Rabu, 26 September 2012

Determinisme Kebudayaan

Determinisme berasal dari bahasa Latin determinare yang artinya menentukan atau menetapkan batas atau membatasi. Secara umum, pemikiran ini berpendapat bahwa keadaan hidup dan perilaku manusia ditentukan oleh faktor-faktor fisik geografis, biologis, psikologis, sosiologis, ekonomis dan keagamaan yang ada. Determinisme juga berpegangan bahwa perilaku etis manusia ditentukan oleh lingkungan, adat istiadat, tradisi, norma dan nilai etis masyarakat. Istilah ini dimasukkan menjadi istilah filsafat oleh William Hamilton yang menerapkannya pada Thomas Hobbes. Penganut awal pemikiran determinisme ini adalah demokritos yang percaya bahwa sebab-akibat menjadi penjelasan bagi semua kejadian. Beberapa pengertian antara lain :
  1. Determinisme beranggapan bahwa setiap kejadian pasti sudah ditentukan.
  2. Semua kejadian disebabkan oleh sesuatu.
  3. Segala sesuatu di dunia bekerja dengan hukum sebab-akibat.
  4. Sudut pandang filsafat alam melihat determinisme sebagai teori tentang satu-satunya determinasi dari setiap peristiwa alam.
  5. Contoh bentuk pemikiran determinisme: Orang yang bertubuh lemah, geraknya lebih lamban dari orang yang bertubuh kuat; Orang yang berasal dari keluarga harmonis diharapkan dapat menjadi manusia yang lebih seimbang daripada mereka yang berasal dari keluarga yang kacau.

Budaya Korupsi sudah lama terbentuk di Bumi Nusantara, di waktu masih jayanya Para Raja-Raja sudah ada “Budaya Feodalisme dan Kapitalisme” itu adalah demikian. Masya Allah!!! Mengapa??? Mengapa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dipimpin dengan system “Feodalisme dan Bourjouisme”??? Itulah kenyataannya, tiga puluh dua tahun Bangsa Republik dipimpin dalam realita gaya kerajaan, sehingga terbentuklah opini “ASAL BAPAK SENANG”. Benar atau tidaknya saya tidak tahu, kala itu ada fenomena di masyarakat bila kita ingin jabatan tertentu dengan bersedia membayar “Uang Pangkal” dan “Upeti” akan mendapat dan meraih kedudukan dan jabatan tertentu (misalnya Menteri; Dirjen; Irjen). Betulkah demikian??? Ingin bukti, tanyakan saja kepada Pondasi Gedung Tinggi. Mentalitas Korupsi sudah membudaya, bila tidak ikut memeriahkan budaya, bersiap-siaplah memasuki pintu kesulitan. Dari kita berurusan membuat KTP, SIM, Pasport, Pindah Alamat dan Pinjam Uang ke bank (Kredit) selalu menemui Mental-Mental Tikus dari oknum-oknum bersangkutan. Saat itu mau mengelak? Tidak Mungkin!!! Selesainya KTP mungkin bisa berbulan-bulan, tetapi bila ada minyak pelicin, satu hari saja selesai. Baru setelah adanya Masa Reformasi, sedikit demi sedikit orang mulai kembali kepada kesadarannya. Budaya Korupsi termakan oleh ulat Budaya Malu yang memakan daun sedikit demi sedikit. Mengapa ungkapannya demikian??? Karena pada dasarnya pelaku korupsi (koruptor) adalah bagaikan Ulat yang memakan daun sehingga tanaman kehilangan daunnya, yang lambat laun matilah pohonnya. Kepindahan tangan kepemimpinan dari Mr. Soeharto kepada Mr. Habibie ada kehilangan momentum Kharisma Kepemimpinan, sehingga pada masa itu terjadilah pemindahan keuangan di Perbankan Nasional di atas normal. Pelakunya adalah mereka yang khawatir tidak dapat lagi menggunakan hasil dari korupsinya. Terjadilah tekanan Mata Uang Dollar terhadap Rupiah yang amat luar biasa (Rupiah Melemah). Banyak Dana Indonesia tersenyum di Singapura dan Hongkong !!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar