Rabu, 26 September 2012

Live History Tukang Becak

            Manusia mengalami perjalanan nasib yang berbeda dalam hidupnya. Tak ada yang ingin hidup susah. Namun, jika perjuangan yang telah dilakukan tak bisa mengubah nasib seseorang, maka cara terbaik adalah menikmati hidup apa adanya.
            Pak Sadimin (35 tahun) asal Purworejo telah mengecap manis dan pahitnya kehidupan. Dalam kurun waktu 10 tahun, hidupnya tak mengalami perubahan. Ia masih setia dengan profesinya sebagai tukang becak. Bapak satu putera yang telah bercerai dengan istrinya ini dulunya adalah penjual siomay. Keinginan mencari pengalaman lain membuatnya menjadi tukang  becak. Dengan penghasilan rata-rata antara Rp 10.000 - Rp. 15.000 perharinya, tukang becak yang biasa mangkal di depan RSUD dr. Soetomo ini harus menyisihkan Rp 3000,00 untuk disetorkan ke pemilik becak. Sedang untuk tempat tinggal dan mandi, ia tak begitu ambil pusing. Ia biasa tidur dalam becaknya. Untuk mandi, ia lakukan di sumur umum.
            Sedang Pak Sastro (70 tahun) mempunyai cerita yang agak berbeda dengan Pak Sadimin. Laki-laki yang masih segar di usia senjanya telah menjadi tukang becak selama 35 tahun. Ia yang mengaku asal Purwokerto ini dulunya adalah kuli pelabuhan. Karena begitu besar resiko yang akan ditangungnya jika bekerja sebagai kuli pelabuhan, anaknya menyuruhnya berhenti menjadi kuli pelabuhan dan mencari pekerjaan lain. Akhirnya ia pun menjadi tukang becak yang biasanya mangkal di depan RSUD dr. Soetomo. Rata-rata Pak Sastro mendapat uang Rp 5000 sehari. Kecil memang! Tapi itu cukup mencukupi kebutuhannya dan isrinya. Sedang anak-anaknya sudah menikah dan mencari nafkah sendiri. Pendapatan itu sudah bersih. Artinya tidak dipotong untuk membayar uang sewa karena becak yang dikendarainya adalah miliknya  sendiri. Dengan santai dan nerimo ia menjalani hidup yang digariskan untuk dijalaninya.
            Kisah-kisah duka banyak juga mewarnai kehidupan para tukang becak. Pak Suparman (33 tahun), tukang becak asal Purwodadi ini mengalami sebuah peristiwa yang tak bisa ia lupakan selama hidupnya. Pada tahun 1998 ketika krisis moneter mencapai puncaknya, dia mengantar seorang penumpang. Sesampai di tempat yang ditujunya, penumpang itu memintanya masuk ke rumah untuk mengambil bayarannya. Ia pun memenuhi permintaan itu. Sayangnya, setelah ia ke luar rumah, ia tak lagi menemukan becaknya. Becaknya raib tak berbekas dicuri orang. Bapak dua putera ini mau tak mau jarus mengganti becak tersebut. Tapi, ia tak kapok menjadi tukang becak. Laki-laki yang dulunya petani (sekarang pekerjaan itu dilanjutkan istrinya) tetap menekuni profesinya sebagai tukang becak dan ia akan pulang ke Purwodadi satu bulan sekali untuk memberikan jatah kepada isterinya sebesar Rp 300.000 sekali pulang. Sama dengan Pak Sadimin, Pak Suparman juga harus menyisihkan hasil narik becaknya sebesar Rp 3000 untuk disetorkan ke pemilik becak.
            Kisah lain dimiliki oleh Pak Sutiyo (50 tahun), tukang becak yang mangkal di Jl. Karang Menjangan jadi tukang becak selama 30 tahun. Dulunya ia adalah tentara tapi ketika diangkat dia langsung ditugaskan di Ambon. Penugasan ini membuatnya mengundurkan diri sebagai tentara. Pilihan ini ia lakukan karena menjadi tentara besar resikonya. Kalau sekarang ia menjadi tukang becak, itu bukan pilihannya. Tapi, ketidakpunyaan ketrampilan membuatnya menjalani profesi itu.
            Pak Jumono (52 tahun) asal Yogya menceritakan masa lalunya sebagai buruh pabrik sebelum bekerja sebagai tukang becak. Ia dulu bekerja di pabrik Kain di Tangerang. Karena kena PHK, ia menjadi tukang becak sampai saat ini. Dua belas tahun sudah ia menjalani kehidupan sebagai tukang becak. Usia tua menggerogoti kekuatannya tapi ia masih bisa menyekolahkan anaknya hingga lulus STM. Laki-laki ini sehari rata-rata mendapat uang Rp 20.000. Ia cukup senang menjalani profesi ini karena uang yang didapatnya bisa langsung digunakan. Bandingkan dengan kerja di pabrik yang harus dua minggu atau satu bulan baru kemudian gajian. Bapak berputera enam ini biasa mangkal di Jl. Karang Menjangan.
            Kisah-kisah di atas adalah kisah nyata yang tak semua orang menikmatinya. Tapi, harapannya kita bisa bercermin dari kehidupan mereka. Kalau kita mendapat hidup lebih enak dari mereka alangkah baiknya kalau kita bersyukur kepada Allah dengan menyisihkan sedikit harta kita untuk orang-orang yang kurang beruntung seperti mereka.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar