Kamis, 01 Oktober 2015

Resensi Buku: Rekonstruksi Teori Sosial Modern

Judul : Rekonstruksi Teori Sosial Modern
Penulis : Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si
Penerbit : Gajah Mada University Press
Tempat Terbit : Yogyakarta, Indonesia
Tahun Terbit : Januari, 2012
Cetakan : Pertama
Ukuran : 155 x 230 mm
Jumlah Halaman : xx, 332 hlm
ISBN : 979-420-779-9

Jika memakai pandangan George Ritzer, buku ini disusun berdasarkan paradigma fakta sosia nan konstruksionisme. Zainuddin Maliki sendiri menciptakan paradigma versi dirinya dengan menetapkan tiga paradigma yakni struktural fungsional, struktural konflik, dan konstruksionisme. Ia mengetengahkan bahwa teori sosiologi struktural fungsional muncul lebih awal, lalu kemudian ia dikritisi oleh pelanjut-pelanjutnya sehingga melahirkan teori berparadigma struktural konflik. Dua paradigma tadi juga dianggap tidak memuaskan pada masa-masa selanjutnya sehingga menghasilkan teori sosiologi dengan paradigma konstruksionisme. Buku ini sebenarnya hendak mengajak pembaca dalam memahami asumsi dasar, sejarah, dan kondisi sosial yang melatarbelakangi mengapa paradigma teori sosiologi tiba-tiba muncul, yang diharapkan akan membuat pembaca mampu menjawab pertanyaan umum yang diarahkan menjadi pembentuk buku ini yakni, bagaimana proses dan tertib sosial itu berlangsung?. Diharapkan pula pembaca menjadi lebih arif dalam memahami tindakan sosial yang dilihatnya, tentunya dimaknai dengan mempergunakan konsep-konsep yang sudah dipelajari sebelumnya.

Buku ini menargetkan sosok mahasiswa, dosen, guru sosiologi, masyarakat biasa yang menaruh ketertarikan kepada sosiologi, praktisi sosial, ataupun peneliti yang membutuhkan perangkat teori yang mumpuni dalam penelitiannya. Tulisan dalam buku ini memproyeksikan menarik minat pembaca dengan pemposisian ketertarikan sedemikian rupa sehingga menemukan jendela dalam melihat realitas sosial dunia, selain itu pula diajak untuk melihat berbagai jenis paradigma yang akan membuatnya paham mengapa setiap pencetus teori mengemukakan pemikirannya, yang tentunya hal tersebut terjadi karena dasar paradigma pikir yang dimilikinya. Pembaca juga diharapkan tidak berhenti mempergunakan pengetahuannya sehari-hari tetapi juga menoleh pada pandangan-pandangan yang banyak bertebaran sembari mempertimbangkan untuk mencoba mencicipi pandangan tersebut sebagai perspektif dalam memaknai realitas sosial yang didapatinya. Buku ini tersusun atas empat bagian, masing-masing bagian dikemas secara apik guna menghantarkan pembaca memahami alur pikir yang disampaikan oleh penulis sehubungan dengan tawaran atas tiga paradigma di atas.

Bagian satu adalah teori sosial sebagai jendela dalam melihat realitas, berisi tentang paradigma sebagai ranah pengetahuan dan sosial, paradigma dan proses pembentukan ideologi, serta teori sosial sebagai sebuah instrumen.

Bagian kedua adalah teori struktur fungsional yang memuat kontesk sosial, pertanyaan yang diajukan, unit analisis struktur fungsional, metodologi yang dipakai, kondisi material dan ideologis. Juga dikemukakan tokoh pengusungnya seperti Auguste Comte dengan hukum evolusi tiga tahap, Herbert Spencer dengan filsafat yang mempengaruhinya serta dimensi teoritinya, Charles Darwin dengan teori naluri, teri ras, dan teori determinisme. Selanjutnya ada Emile Durkheim dengan penjelasannya pada subyek sosiologi, dimensi teoritik pada pembagian kerja, kesadaran kolektif, realitas agama, dan kekuatan juga kelemahan. Tokoh lainnya adalah Talcott Parsons yang mengemukakan variabel pola pengelompokan sistem sosial berupa tindakan menghadapi dilema antara dorongan impulsif versus disiplin, tindakan menghadapi dilema antara private versus collective intersts, tindakan menghadapi dilema antara universalism versus particularism, tindakan menghadapi dilema modalitas obyek, dan tindakan menghadapi dilema lingkup pemaknaan obyek, serta beberapa kritik dari penulis buku terhadap Parsons. Tokoh terakhir adalah Robert K. Merton. Struktur Fungsionalisme mengalami perkembangan hingga menghasilkan grup baru yang dikenal dengan neofungsionalisme, yang berisi tentang konteks sosial yang melatarbelakanginya, tugas pengetahuan sosial, orientasi neofungsionalisme, sumbangan teori neofungsionalisme, dan kritik atas neofungsionalisme.

Bagian ketiga adalah teori struktural konflik yang lebih dijelaskan melalui teori-teori tokoh pengusungnya antara lain Karl Marx. Untuk mengetahui keseluruhan pemikiran Marx maka perlu diketahui pula konteks sosial yang mendasarinya, aliran filsafat yang mempengaruhi Marx, asumsi yang mendasari lahirnya teori Marx, Body and Mind, dimensi dan konsepsi dasar teori Marx, perkembangan kapitalisme, teori kelas dan stratifikasi sosial, hubungan kondisi material dan ideologi, alienasi, kekuatan teori Marx, kritik terhadap Marx, bias perspektif Marx, dan titik singgung antara Marx dan Weber. Setelah Marx lahir pemikir-pemikir sesudahnya yang digolongkan sebagai Neo Marxis, salah satunya yakni Hegelian Marxis. Dalam paradigma struktural konflik terdapat pula tokoh seperti Georg Lukacs, Antonio Gramsci yang mengangkat tentang calculating subject, mazhab frankfurt seperti Erich Fromm, Herbert Marcuse, Max Horkheimer, dan Jurgen Hubermas. Selanjutnya adalah teori konflik alternatif yang dikembangkan oleh Ralf Dahrendorf, Lewis Coser, dan Randall Collins.

Bagian keempat adalah teori konstruksionis, yang diusung oleh Max Weber. Weber sendiri memiliki landasan metodologi, body and mind atasnya, konsep tentang kapitalisme, stratifikasi sosial, konsep kelas, konsep partai, dan konsep kekuasaan. Dalam teori konstruksionisme juga dijelaskan fenomenologi dan konstruksi sosial. Selain itu pula terdapat linkage makro – mikro antara lain model Peter L. Berger dan Nickolas C. Luckmann dan model Anthony Giddens, yang memuat subyek analisis sosiologi, keterbatasan antara manusia agensi, metodologi sosiologi, konsep formasi sisuoligi. Selain itu pula dalam Linkage makro-mikro terdapat dualitas struktur dan analisis terhadap kelemahan dari teori strukturasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar