Selasa, 12 November 2013

Belajar Memahami Media Melalui Sosiologi Komunikasi

Sosiologi Komunikasi merupakan kekhususan dari sosiologi untuk mempelajari aktivitas komunikasi dalam mempelajari interaksi sosial yaitu komunikasi sebagai suatu hubungan timbal balik yang saling mempengaruhi antar individu, kelompok maupun individu dengan kelompok. Di dalam sosiologi itu sendiri terdapat sub kajian masalah-masalah komunikasi, kemudian menariknya kedalam studi komunikasi yang terutama erat kaitannya dengan studi media, dampak media beserta perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam kajian utama sosiologi komunikasi mengenai media massa, bahwa pada dasarnya media massa menyampaikan realitas sosial melalu penyebaran informasi pemberitaan dengan skala yang luas dan cepat melalui talk show, reality show, iklan, berita serta variety show ditayangkan terus menerus kehadapan masyarakat dengan tujuan mempengaruhi pola pikir, mengkonstruksi realita sosial yang diinginkan oleh media serta, menciptakan opini publik atau public opinion. Konstruksi sosial yang dilakukan oleh media berawal pada suatu fenomena, misalkan saja fenomena Gangnam Style yang menjadi trend masyarakat, kemudian Harlem Shake serta fenomena lainnya yang di blow-up terus menerus melalui berbagai macam program acara sehingga secara tidak langsung masyarakat yang menerima seolah-olah “ditanamkan” sesuatu, dan sesuatu tersebut menjadi realitas dalam suatu masyarakat, munculnya budaya populer seperti itu juga mampu menghancurkan nilai-nilai tradisional di negeri ini. Begitupun pula dengan pemberitaan di media massa yang seharusnya objektif, netral, tetapi di Indonesia justru pemberitaan media sudah tidak netral dan terpengaruhi oleh kepentingan atau ideologi tertentu, terutama kepentingan politis dan ideologi kapitalis dimana saat ini media massa Indonesia dimiliki sejumlah para pengusaha yang juga merangkap sebagai politikus seperti Metro TV yang dimiliki Surya Paloh, kemudian TV One, Viva News, ANTV yang dimiliki oleh Aburizal Bakrie, sehingga munculnya kepentingan atau ideologi tertentu menyebabkan media menjadi kendaraan politis dan pencitraan si pemilik media dan mempengaruhi nilai berita tersebut, idealisme para wartawan pun pudar karena di “setir” oleh pemilik media, dan pemberitaan serta iklan yang sangat banyak menjadikan bahwa media sudah menjadi alat pencari keuntungan sebanyak-banyaknya bagi si pemilik modal. Realitas pemberitaan pun sudah sering di pelintir oleh pemilik media misalkan “SBY menciptakan akun Twitter” media massa menulis “SBY Curhat” padahal sisi positif dari SBY memiliki akun Twitter agar beliau dengan masyarakat bisa berinteraksi dengan baik melalui social networking, atau bagaimana fenomena bencana lumpur Lapindo, yang terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur dipelintir oleh TV One menjadi “Bencana Lumpur Sidoarjo” demi melindungi image dari pemilik TV One dan juga PT. LAPINDO. Iklan di televisi yang menyajikan visualisasi yang dramatis dan instan, menciptakan kebaikan,keindahan, kemudahan dalam sekejap mengubah pola perilaku masyarakat untuk hidup konsumtif serba praktis dan cepat. Tayangan di media massa juga mampu menciptakan stereotip yang berlaku dalam masyarakat sekarang ini, seperti fenomena Queer yaitu fenomena terhadap perilaku menyimpang seperti, homoseks, lesbian, pria berlaku seperti wanita, masyarakat sebagai penerima informasi tersebut yang dibentuk oleh media memojokkan dan menilai rendah kaum-kaum tersebut, fenomena terorisme pun lekat dengan stereotip yang dibentuk oleh media massa, dan permasalahan seperti memojokkan etnis atau suku tertentu turut menjadi konstruksi sosial yang diciptakan media. Hal-hal ini juga terjadi dalam new media yang bernama internet.

Oleh karena itu agar individu sebagai anggota masyarakat, diperlukan juga literasi media bagi masyarakat. Dasar dari media literasi adalah aktivitas yang menekankan aspek edukasi di kalangan masyarakat agar mereka tahu bagaimana mengakses, memilih program yang bermanfaat dan sesuai kebutuhan yang ada. Permasalahan yang ada adalah seiring dengan derasnya arus informasi media, masyarakat pun dibuat kebingungan dan tidak mampu memilah, menyeleksi, serta memanfaatkan informasi yang sudah mereka peroleh. Melalui media literasi masyarakat bisa meningkatkan intelektual mereka dengan aktif mencari informasi yang sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan referensi yang ada, sehingga informasi yang didapat bisa menjawab kebutuhan yang dicari oleh individu sebagai anggota masyarakat itu sendiri, lebih peka dan kritis dalam menanggapi isu pemberitaan yang ada, serta meningkatkan intelektualitas individu akan media, bisa dilakukan melalui empat hal yaitu: akses berita, menganalisis media sesuai dengan konteks, mengkritik media massa dan menulis berita kepada media massa itu sendiri.

Namun disatu sisi media pun turut bisa menciptakan gerakkan sosial, pemberitaan-pemberitaan media yang berkaitan dengan unsur ketidakadilan mampu menggerakkan masyarakat untuk melakukan perlawanan terhadap ‘kekuasaan’ negara atau kekuasaan kelompok tertentu, masyarakatpun dewasa ini sudah menjadi audiens ‘aktif’ dan lebih ‘peka’ terhadap isu-isu yang diangkat oleh media massa, apabila media mengangkat ideologi atau kepentingan tertentu masyarakat sudah bisa menilai kualitas dari pemberitaan tersebut, dan sudah tidak mudah untuk terpengaruh lagi, karena masyarakat saat ini sudah cerdas.

Gerakkan Sosial yang munculpun sudah pernah terjadi di Indonesia maupun luar negeri seperti peristiwa konflik tuduhan pencemaran nama baik Rumah Sakit OMNI Internasional oleh Prita Mulyasari sehingga muncul gerakkan sosial berupa koin untuk Prita, disusul oleh pencurian sendal yang dimana terdakwa di hukum berat sementara aparatur hukum menghukum para koruptor dalam masa tahanan yang tergolong ringan dan singkat turut menciptakan gerakkan sosial pengumpulan sendal sebagai aksi protes akan ketidakadilan hukum di Indonesia. Begitu pula dengan fenomena “Musim Semi Arab” yang dimulai dari Tunisia melawan kekuasaan diktator dimulai dari pemberitaan di media massa beserta inisiatif gerakkan sosial di jejaring sosial seperti facebook dan twitter kemudian fenomena ini menular ke berbagai negara lain seperti Mesir, Libya, dan Suriah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar