Sabtu, 02 Maret 2013

Partai Agama (Belum) Tentu Bebas dari Dosa


Nenek moyang manusia (Adam dan Hawa) pernah berlumuran dosa dan pembangkangan pada kehendak Ilahi. Hingga terusir dari surga dan terdampar di bumi. Namun pada titik itulah mereka jadi manusia seutuhnya. Mahluk pendosa. Jadi, kita punya suri tauladan yang sempurna!
Apakah jika mahluk pendosa masuk partai agama sifat pendosanya otomatis hilang begitu saja, berubah jadi malaikat? Lihatlah kenyataannya. Ia tetap manusia. Maka, jangan heran ketika tokoh partai agama tahu-tahu ketangkap terima suap, dari korupsi alih fungsi hutan lindung (Al Amin Nasution, kader PPP) sampai dugaan korupsi impor sapi (LHI Cs, Presiden PKS).
Di Indonesia ternyata terbukti bahwa kader-kader partai agama bisa juga kedapatan korupsi lalu berurusan dengan penegak hukum. Persis sama dengan kader-kader partai non-agama, hanya beda di kuantitas dan kualitas saja. Intinya tetap sama, sama-sama korupsi.
Adalah mimpi berharap manusia sebagai mahluk politik bebas dosa, termasuk bebas dari korupsi di tengah budaya dan sistem politik yang korup. Sedangkan di sistem surga saja manusia tetap mampu mencari celah untuk melanggar batas larangan, karena itulah tabiat manusia.
Mimpi pula jika seorang berjanggut, bersorban, dan bercelana gantung tampilannya benar-benar “islami” lalu tidak jelalatan lihat gadis montok atau duit menggunung sementara ia mampu untuk merengkuhnya dan tidak kelihatan oleh orang lain. Setidaknya tempuh jalur aman, tambah istri sekian dan sekian (poligami) sekalipun mengecewakan istri tua tentunya.
Termasuk ketika si “islami” itu masuk partai agama. Harus diingat, partainya memang berideologi agama, tapi manusianya tetap memiliki kharakter pendosa. Janggut seperti jamrut khatulistiwa tapi hati menggeletar melihat uang di mana-mana.
Sudahlah. Hilangkan harap partai agama bebas dosa. Partai adalah tempat homo sapiens menyalurkan hasrat politiknya akan kekuasaan. Untuk mencapai hasrat itu butuh ransum yang tak sedikit untuk bekal di jalan.
Merupakan karakter dasariah manusia jadi mahluk pendosa, apapun partainya. Kecuali partai agama itu dijalankan oleh para malaikat. Ini manusia semua isinya.
Yang mungkin mengurangi celah bagi aktivitas para pendosa itu dengan memperkuat sistem, baik cheks and balances di tubuh partai maupun kontrol dari pihak eksternal. Inilah pesan penting dari perpolitikan.
Dari sini mulai berangsur berterima fakta bahwa partai agama memang memiliki karakter dasariah sebagai pendosa. Kharakter yang dibawa oleh figur-figur kadernya yang notabene manusia semua.
Bisa jadi para pendosa itu terus berlumuran dosa bila tak ada introspeksi diri (pertobatan) dan perbaikan sistem, baik sistem kepartaian maupun sistem politik secara keseluruhan. Dosa, hampir pasti sebagai sebuah keniscayaan. Dan lebih pasti lagi godaan perdosaan ketika simbol-simbol agama di bawa ke politik praktis.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar