Selasa, 15 Januari 2013

Siapa yang Sebenarnya Layak Disebut Pemimpin Bernyali?


Sebanyak empat pemimpin yang dinilai bernyali (dinilai oleh Mata Najwa dan tim-nya mungkin) dihadirkan dalam talkshow off air “Mata Najwa” yang berlangsung di Baruga AP Pettarani, kampus Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Jumat (21/12/2012). Mereka masing-masing Wakil Presiden RI periode 2004-2009 Jusuf Kalla, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, dan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad. Najwa Shihab selaku presenter begitu bersemangat menggali komentar-komentar dari empat tokoh tersebut. “Mata Najwa” Off Air dalam gelaran Metro TV On Campus ini dihadiri oleh ribuan mahasiswa dan masyarakat umum. Bahkan sejumlah mahasiswa terpaksa hanya mendengar dari luar gedung karena tidak kebagian tempat di dalam gedung. Kenapa ya, animo masyarakat dan mahasiswa begitu besar pada acara ini? Saya pribadi lewat siaran ulang yang saya saksikan beberapa waktu yang lalu lebih cenderung melihat ada banyak sebab kenapa mereka begitu tinggi minatnya dalam menghadiri acara ini.
Pertama, dua dari empat tokoh adalah tokoh yang berasal dari Makassar. Tampak jelas logat dan bahasa Makassar diucapkan oleh Jusuf Kalla namun tidak terlalu kentara diucapkan oleh Abraham Samad.
Kedua, mungkin memang ini adalah saat dimana masyarakat dan mahasiswa sudah sangat tinggi kerinduan dan hasratnya untuk melihat tampilnya tokoh-tokoh baru. Tokoh-tokoh yang dinilai bersih dan punya gebrakan.
Sayangnya pembahasan akan “nyali” tadi ujung-ujungnya dikaitkan dengan soal “nyapres”. Maklumlah, tiga dari empat tokoh yang dihadirkan disebut-sebut akan meramaikan bursa “nyapres” tahun 2014 nanti. Ketika sibuk bicara soal “nyapres” tinggallah Abraham Samad terbengong-bengong tidak diajak bicara. Ketiga tokoh yang masih “malu-malu” menyatakan akan “nyapres” tadi malah sibuk mendukung satu sama lain. Bahkan Dahlan Iskan sempat menyanyikan sebait lagu bertajuk “Aku rela…” jika akhirnya Jusuf Kalla maju sebagai calon presiden. Mahfud MD sendiri menyatakan belum saatnya bagi dia untuk maju sebagai capres namun dengan logat Madura yang akhirnya keluar juga tak membantah kenyataan yang terjadi bahwa telah banyak partai yang “melamar”nya.
Jusuf Kalla sempat melontarkan pernyataan yang agak sedikit melecehkan, menurut saya, ketika bicara soal orang nomor satu di negeri ini. Bagaimana mau berlari jika yang didepan masih berjalan. Walau akhirnya beliau sempat tersadar dan berusaha meralat ucapannya dengan menyatakan bahwa apa yang dilakukannya selama masih menjabat wapres dulu sudah didiskusikan dengan SBY dan apa yang dilakukannya mempunyai perintah tertulis dari SBY sebagai dasar tindakannya. Hanya saja orang yang melihat kalau kelihatannya wapres saat itu bergerak lebih cepat dari SBY.
Pernyataan Jusuf Kalla disambut oleh lelucon tak lucu dari Dahlan Iskan, “Kenapa ban belakang mobil lebih cepat aus dari ban depan? Karena ban belakang selalu berpikir bagaimana caranya melewati ban depan dan nggak pernah kesampaian”. Nggak lucu!
Memang tak dapat dipungkiri kalau pemerintahan SBY sangat banyak cacat dan celanya. Namun kadang orang lupa melihat sisi baiknya. Kita sebagai rakyat bisa memilih presiden secara langsung dalam suasana demokrasi yang “melebihi” Amerika. Rakyat Amerika saja tidak memilih langsung presidennya kok! Coba lihat pemilihan presiden Amerika yang lalu, berapa jumlah suara Obama dibanding Romney?
Apa yang dimiliki SBY yang tidak terlihat pada ketiga tokoh itu? Menurut saya adalah wibawa. Gaya bicara ketiganya, sikap bicara, dan tutur kata mereka menurut saya tidak bisa dikatakan sebagai pemimpin. Wibawa ini menurut saya justru dimiliki oleh Abraham Samad. Ketika Abraham Samad bicara, justru saya melihatnya sangat berwibawa. Tidak cengangas-cengenges atau sambil tergelak-gelak ketika bicara seperti yang diperlihatkan ketiga tokoh lainnya.
Saya pribadi juga ingin pemerintahan SBY segera berakhir pada saatnya nanti, namun saya juga ingin ada tokoh yang benar-benar baik yang bisa menggantikannya. Selama ini tokoh-tokoh yang “nyapres” tadi adalah tokoh-tokoh yang dibesarkan oleh media. Berbuat sedikit, langsung diekspos oleh media secara besar-besaran.
Hmm.. kembali ke soal bernyali tadi, siapa diantara ke-empatnya yang layak disebut paling bernyali? Menurut saya Abraham Samad yang paling pantas disebut pemimpin bernyali jika dibandingkan diantara empat tokoh tersebut.
Kalau saja tokoh-tokohnya diperluas dengan mengikutkan Jokowi, misalnya. Atau menambahkan Anis Baswedan. Atau Ahok sekalian. Tambah lagi dengan Tri Rismaharini (walikota Surabaya), Fadel Muhammad, dan masih banyak tokoh lainnya, pastilah saya akan kebingungan memilihnya. Seberapakah nyali mereka dibanding dengan gebrakan Jokowi-Ahok atau Fadel ketika masih memimpin di Gorontalo? Pemimpin bernyali adalah pemimpin yang melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan dalam posisinya saat itu secara benar, tidak peduli apakah itu nantinya akan diliput oleh media ataupun tidak.
Ada sedikit kebanggaan di hati saya ketika SBY bertemu Obama. Mereka bersanding podium dan berbicara. Saya membayangkan kalau ketiga tokoh tadi (Dahlan, Mahfud, atau JK) yang ada di podium itu, kok kayaknya nggak pas ya?
Yuk, cermati dengan baik latar belakang calon pemimpin kita. Media harusnya netral, bisa membuka lebar-lebar latar belakang si calon tanpa ada yang perlu ditutupi. Tapi kayaknya susah ya? Wong, sebagian juga pemilik media (geleng-geleng).
Kekuatan bangsa ini saat ini ada di kaum menengah. Sebagian besar kaum menengah bisa mengakses beragam informasi. Terbiasa “melahap” media cetak dan media elektronik. Ayo tunjukkan kalau kita (kaum menengah) nantinya bisa memilih pemimpin yang benar-benar baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar