialog. Bagi Habermas (filusuf ilmu sosial) yang coba menengahi dua perspektif tadi, bahwa kunci dari penguasan terhadap ruang publik adalah dengan melakukan dialog dan komunikasi yang baik antar aktor-aktor yang berbeda kepentingan. Walaupun dalam prakteknya sulit dan membutuhkan waktu yang lama dalam menyelesaikan sumber konflik tersebut, setidaknya ada cara lain selain tindakan kekerasan yang menjadi pedoman bagi oknum-oknum sekarang ini, sehingga yang terjadi di masyarakat adalah masyarakat yang komunikatif bukan masyarakat yang senang anarkis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar