Rabu, 26 September 2012

Mudik Lebaran


Pertumbuhan jumlah penduduk yang semakin besar terutama yang berada di Pulau Jawa sangat berpengaruh terhadap kebiasaan masyarakat yang ada di indonesia khususnya dalam hal mudik. Mudik adalah budaya unik yang dimiliki Indonesia. Definisinya kurang lebih kegiatan perantau untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan misalnya menjelang Idul Fitri atau Lebaran. Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, mudik boleh dikatakan sebuah tradisi yang mutlak harus dilaksanakan. Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya juga sowan dengan orangtua. Dari segi bahasa, mudik diambil dari kata “udik” yang berati kampung atau jauh dari kota. Entah sejak kapan tradisi mudik pulang kampung di Tanah Air dimulai. Namun, menurut sejarahnya, mudik merupakan tradisi primordial masyarakat petani Jawa. Mereka telah mengenal tradisi ini jauh sebelum berdiri Kerajaan Majapahit dengan tujuan untuk membersihkan pekuburan dan doa bersama kepada dewa-dewa di kahyangan untuk memohon keselamatan kampung halamannya yang rutin dilakukan sekali dalam setahun. Kebiasaan membersihkan dan berdoa bersama di pekuburan sanak keluarga sewaktu pulang kampung sampai saat ini masih banyak ditemukan di daerah Jawa.
Mudik sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi atau lapangan pekerjaan terutama yang ada di perkotaan, karena setiap orang yang mudik pada arus balik biasanya membawa saudara – saudaranya yang berada di kampung menuju kota dengan tujuan memperoleh pekerjaan disana karena lapangan pekerjaan di perkotaan lebih menjanjikan dari pada di pedesaan. Padahal justru yang terjadi adalah sebaliknya, bagi mereka yang tidak mempunyai skiil atau ketrampilan akan menambah jumlah pengangguran yang ada, untuk saat ini yang lebih diprioritaskan adalah sumber daya manusia handal dalam berbagai bidang juga jenjang pendidikan yang sangat berpengaruh dalam penentuan setiap jabatan di suatu perusahaan. Selain itu masyarakat urban juga dipaksakan untuk dapat menerima dan menjalankan tatanan sosial yang sebenarnya bertentangan dengan kodratnya, dimana hubungan sosial di perkotaan merupakan tempat dalam mengais rejeki, berbeda dengan solidaritas sosial yang ada di pedesaan, yang lebih menekankan ikatan emosional, moralitas dan kekerabatan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar