Rabu, 26 September 2012

Pengaruh Siaran Televisi Terhadap Kenakalan Remaja


I.     BIDANG KAJIAN
Mempelajari bentuk kenakalan remaja yang dipengaruhi oleh siaran televisi dan dampak-dampak yang ditimbulkan serta cara pemecahan masalah tersebut.


II. PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Di sepanjang kehidupannya, manusia melalui berbagai masa dan tahapan. Tidak  diragukan lagi, tidak ada satupun masa yang lebih manis dan indah seperti masa yang dinikmati oleh anak-anak. Orang-orang dewasa senantiasa  mengenang masa kecil mereka dengan penuh rasa suka cita dan mereka akan menceritakan peristiwa dan kenangan masa kecil itu dengan penuh semangat. Permainan, imajinasi, rasa ingin tahu, dan ketiadaan beban  hidup, membuat  masa kanak-kanak menjadi manis dan menarik buat semua orang. Namun, dewasa ini, para ahli psikologi dan sosial meyakini, era kanak-kanak di dunia sedang berhadapan dengan keruntuhan dan akan tinggal menjadi sejarah saja. Di masa yang akan datang, anak-anak di dunia tidak akan lagi menikmati masa kanak-kanak yang manis, yang seharusnya menjadi masa terpenting dalam membentuk kepribadian mereka.
Di antara berbagai media massa, televisi memainkan peran yang terbesar dalam menyajikan informasi yang tidak layak dan terlalu dini bagi bagi anak-anak. Menurut para pakar masalah media dan psikologi di balik keunggulan yang dimilikinya, televisi berpotensi besar dalam meninggalkan dampak negatif di tengah berbagai lapisan masyarakat, khususnya anak-anak. Memang terdapat usaha untuk menggerakan para orangtua agar mengarahkan anak-anak mereka supaya menonton program atau acara yang dikhususkan untuk mereka saja, namun pada prakteknya, sedikit sekali orangtua yang memperhatikan ini.
Menurut sebuah penelitian yang telah dilakukan di Amerika, banyak sekali anak-anak yang menjadi pemirsa program-program televisi yang dikhususkan untuk orang dewasa. Anak-anak dihadapkan dengan pembunuhan, kekerasan, penculikan, penyanderaan, amoral dan asusila, keruntuhan moral, budaya dan sosial. Dampak dari problema ini adalah timbulnya kekacauan dan kerusakan pada kepribadian anak-anak dan akhirnya kepribadian kanak-kanak itu menjadi terhapus  dan hilang sama sekali.
Neil Postman dalam bukunya The Disappearance of Childhood (Lenyapnya Masa Kanak-Kanak), menulis bahwa sejak tahun 1950, televisi di Amerika telah menyiarkan program-program yang seragam dan anak-anak, sama seperti anggota masyarakat lainnya, menjadi korban gelombang visual yang ditunjukkan televisi. Dengan menekankan bahwa televisi telah memusnahkan dinding pemisah antara dunia kanak-kanak dan dunia orang dewasa, Neil Postman menyebutkan tiga  karakteristik televisi. Pertama, pesan media ini dapat sampai kepada pemirsanya tanpa memerlukan bimbingan atau petunjuk. Kedua, pesan itu sampai tanpa memerlukan pemikiran. Ketiga, televisi tidak memberikan pemisahan  bagi para pemirsanya, artinya siapa saja dapat menyaksikan siaran televisi Masalah kenakalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di Indonesia. Sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin berkembang, maka arus hubungan antar kota-kota besar dan daerah semakin lancar, cepat dan mudah. Dunia teknologi yang semakin canggih, disamping memudahkan dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, disisi lain juga membawa suatu dampak negatif yang cukup meluas di berbagai lapisan masyarakat.
Diantara dampak negatif dari perkembangan media massa dewasa ini, adalah pengaruh siaran TV terhadap kenaikan tingkat kenakalan remaja. Untuk itu makalah ini berusaha mengupas permasalahan tersebut melalui kajian sederhana kami.


III. PERUMUSAN DAN PEMECAHAN MASALAH
  1. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan sebagaimana tersebut didepan, maka rumusan permasalahan yang diajukan dalam proposal ini adalah :
“Bagaimana dampak siaran TV terhadap kenakalan remaja dan bagaimana cara mengatasinya ?”
  1. Pemecahan Masalah
Untuk mendapatkan manfaat yang besar dari TV dan terhindar dari bahaya yang bisa ditimbulkannya, keluarga Indonesia perlu mengontrol anaknya. Dengan cara antara lain: Pertama, membangun komitmen bersama untuk menentukan jam atau hari bebas TV dalam keluarga sehingga anak menghargai makna waktu dalam keluarga: waktu sholat, belajar, makan, bercengkerama tanpa intervensi TV. TV tak menghantui aktivitas penting dalam keluarga. Tanamkan kedisiplinan untuk menyikapi TV seperti menyikapi kegiatan hidup lain yang selalu punya awal dan akhir. Kedua, kontrol terhadap TV dapat disiasati dengan menempatkannya tidak di tempat sentral. Tapi di sudut atau pojok rumah yang bisa mengurangi selera untuk menyalakannya. Ketiga, acara yang menambah wawasan ilmu pengetahuan, agama, politik, dan budaya perlu menjadi agenda bersama dalam keluarga. Terakhir, sepakati acara TV apa saja yang perlu dijadikan musuh bersama. Jadi, jangan posisikan keluarga kita sebagai tempat sampah bagi acara TV yang dibuat tanpa pertimbangan estetika, etika dan logika. Jangan biarkan rohani anak kita lelah dibiusnya.
Adapun beberapa solusi yang bisa dilakukan oleh para orang tua untuk membendung pengaruh televisi adalah sebagai berikut :
a. Beri batasan waktu untuk menonton televisi. Kapan ia boleh dan kapan waktunya ia harus berhenti menonton televisi. Untuk anak prasekolah, kondisi tersebut mungkin agak sulit karena pada usia tersebut anak sudah mulai bisa membantah. Cobalah membuat kesepakatan bersama mengenai batasan-batasannya. Misalnya jenis tayangan yang ia inginkan dan lamanya waktu menonton. Untuk batita, tetapkan batasan waktunya, yaitu cukup satu jam sehari. Sedangkan untuk usia prasekolah boleh menonton televisi kurang dari dua jam sehari.
b. Manfaatkan waktu yang sedikit tersebut sekaligus sebagai sarana belajar anak. Duduklah bersama anak dan diskusikan isi tayangan pilihannya. Siapkan kegiatan alternatif pengganti agar anak tidak lagi merengek dan kembali menonton televisi.
c. Tanamkan nilai-nilai keluarga secara berulang agar anak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya sehingga anak lebih percaya diri menghadapi teman-temannya.
d. Usahakan TV hanya menjadi bagian kecil dari keseimbangan hidup anak. Yang penting, anak-anak perlu punya cukup waktu untuk bermain bersama teman-teman dan mainannya, untuk membaca cerita dan istirahat, berjalan-jalan dan menikmati makan bersama keluarga. Sebenarnya, umumnya anak-anak senang belajar dengan melakukan berbagai hal, baik sendiri maupun bersama orang tuanya.
e. Mengikutsertakan anak dalam membuat batasan. Tetapkan apa, kapan, dan seberapa banyak acara TV yang ditonton. Tujuannya, agar anak menjadikan kegiatan menonton TV hanya sebagai pilihan, bukan kebiasaan, ia menonton jika perlu saja. Hal ini akan mengajarkan pada anak bahwa mereka harus memilih (acara yang paling digemari),menghargai waktu dan pilihan,
Masalah jenis program yang ditonton sangat penting dipertimbangkan sebab itu menyangkut masalah kekerasan, adegan seks, dan bahasa kotor yang kerap muncul dalam suatu acara. Kadang ada acara yang bagus karena memberi pesan tertentu, tetapi di dalamnya ada bahasa yang kurang sopan, atau adegan - seperti pacaran, rayuan - yang kurang cocok untuk anak-anak. Maka sebaiknya orang tua tahu isi acara yang akan ditonton anak. Usia anak dan kedewasaan mereka harus jadi pertimbangan. Dalam hal seks, orang tua sebaiknya bisa memberi penjelasan sesuai usia, kalau ketika sedang menonton dengan anak-anak tiba-tiba nyelonong adegan yang menjurus kepada pornografi atau.
Masalah bahasa pun perlu diperhatikan agar anak tahu mengapa suatu kata kurang sopan untuk ditiru. Orang tua bisa menjelaskannya sebagai ungkapan untuk keadaan khusus, terutama di TV untuk mencapai efek tertentu. Dua jam sudah cukup Kapan dan berapa lama anak boleh menonton TV, semua itu tergantung pada cara sebuah keluarga menghabiskan waktu mereka bersama, Bisa saja di waktu santai sehabis makan malam bersama, atau justru sore hari.


IV. TUJUAN PENELITIAN
Tujuan dari penelitian ini adalah mengupas tentang kenakalan remaja terhadap macam, dampak, beserta penyimpangan-penyimpangan yang terjadi akibat pengaruh siaran televisi.


V. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk berbagai hal, yaitu :
  1. Menambah pengetahuan penulis mengenai pengaruh yang timbul akibat tayangan berita di televisi terhadap anak-anak dan remaja.
  2. Mengkaji alasan bahwa siaran berita di televisi berpengaruh terhadap anak-anak dan remaja.
  3. Sebagai bahan masukan dan pelajaran bagi para orangtua dalam upaya pencegahan terjadinya perubahan perilaku yang menyimpang pada anak-anak dan remaja sebagai akibat dari adanya tayangan berita di televisi.


VI. KAJIAN PUSTAKA
Penyimpangan dan kenakalan yang dilakukan oleh remaja cenderung berupa tindakan yang beresiko, baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Perilaku beresiko tersebut, umumnya, berdampak ke kondisi kesehatan diri dari si remaja yang bersangkutan. Ada kebutuhan bagi kita untuk terlebih dahulu meninjau beragam bentuk perilaku beresiko (kenakalan atau penyimpangan) yang umum terjadi pada remaja.
Escobar-Chaves dan Anderson mencoba menjabarkan lima tipe perilaku beresiko anak, di antaranya adalah obesitas (kelebihan berat badan), merokok, minum-minuman beralkohol, seks bebas, dan kekerasan. Studi yang dilakukan oleh Escobar-Chaves dan Anderson ini merujuk pada kondisi sosial masyarakat Amerika yang telah terkontaminasi dengan budaya konsumerisme berbagai produk, tak terkecuali konsumsi media, khususnya media elektronik. Hasil penelitian memaparkan bahwa terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwa konsumsi terhadap media elektronik berkontribusi memunculkan persoalan lima perilaku beresiko (kenakalan) pada remaja. Bukti sederhana teridentifikasi pada kasus obesitas, bukti sedang pada kasus merokok dan minuman beralkohol, dan bukti kuat terdapat pada kasus kekerasan dan seks bebas.
Masalah tentang kecenderungan anak-anak dan remaja dalam menghabiskan waktu luangnya dengan melakukan kegiatan yang beresiko telah menjadi perdebatan panjang, terutama di Amerika yang bahkan menjadi isu nasional, sejak tahun 1920. Studi yang dilakukan sejak tahun itu menunjukkan bahwa angka 40% hingga 50% dari total waktu yang dimiliki oleh remaja Amerika merupakan waktu luang. Hal tersebut berbeda dengan perkiraan saat ini untuk negara-negara industri lain, misalnya Asia Timur, yang hanya mencapai angka 25% hingga 35% sementara di dataran Eropa hanya 35% hingga 45%. Akar masalah anak-anak dan remaja di dataran Amerika telah disadari dari studi-studi yang dilakukan, yang menunjukkan bahwa sangat kurangnya waktu bagi mereka bersama orang tua atau menyelesaikan tugas sekolah (PR) di rumah. Anak-anak dan remaja Amerika lebih banyak menghabiskan waktu dengan mengonsumsi media, terutama televisi. Hasil studi menunjukkan bahwa rata-rata remaja Amerika menghabiskan waktu untuk menonton televisi selama 1,5 hingga 2,5 jam per hari, dan lebih dari 3 atau 4 jam per hari untuk usia yang lebih muda, dengan muatan siaran berupa entertainment TV yang sangat berkaitan dengan persepsi obesitas serta persinggungan dan perubahan (konstruksi oleh media) atas norma-norma seksual.
Jika kita merujuk pada teori media (televisi) yang menekankan bentuk dari tayangannya, remaja cenderung memilih program televisi yang sesuai dengan kepentingan dan kebutuhan mereka (Rosengren, Wenner, & Palmgreen, 1985). Hasil studi yang telah dilakukan oleh Anderson, Huston, Schmitt, Linebarger, Wright dan Larson (2001) yang mencari keterkaitan antara penggunaan media terhadap perilaku anak-anak dan remaja menunjukkan bahwa responden menghabiskan total waktu 11.13 jam per minggu, dengan lebih memilih program enterteinmen dibandingkan program TV yang berisikan informasi. Index hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa dalam seminggu, rata-rata remaja hanya menggunakan waktu selama 2 jam per minggu untuk menyaksikan tayangan dokumenter atau berita. Sementara itu, tabel korelasi menunjukkan bahwa 3 jam dari total 11 jam per minggu digunakan oleh remaja untuk menonton materi melalui VCR, dan hanya menggunakan rata-rata waktu sekitar 2.75 jam per minggu untuk mendengarkan berita di radio.
Melihat dari kecenderungan remaja yang memilih isi materi yang mereka suka, dapat ditarik dugaan bahwa perilaku atau kenakalan yang mereka lakukan merujuk pada materi yang mereka tonton. Bagaimana pun, efek visual atau suara yang mereka dapatkan memiliki andil dalam membentuk pola berpikir dan tingkah laku mereka.
Dugaan ini didasarkan pada 3 hipotesa awal Laramie D. Taylor (2005), yang apabila diringkas menjadi satu hipotesa, yakni individu yang melihat konten televisi yang ditandai dengan pesan seksual (baik adegan maupun isi yang hanya berbicara tentang hal-hal berbau seksual) cenderung lebih permisif dan mendukung perilaku seksual dibandingkan dengan individu yang tidak menyaksikan konten televisi yang tidak memiliki pesan seksual. Penelitian kemudian dilakukan terhadap 188 responden (122 laki-laki dan 66 perempuan). Hasil penelitian menyebutkan bahwa konten televisi memang tidak berpengaruh terhadap mereka yang tidak memiliki keyakinan realistis terhadap materi TV (menganggap adegan televisi hanyalah rekayasa), tetapi menunjukkan hubungan yang signifikan untuk persoalan materi TV yang membicarakan hal-hal yang berbau seksual (talk about sex). Hal ini mengindikasikan bahwa televisi beserta materinya memiliki pengaruh yang potensial dalam membentuk cara berpikir remaja tentang seks.
Empat tahun sebelumnya, studi lain juga dilakukan oleh Sarah Eschholzl dan Jana Bufkin (2001). Mereka mencoba melihat hubungan antara penggambaran tindakan kejahatan (baik pelaku dan korban) dalam film terhadap pembangunan nilai-nilai yang menerima kekerasan sebagai salah satu sarana untuk mencapai maskulinitas. Dan hasil studi itu menunjukkan bahwa maskulinitas memiliki hubungan yang sangat signifikan terhadap tindakan kekerasan dan viktimisasi dalam film. Peneliti menyimpulkan bahwa beberapa individu, terutama remaja laki-laki, dapat menjadikan citra dari media (dalam hal ini adalah film) sebagai sumber referensi untuk mengonstruksi persoalan gender, dan hasil yang terbangun kemudian dapat berupa kekerasan dan tindakan kejahatan
Dari beberapa uraian tinjauan pustaka yang telah dilakukan, dapat dilihat bahwa media, khususnya televisi, sangat erat hubungannya dengan keseharian remaja. Pemilihan atas tayangan didasari oleh minat dan kebutuhan si remaja yang ingin menonton, dan isi tersebut juga serta merta dapat mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku dari remaja, yang dapat berujung pada peningkatan pola kenakalan dan agresivitas remaja.


VII. RENCANA PENELITIAN
1.  Subjek penelitian
Subyek yang akan kami teliti adalah siswa SMA dan juga Mahasiswa baru jurusan Sosiologi angkatan 2011.
2.  Tempat Penelitian
Lokasi penelitian kami adalah di SMA Negeri 1 Krian dan Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga Surabaya.
3.  Waktu Penelitian
Waktu penelitian akan dilakukan sekitar bulan November – Desember.


VIII. METODELOGI PENELITIAN
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah analisis isi dengan mengunakan statistik deskriptif. Dimana metode ini menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang ini berdasarkan fakta-fakta yang tampak dan sebagaimana adanya.
Penelitian desktiptif hanyalah memaparkan situasi atau peristiwa penelitian, tidak mencari atau menjelaskan hubungan, tidak menguji hipotesis atau membuat prediksi. Selain itu, metode ini menitikberatkan pada observasi dan suasana alamiah. Peneliti hanya bertindak sebagai pengamat, hanya membuat kategori perilaku, mengamati gejala, dan mencatat dalam buku observasinya.


IX. BIAYA PENELITIAN
Angggaran biaya penelitian ini diperoleh dari iuran anggota dengan rincian sebagai berikut:
A.  Pemasukan
Iuran anggota 8 x Rp. 5.000,- = Rp. 40.000,-
B.  Pengeluaran
  1.  Penyusunan proposal             : Rp. 10.000,-
  2.  Kertas folio 1 pack                 : Rp. 20.000,-
  3.  Jilid buku                               : Rp.   2.000,-
  4. Lain-lain                                  : Rp.   8.000,-
JUMLAH                                           : Rp. 40.000,-



X. PERSONALIA PENELITI
Penelitian ini melibatkan Tim peneliti, identitas dari Tim tersebut adalah :
1.    Nama                                      : Faisal Ahmad Fani
            NIM                                       : 071114004
2.    Nama                                      : Yudika Tunggal T
            NIM                                       : 071114078
3.    Nama                                      : Muhammad Zulfahmi
            NIM                                       : 071114061
4.    Nama                                      : Donny Afrizal A
            NIM                                       :071114077
5.    Nama                                      : Esty Okta Suryaninghar
            NIM                                       : 071114036
6.    Nama                                       : Donna Ayu Anggraeny
NIM                                        : 071114070
7.    Nama                                       : Arzena Devitasari
NIM                                        : 071114034
8.    Nama                                       : Zarheta Wahyu T
NIM                                        : 071114079

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar