Senin, 21 Januari 2013

Alkisah Harry Tanoe dan Surya Paloh


Alkisah, Harry Tanoe dan Surya Paloh akhirnya hom pim pah untuk menentukan siapa yang menjadi ketua umum parti Nasional Demokrat. Yang menang adalah yang tidak jadi dan yang kalah yang harus menjadi ketua. Terbalik? Yah, terbalik! Seperti membalikkan prilaku sejumlah pria di mushala yang terkucil di lantai basement mal-mal ibukota. Para pria yang sudah bersuci dan siap menjalankan ibadah clingak-clingukkiri kanan untuk mencari siapakah yang harus menjadi pemimpin sholat. Seakan-akan ketika menjadi imam menjadi sesuatu hal yang tidak pantas dan patut untuk dikerjakan.
Prilaku yang aneh ini umum terlihat di Indonesia. Ketika ada pemilihan kepala daerah (walikota, bupati dan gubernur) seakan-akan merekalah sosok terbaik dan paling tepat sesuai kompetensi yang dibutuhkan. Mereka berebutan memperebutkan satu slot,..hanya satu tempat saja. Segala macam trik, teknik dan strategi dilancarkan agar menjadi imam dapat terealisasi. Namun dalam waktu bersamaan sejumlah pria berebutan menjadi makmum saja karena merasa tidak pantas menjadi pemimpin sholat. Tanya kenapa?
Karena mindset kita sudah disetting oleh budaya bahwa sebaiknya menilai sesuatu dari indrawi, yang bisa dirasa, raba, diraih dan dinikmati secara material. Sesuatu yang immaterial seperti pahala, kebaikan akhirat dan balasan surga tidak bisa menjadi patokan. Hal inilah yang di ekspos dan dipublikasikan dengan agresive oleh para pengusung materialisme. Kaum hedonis dan pencari kenikmatan duniawi-lah yang kerap mengusung nilai-nilai ini. Mereka berlomba-lomba bisa menjadi pemimpin agar bisa menumpuk kekayaan secepat kilat. Aceng Fikri yang dulu hanya punya sedan BMW butut dalam waktu bilangan bulan memiliki kendaraan mewah.
Jadi kembali ke paragraf awal, alkisah Harry Tanoe dan Surya Paloh sangat serius untuk menolak menjadi ketua umum dan di sudut basement sebuah mall di ibukota, sejumlah pria dengan takzim dan rendah hati mengajukan dirinya menjadi imam shalat tanpa perlu memberikan ekspresi ketidakmauan untuk menjadi pemimpin shalat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar