Senin, 21 Januari 2013

Indonesia Seburuk Wajah Sinetronnya


Kita adalah apa yang kita tonton, apa yang kita baca, dan apa yang kita makan. Maka dari itu saya mengerti ada beberapa orang yang sangat menikmati menikmati sinetron, dan beberapa orang lainnya memaki-maki kenapa sinetron masih bersileweran di stasiun tv kita. Kendati isi dari tayangan sinetron kita cenderung membodohi dan asal-asalan. Padahal saya tahu, dalam benak mereka, orang-orang yang menikmati sinetron itu tahu kalo sedang dibodoh-bodohi. Lucu sekali ya cara berpikir mereka. Tahu dibodohi tapi masih tetap mau dibodohi.
Apa kalau ada tayangan yang lebih bermutu mereka akan tetap beralih tayangan? Dengan sangat menyesal saya akan mengatakan mungkin tidak. Orang-orang yang suka tayangan sinetron itu tetap akan mencari tayangan yang menurut kita tidak bermutu. Ya selera mereka akan tetap seperti itu. Ada yang berpendapat selera itu terpengaruh dari tingkat pendidikan dan lingkungan pergaulan. Tapi bagi kebanyakan orang selera rendah itu bisa juga dari cara hidup dan kebiasaan. Kalo ada orang yang terbiasa membaca tulisan murahan, dia akan seperti itu selamanya.
Apakah bisa dirubah? Mmhh mungkin bisa tapi akan sangat lama, karena itu saya berpikir betapa buruknya selera masyarakat kita pada umumnya. Kebanyakan, ya karena dari dulu kita dicekoki tayangan yang sama tidak bermutunya.
Saya cuman merasa prihatin. Ya, memang ada beberapa dari kita, minoritas, yang tidak suka betapa buruknya isi dari tayangan dari tv nasional. Tapi berapa banyak? Alih-alih protes di media social atau di blog tetap tidak ada yang berubah. Karena kita kalah jumlah dari orang-orang yang seleranya memang buruk.
Saya sudah lama tidak melihat tv nasional. Apakah saya tidak nasionalis? Saya juga baru tahu heboh banget banjir di jakarta dari social media. I don’t care.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar