Kamis, 01 Oktober 2015

Resensi Buku: Teori Sosial dari Klasik Sampai Postmodern

Tulisan yang disajikan oleh Turner sesungguhnya hendak mengungkap apa yang dimaksud dengan teori sosial sejak masa klasik hingga postmodern, tentunya dari sudut pandangnya, dengan mengambil teori-teori yang dianggapnya masih cukup relevan untuk diketahui oleh generasi hari ini. Sebenarnya antara teori yang satu dengan teori yang lain masih memiliki keterkaitan, lahirnya sebuah teori biasanya lebih disebabkan karena upaya berpikir keras yang dilakukan oleh para ahli teori sosial untuk mengisi celah yang kosong dan tidak mampu dijawab oleh penemu teori sebelumnya. Sangat banyak teori sosial yang telah dicetuskan para cendekiawan tetapi tidak semuanya ditampilkan dalam buku ini. Buku ini merupakan bunga rampai tulisan dari para pengusung teori masing-masing yang dijelaskan dalam bentuk bahasa yang lebih ringkasi dari edisi buku aslinya yang tentunya lebih tebal. Buku ini ditulis oleh Turner terbagi dalam 5 bagian dan 28 bab.

Bagian pertama mengenai dasar-dasar, berisi tentang dasar-dasar teori sosial, teori sosiologi kontemporer: perkembangan-perkembangan pasca parsons, dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Pada dasar-dasar teori sosial menjelaskan mengenai dialektika filsafat pemikiran sosial antara Karl Marx, Emile Durkheim, Hegel, Auguste Comte, Herbert Spencer, Sigmun Freud dan Max Weber. Pada bagian teori sosiologi kontemporer: perkembangan-perkembangan pasca parsons adalah mengetengahkan mengenai lompatan-lompatan pemikiran sosial setelah Talcott Parsons mengemukakan teori sistem sosialnya yang menjadi peniup semakin berkibarnya api ilmu sosial dan menyebar ke berbagai ilmuwan di sisi bumi yang berbeda dengan cara pandang masing-masing. Bab ketiga mengenai filsafat ilmu-ilmu sosial, yang mengetengahkan tentang model naturalis, model fondasionalis, falsifikasionisme, realisme kritis, makna, bahasa, kritik yang dilihat dari tata hermeneutika, filsafat Wittgensteinian, filsafat dan anti fondasionalisme, serta teori jaringan aktor.

Bagian kedua mengenai tindakan, aktor, dan sistem, yang berisi tentang teori-teori tindakan sosial, fungsionalisme dan teori sistem-sistem sosial, strukturalisme dan postrukturalisme, teori jaringan aktor dan semiotika material, etnometodologi dan teori sosial, serta teori pilihan rasional. Pada teori-teori tindakan sosial dipandang dari sudut beberapa tokoh sosiologi, antara lain Marx, Weber, Parsons, Garfinkel, Giddens, Bourdieu, Sayer, Habermas, Emisbayer, Mische, dan Merton, yang diurai dalam skema struktur sosial. Pada bab fungsionalisme dan teori sistem-sistem sosial adalah menyajikan mengenai dasar-dasar analisis fungsional, fungsionalisme sebagai ilmu sosial yang normal, program kuat sosiologi pada teori sistem-sistem sosial, analisis sistem-sistem sosial, upaya meradikalkan fungsionalisme melalui teori Niklas Luhmann tentang sistem-sistem sosial. Pada bab mengenai strukturalisme dan post-strukturalisme adalah mengungkap strukturalisme dalam ilmu-ilmu sosial, budaya, dan humaniora, macam-macam strukturalisme dan kritik-kritik lainnya terhadap strukturalisme, habitus Bourdieu dan teori strukturalisme Giddesns. Pada bab mengenai teori jaringan aktor dan semiotika material adalah menjelaskan tentang teori jaringan aktor yang dideskripsikan sebagai suatu abstraksi, pendekatan jaringan aktor tidak dikatakan sebagai sebuah teori, suatu diaspora dalam jaringan aktor adalah bertumpang tindih dengan tradisi-tradisi intelektual lainnya, dan teks dan seluruh dunia adalah bersifat relasional. Pada bab etnometodologi dan teori sosial adalah menjelaskan tentang etnometodologi yang bersandar pada karya-karya Parsons melalui alat bantu analisis ilmu filsafat. Pada bab Teori Pilihan Rasional dijelaskan fenomena sosial yang menjadi akibat atau konsekuensi atas seperangkat pernyataan yang harus bisa diterima sepenuhnya dengan mudah, teori sosiologi yang baik adalah teori yang dapat menafsirkan segala fenomena sosial sebagai hasil dari tindakan-tindakan individu, dan tindakan-tindakan haruslah dianalisis sebagai tindakan yang rasional.

Bagian ketiga mengenai perspektif-perspektif dalam analisis sosial dan budaya, berisi pragmatism dan interaksionisme simbolik, fenomenologi, teori feminis, teori sosial postmodern, konstruksi sosial, analisis percakapan sebagai teori sosial, serta teori globalisasi. Bab mengenai pragmatism dan interaksionisme simbolik adalah mengemukakan tentang bagaimana konsekuensi atas tindakan praktis yang dapat dianalisis dari sisi interaksionisme simbolik, dan teori pilihan rasional. Bab yang membahas tentang fenomenologi adalah mencoba mengurai ranah yang cenderung dipandang ambigu dan hendak menyana bagaimana sebuah fenomena sosial terjadi serta apakah akan berulang pada masa yang akan datang. Bab mengenai teori feminis adalah menjelaskan tentang bagaimana pembahasan atas feminisme yang baru muncul dalam kurun waktu setengah abad terakhir dan terjadi dalam beberapa tahapan hingga saat ini. Pada bab mengenai teori sosial postmodernisme adalah mengetengahkan mengenai radikalisme epistemologi yang secara kritis mempertanyakan warisan pemikiran masa pencerahan di Eropa. Bab selanjutnya adalah konstruksionisme sosial yang membahas tentang berbagai hal dalam upaya mengkonstruksi masyarakat mulai dari kerangka pemikiran Durkheim, Weber, hingga Marx. Bab lanjutan adalah analisis percakapan sebagai teori sosial yang hendak menjelaskan tentang hal ikhwan percakapan yang dianalisis lalu melahirkan teori sosial dalam kurun waktu beberapa dekade pada abad ke-20, yang dapat dilihat secara struktural, dengan berbagai tahapan-tahapannya. Bab selanjutnya adalah teori globalisasi yang dapat dilihat dari berbagai perspektif mulai dari sisi kebudayaan, sistem dunia, dan teori politik dunia.

Bagian keempat mengenai sosiologi dan ilmu-ilmu sosial yang berisi tentang genetika dan teori sosial, sosiologi ekonomi, sosiologi kebudayaan, sosiologi historis, sosiologi agama, demografi, studi teknologi dan sains: dari kontraversi ke teori sosial posthumanis. Bab genetika dan teori sosial adalah perspektif baru dalam memandang ilmu sosial yang mencampur antara biologi dengan sosiologi. Bab selanjutnya adalah sosiologi ekonomi yang membahas mengenai bagaimana kehidupan masyarakat dalam upaya memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Bab selanjutnya adalah sosiologi kebudayaan yang berisi tentang makna yang bersifat relasional, bahwa makna dari simbol-simbol, kata-kata, majas-majas, metafora-metafora, ideologi-ideologi, dan sebagaianya muncul dan berkembang seirama dengan atau berbeda dari makna-makna lain yang memiliki arti penting sosial lainnya, namun terkait khusus dengan istilah-istilah sosiologi seperti struktur, tindakan, serta konflik. Bab selanjutnya adalah sosiologi historis, yang membahas tentang bagaimana masyarakat membuat sejarah dalam berbagai bidang kehidupannya, sehingga terkadang diapresiasi bahwa semua jenis sosiologi adalah sosiologi sejarah. Bab selanjutnya yakni membahas sosiologi agama yang berisi tentang hubungan antara agama dengan masyarakat, sebagaimana yang terkenal dalam sosiologi pada aras Marx yang mengaitkan agama dengan image pelemahan kaum pekerja terhadap kelas borjuis dan agama dengan spirit kapitalisme sebagaimana yang disampaikan oleh Weber. Bab selanjutnya adalah demografi yang membahas tentang hal-hal seputar bertambah atau berkurangnya jumlah anggota masyarakat yang disebabkan oleh adanya kelahiran, kematian, dan berpindahnya dari satu tempat ke tempat lainnya, yang mana itu semua dipengaruhi oleh banyak faktor. Bab tentang demografi pula mengetengahkan prediksi kondisi masyarakat dalam kurun waktu ke depan sesuai dengan potensi penduduk yang telah ada. Bab selanjutnya adalah studi teknologi dan sains: dari kontraversi ke teori sosial posthumanis, yang membahas tentang studi teknologi dan sains yang juga memiliki titik pertemuan dengan ilmu sosial yaitu pada hal-hal yang kemudian menjadi fenomena sosial.

Bagian kelima mengenai berbagai perkembangan terbaru yang berisi tentang mobilitas dan teori sosial, teori sosiologi dan hak azasi manusia: dua logika satu dunia, sosiologi tubuh, kosmopolitanisme dan teori sosial, serta masa depan teori sosial. Bab mobilitas dan teori sosial sebagai salah satu dari tiga pembahasan dalam demografi, mengerucut pada sisi bagaimana memahami mengapa manusia bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya melalui studi sosiologi (menggunakan teori sosiologi). Bab Teori sosiologi dan hak asasi manusia: dua logika, satu dunia adalah mengetengahkan tentang pertentangan dua logika masyarakat dunia yang realitasnya ada dan dijalankan tetapi berada di satu tempat yakni dunia, seharusnya dua logika yang saling bertentangan itu tidak sampai terjadi tetapi dengan historikal rasionalitasnya masing-masing nyatanya ada dan berjalan. Bab selanjutnya adalah sosiologi tubuh yang menjelaskan tentang pemahaman kealamian tubuh yang dikonstruksi secara sosial sebagai sebuah fakta sosial. Bab selanjutnya adalah kosmopolitanisme dan teori sosial yang menjelaskan tentang hubungan antara kosmopolitanisme dengan teori sosiologi pada masa klasik yang mana memandang modernitas sebagai fenomena dunia, teori sosiologi modern yang memandang sistem sosial dan masyarakat industrial, teori sosiologi kontemporer yang mengarahkan menuju pendekatan eksplisit yang kosmopolitan. Bab terakhir mengetengahkan tentang masa depan teori sosial yang mana diperkirakan masih akan terus berubah seiring dengan perkembangan dinamika kehidupan manusia dan alam yang ditempatinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar