Senin, 21 Januari 2013

Jakarta Banjir Salah Jokowi


Betul,… anda tidak salah membaca judul, Jakarta banjir salah Jokowi. Jakarta memang langganan banjir setiap tahun, seluruh penduduk Jakarta sudah sangat terbiasa dengan itu. Banjir juga terjadi di era Presiden Soekarno sampai era Soeharto. Bahkan pemerintah kolonial Belanda ratusan tahun lalu faham betul kondisi topografi dan perairan Batavia pasti mengundang tamu agung rutin setiap musim penghujan tiba. Tapi tahun ini tahun istimewa, tahun ini anda boleh menimpakan semua sebab kesalahan pada seorang pria bernama Jokowi. Jika anda kurang puas dengan itu, kita runut alasan apa saja yang melatarbelakanginya.
Pertama, tapi bukan yang paling utama, Jokowi telah menjadikan Jakarta kota maksiat. Anda ingat perayaan besar-besaran di penghujung 2012? Anda ingat berapa jumah panggung yang dia bangun? Anda ingat berapa ratus kendaraan yang dihadang Jokowi dari Bundaran HI?  Semuanya hanya untuk merayakan tahun baru 2013. Meskipun masih dipertanyakan, tapi agenda tahunan di negara seluruh dunia itu pastilah persembahan Jokowi untuk dewa gerbang waktu Romawi: Janus.
Mungkin benar juga kalau perayaan tahun baru ada sisi positif menggerakkan ekonomi, karena pertama kalinya perayaan tahun baru bersifat pasar rakyat. Iya juga sih Jokowi itu orang Jawa tulen, mungkin tidak tahu menahu urusan tahun baru Romawi. Tapi coba bandingkan dengan gubernur Jawa Barat, nggak mau datang beliau di acara begituan, walaupun acara serupa tetap meriah di Ibukota Jawa Barat. Makanya itu tetap saja itu tidak boleh, pesta yang diadakan Jokowi itu pastilah satu sebab datangnya bencana banjir besar.
Berikutnya, Jokowi terlalu aneh. Kepemimpinan Jokowi melanggar mainstream gaya pejabat. Sudah jadi undang-undang sejak zaman purbakala pejabat di tanah air kita ini setingkat dewa dari kahyangan. Naik turun kendaraan mewah, baju merk kota mode ternama, parfum dari Paris, sepatu buatan Italy, semua demi menjaga nama baik pejabat. Kalau bukan bergaya eropa lengkap dengan dasi, tetap ganteng-ganteng pakai baju koko. Pejabat kita juga sekolahnya tinggi-tinggi, ada yang lulusan Amerika, Canada, walau pun dari segi budaya keilmuan kalah jauh dari Al-Azhar, yang lulusan Arab Saudi juga nggak kalah mantep, Jokowi : made in Indonesia asli. Jokowi juga kurus, baju seadanya, keluar masuk kampung pakai sepatu kets, sidak ke kelurahan, mana ada juga Gubernur masuk got? Nggak mantesi jadi Gubernur. Memang tidak kelihatan ada hubungan langsung.
Yang ketiga, Jokowi itu keyakinannya nggak jelas, wagubnya juga kafir. Anda tahu Ahok itu tidak pernah wudhu? Masih ingat juga video Jokowi yang tidak bisa wudhu satu hari menjelang pemilu? Iya sih zaman sekarang jangankan editing video satu menit, dua jam pun gampang direkayasa, tapi ini indikasi lho, fakta nyata. Bandingin lah sama Presiden Mesir, Jokowi mah jauh! Sejauh Jakarta-Kairo.
Yang keempat, Jokowi itu nggak pake otak melarang orang shodaqoh dan nolong orang kebanjiran. Memang betul himbauan Jokowi melarang pendirian posko. Katanya sih biar memudahkan koordinasi, satu komando di bawah satkorlak, SAR, dan PMI supaya lebih terarah, terus masyarakat kalau mau membantu bisa di bawah koordinasi mereka.
Mau nolong, mau bantu, mau-mau gue dong, itu kan perbuatan baik. Lagipula kalau di bawah koordinasi mereka kan nggak bisa bawa bendera partai. Lah,… kapan lagi musim kampanye terbaik kalau bukan musim bencana? Orang Indonesia kan nggak enakan, berat hati kalau sudah hutang budi. Nggak usah capek teriak-teriak suruh coblos partai, mumpung banyak yang kesusahan tolong aja sambil bawa bendera, kalau tidak nyoblos partai yang bawa bendera ya keterlaluan namanya. Nah lho,… gimana ceritanya kalau kampanye murah itu dilarang? Mobil partai pendukung Jokowi aja bersliweran di area banjir, macam mana partai lain dengan tradisi kampanye bencana yang panjang tidak boleh? Tidak tahu lah siapa Ketua DPP partai pendukung Jokowi yang meluncurkan ambulans itu, protesnya sama Jokowi aja yang kelihatan.
Yang terakhir tapi sepertinya yang paling utama, Jokowi itu serakah. Ya,… dia terlalu populer. Ke mana-mana dikuntit wartawan, ke mana-mana diikuti reporter TV. Waaahhh,.. nggak fair ini, benar-benar tidak adil ini. Masa iya seluruh pemberitaan punya Jokowi? Terus kapan pemberitaan buat tokoh partai kita? Kapan pemberitaan buat partai kita? Kapan berita TV menyorot bendera partai kita? Kita sudah capek-capek, ikhlas sekali menurunkan ribuan massa, masa iya nggak ada TV yang nyorot. Ini ikhlas lho, ikhlas 100%! Tidak seperti Jokowi yang pencitraan.
Andai saja seluruh komponen negara (termasuk partai mana pun) bisa memahami bahwa inti agama, pergerakan politik dan sosial adalah mewujudkan masyarakat berakhlak dengan cara-cara berakhlak. Tidak asal menyalahkan, tunjuk hidung si anu tanpa merunut akar masalah dan mencoba memberi solusi terbaik, yakin sekali bencana banjir ini tidak akan terulang. Sebab negara-negara yang konon “tidak beragama”, seperti Jepang misalnya, justru tidak mencicipi banjir karena bisa menerapkan hal-hal baik yang sebenarnya ada dalam setiap ajaran agama. Agama kita pasti 100% benar, tapi kita sendiri sebelumnya harus menjadi contoh terbaik untuk kebenaran itu. Dan garda terdepan kebenaran sejati adalah akhlak.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar