Sabtu, 02 Maret 2013

Butuh Pemimpin Nasional yang Tidak Mengalami Defisit Moral


Kesehatan merupakan salah satu dimensi vital yang strategis dalam kehidupan berbangsa, khususnya dalam aspek pembangunan manusia. Ini dikarenakan pembangunan kesehatan berhubungan langsung dengan upaya untuk menjamin tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas sebagai resources yang sangat menentukan kemajuan dan masa depan sebuah bangsa (generasi unggul). Selain itu juga, kesehatan merupakan elemen konstitusi yang harus dan wajib diselenggarakan oleh negara, terlebih dalam konteks bagaimana menjamin terselenggaranya upaya kesehatan yang tanpa diskriminatif.
Di Indonesia, dimensi pembangunan kesehatan belum menjadi hal yang prioritas dalam kebijakan pemerintah, terlebih dalam rezim SBY. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi demokrasi dan sistem politik yang dibangun saat ini, dimana orientasi yang dibangun masih berfokus pada upaya-upaya untuk bagaimana mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan semata. Hal jelas terlihat lewat dinamika internal Partai Demokrat. Bagaimana sebuah rezim penguasa mampu melakukan segala cara untuk menyelamatkan dan melindungi dinasti dan oligarki politik yang dia bangun, tanpa segan-segan “merusak” konsepsi demokrasi itu sendiri. Substansi politik yang seharusnya menjadi tool’s untuk mensejahterakan masyarakat masih menjadi sebuah cita-cita yang utopis. Akibatnya, realitas kesehatan Indonesia hari ini benar-benar merupakan konsekuensi logis dari lemahnya perhatian pemerintah tersebut. Masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) serta ancaman tidak tercapainya Milenium Development Goal’s (MDG’s), ditambah lagi diskriminasi akses layanan kesehatan yang dialami oleh masyarakat miskin, jelas merupakan akibat dari pembangunan kesehatan yang belum menjadi priorotas utama. Sayangnya, Mr. President memilih lebih fokus pada persoalan partai Demokrat. Ini jelas menyimpang dari political value sebagai seorang kepala negara.
Hal diatas menjadi semakin kompleks dengan masih rendahnya kesadaran hidup sehat masyarakat kita, apalagi mereka dengan status ekonomi menengah kebawah. Kemiskinan adalah masalah utama yang menjadi akar masalah dalam dunia kesehatan hari ini. Upaya kesehatan edukatif lewat kegiatan yang berorientasi promotif dan preventif yang harusnya mampu menjadi antitesis dari persoalan tersebut, justru di- ”nina bobo” -kan pemerintah yang lebih fokus pada hal-hal yang bersifat kuratif-rehabilitatif. Maraknya korupsi yang melibatkan pihak cikeas, justru merupakan dosa dan pengkhianatan terhadap kemiskinan yang menggurita di masyarakat. Ini harus segera dikoreksi masyarakat!
Untuk itu, dibutuhkan sosok kepemimpinan nasional yang betul-betul memahami akar persoalan yang menjadi faktor krusial dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Sosok pemimpin profesional yang memiliki visi yang kuat, misi yang terukur, serta mampu menginspirasi seluruh elemen bangsa, tentunya dalam bingkai keIndonesiaan yang mampu menerjemahkan dan menjalankan dengan sepenuh hati apa yang telah dan menjadi amanah konstitusi demi tercapainya cita-cita politik sebagaimana yang menjadi harapan para founding father kita. Bukan sebaliknya, pemimpin nasional yang mengalami “defisit moral” yang hanya mengedepankan upaya-upaya untuk meraih dan melanggenggkan kekuasaannya, sebagaimana rezim yang hari ini berkuasa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar