Rabu, 08 Januari 2014

Mencermati Fenomena Galau dalam kajian Sosiologis

Seperti yang dijelaskan Rachmat Ramadhana dalam bukunya The Route of Happiness bahwa kehidupan social masyarakat indonesia seolah berada pada titik nadir. Hal tersebut dapat kita tangkap dari berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik. Berita mengenai penyakit menyimpang, kemiskinan, bencana, wabah penyakit serta segala yang berbau negatif lainnya—hampir setiap hari dilahap oleh kita. Belum lagi fenomena jejaring sosial yang tumbuh begitu pesat di belahan nusantara ini, tak ayal beragam curhatan penuh kegalauan kita menjadi bahan actual dalam berita jejaring sosial media kita. Peralihan dunia humanis dan komunikatif menjadi monolog, hal ini yang disebut oleh sosiolog dunia narasi kesadaran palsu.
Secara sosiologis, fenomena galau atau kehilangan makna manusia, merupakan sebuah keniscayan jika dan berakibat kondisi romantisme hilang dan tak terkendali oleh kita. Sederhananya, galau merupakan sebuah kondisi yang berbeda dari pada sebelumnya yang timbul dari beberapa persoalan besar atapun faktor yang ada. Kondisi tak terkendali dan tak seperti biasanya inilah membuat kita seolah menjadi manusia yang terasingkan. Sering kali kita bertanya pada saat kondisi kita mulai kehilangan arah bahkan kelihatan tanpa makna hidup, diukur dalam dimensi modern, seperti kesuksesan materil, instansme, oportunis, rasional, cepat, dinamis, hemat dan sebagainya—menjadi pemicu utama dalam dunia kegalauan.
Beragam pertanyaan modern pun muncul seketika dan tiba-tiba. Namun yang paling sering dipertanyakan adalah mengenai siapakah kita ? Dan untuk apa kita hidup ? Dan sederet pertanyaan mengenai hakikat manusia lainnya hadir bersamaan manakala kita terjerat dunia yang mulai tidak bersahabat ini. Alhasil kita kehilangan arah dari rangkaian zaman modern yang menjajaki diri kita.
Ada beberapa alasan mengapa kita terjerat dalam dunia kegalauan modern : Pertama, Meminjam model. Seringkali kita memaksakan kehidupan orang lain menjadi diri kita, baik style, kesuksesan maupun segala bentuk kehidupan yang dimiliki orang lain seolah menjadi obat tersendiri bagi kita, padahal setiap orang mempunyai style, pemikiran, serta minat yang berbeda. Pada akhirnya kita kehilangan arah dan tujuan sebagai manusia yang kreatif. Pemutusan kreatifitas dianggap mampu menjembatani nilai-nilai kebahagiaan tanpa rasa galau, namun yang terjadi malah sebaliknya. Kedua, menggunakan penopang. Begitu banyak dari kita ketika menjalani kehidupan ditopang dengan sekumpulan alat bantu. Perangkat modern pun menjadi obat tersendiri untuk menopang diri kita. Dalam istilah bisnis, penopang kehidupan terukur dalam rupaan materil, baik memiliki motor, mobil mewah, rumah, uang yang banyak dan banyak lagi penopang lainnya. Namun penopang tersebut belum tentu menjadi atribut kebahagan dalam kita. Buktinya banyak orang yang kaya raya dan mempunyai kesuksesan belum tentu mendapat kebahagian. Al hasil kesuksesan tanpa kebahagian sangat berpotensi menjadi manusia yang terasing atau mengalami krisis kemanusiaan yaitu kegalauan. Ketiga, kehilangan keseimbangan. Terkadang kita seringkali menjadi tak seimbang dalam beberapa hal. Seperti terlalu mementingakan aspek fisikly dari pada aspek spiritual. Sibuk dengan aspek-aspek tertentu akan berakibat fatal, konsekuensi logis dari hal itu adalah kehilangan sesuatu hal yang mungkin itu merupakan hal terbaik dalam diri kita. Misalnya saja kita terlalu ambisius untuk mengejar target peningkatan kualitas hidup modern walaupun dengan mengorbankan kesehatan, keluarga ataupun sejenisnya. Hal seperti inilah menjadi sebuah pilihan yang menyakitkan untuk mengajarkan kepada kita tentang siapa diri kita sebenarnya. Keempat, berkativitas terlalu menggunakan otak kiri. Norman Drummond menjelaskan bahwa begitu banyak orang yang bekerja  dengan otak dan dengan mengabaikan hatinya. Hasilnya sering kali juga kesuksesan tanpa kesenangan, tujuan-tujuan yang dicapai tanpa makna prestasi yang sebenarnya. Hal seperti inilah yang membuat kita terasa galau manakala kerja otak kiri terlalu mengeneralisir sebuah persoalan kehidupan. Pada akhirnya manusia yang logis, analitis, non-emosional (tidak berperasaan) menjadi langkah dalam mengarungi kehidupan. Padahal hal itu menjadi problematis ketika kita menghilangkan sisi otak kanan kita. Ambil contoh adalah kita akan merasa terasing jika kita tidak mendapatkan hasil seperti orang lain miliki, padahal tujuan sesungguhnya pencapai kehidupan bukan sesuatu yang dimiliki tetapi lebih kepada kebahagian dengan melibatkan otak kanan seperti rasa gembira, simpati, cinta, kreatif non-analitis, empati, riang serta beberapa kepuasan terhadap diri kita (menghargai diri) setelah kita bekerja keras, bukan menghujatnya karena kita gagal dalam pencapaian.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar