Kamis, 01 Oktober 2015

Melirik Teori Sosial Kritis

Jika membincang Teori Sosial Kritis maka dengan segera tercium aroma Marxian. Yah, aroma marxian bukan marxian itu sendiri, sebagaimana jika kita mencium aroma mawar dari parfum yang dipakai seseorang, aroma mawar tersebut bukanlah mawar itu sendiri.
 
Teoritisi frankurt seperti marcuse, adorno, luckas, horkheimer dan habermas serta beberapa nama lagi sering dijadikan lokomotor dari Teori Sosial Kritis, mereka mempunyai aroma marx yang khas, kenapa saya mengatakannya khas? Disamping mempertahankan tujuan dari teori marxian tentang keniscayaan emansipasi kemanusiaan, mereka sekaligus melakukan koreksi yang luar biasa kreatif (ini adalah bid’ah menurut beberapa teoritisi marx ortodoks) terhadap beberapa cara pandang marxian, terutama dalam menjelaskan modus operandi kapitalisme dan variabel utama beroperasinya kapitalisme. Tetapi menurut Ben Agger dalam bukunya critical social Theories: An Introduction mengatakan bahwa bukan hanya Teoritisi Jerman Frankurt yang berhak diasosiasikan dalam kategori Teori Sosial Kritis, tetapi gerakan intelektual seperti posmodernisme, feminisme dan cultural studies juga mempunyai hasrat utnuk memberontak, membongkar dan mengubah tatanan sosial, budaya,tanda, bahasa ataupun gender yang sudah dianggap rapi dan statis saat ini, dan hasrat itu membuat gerakan-gerakan intelektual tersebut berhak dikategorikan sebagai Teori Sosial Kritis.
 
Di dalam tulisan ini mungkin saya tidak akan membahas sejarah intelektual, tokoh-tokoh ataupun karya-karya seputar Teori Sosial Kritis, tetapi saya mencoba secara umum ingin memaparkan beberapa pokok pikiran (walaupun para posmodernis sangat menolak apa yang disebut prinsip, termasuk menolak semua usaha untuk menhomogenkan mereka) atau beberapa ciri yang bisa menjadi daerah irisan dari beberapa varian Teori Sosial Kritis. Adapun ciri tersebut adalah sebagai berikut :

1. Teori Sosial Kritis menolak positivisme. Dalam tubuh epistemologi Positivisme pengetahuan adalah representasi telanjang terhadap objek realitas, pengetahuan merupakan refleksi cermin terhadap fakta, sebagaimana jika seseorang berdiri di depan sebuah cermin, maka orang tersebut akan yakin seyakin-yakinnya jika bayangannya dicermin adalah gambaran dirinya yang sebenarnya. Teori Sosial Kritis beranggapan pengetahuan bukanlah refleksi yang statis terhadap dunia ”di luar sana”. Pihak tertentu dalam berhadap-hadapan dengan dunianya pastilah membawa asumsi-asumsi tertentu atau prakonsepsi-prakonsepsi tertentu, yang akan mengubah realitas, fakta atau ojek riil tersebut menjadi realitas, fakta dan objek bagi manusia yang tidak netral. Asumsi-asumsi tersebut bukanlah sebuah yang rasional dan tidak hanya selalu mengambil bentuk yang konsepsional tetapi terkadang mempunyai wajah yang paling binal yaitu hasrat, jika hasrat adalah keinginan memenuhi kekurangan tiada henti, maka jalan pintasnya adalah ”kekuasaan”. Pengetahuan bukanlah sekedar persoalan mengenal tetapi juga persoalan menguasai. ”Kebenara adalah hasrat untuk berkuasa” kata Nietzche.

2. Teori sosial Kritis membangkitkan kesadaran historis yang politis. Dia melakukan segmentasi sejarah berdasarkan dominasi dan kemungkinan melakukan couter-dominasi. Masa lalu dan masa kini ditandai dengan dominasi, penindasan dan eksploitasi. Kemungkinan melakukan pembebasan ada di masa depan. Dan pembebasan itu hanya mungkin jika kita melakukan pembacaan, pembongkaran dan pertarungan dalam arena masa kini yang penuh dengan jejaring-jejaring dominasi yang sebagian besar diwariskan oleh masa lalu. Perspektif masa lalu akan mempengaruhi perspektif ke-kinian kita sekaligus visi ke-depan kita. Kita tidak bisa mengetahui masa lalu dengan transparan, tetapi hanya bisa melihatnya dengan kacamata kepentingan tertentu, kacamata hasrat tertentu, kemudian masa lalu yang kita lihat ini akan kita jadikan kembali sebagai kacamata untuk memandang masa kini kita dan masa depan nanti. Sehingga dekonstruksi dan penawaran akan perspektif alternatif terhadap masa lalu adalah penting, untuk memandang diri kita secara lain dalam masa kini dan membuka kemungkinan-kemungkinan pilihan bebas atas nasib di masa depan. Potensi masa depan yang lebih baik ada di masa kini dan masa lalu. Sehubungan dengan poin di atas tadi pengetahuan bukanlah hanya sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk merubah, Teori Sosial kritis bersifat sangat politis, karena begitu kuat mendorong keterlibatan dalam Perubahan Sosial.

3. Teori Sosial Kritis mengatakan bahwa dominasi tidaklah personal dan mudah dikenali tetapi impersonal dan sulit dikenali. Hidup manusia tidaklah semata-mata dipengaruhi oleh pilhan rasional manusia. Manusia memang memiliki pilihan bebas, tetapi kebebasan itu seringkali terbatasi, yang membatasi itu bukanlah seseorang – semisal jika kita lapar dan ingin memakan sesuatu tetapi dilarang oleh seseorang – tetapi sesuatu yang lebih besar dari kita tetapi sekaligus meresapi tubuh, pikiran bahkan hasrat kita. Sesuatu yang lebih besar itu disebut dengan struktur. Struktur itu dapat berupa institusi sosial yang kasat mata semacam birokrasi pemerintah, negara, perusahan transnasional, ataupun yang samar-samar semacam diskursus gender yang menkonstitusi peran kita sebagai laki-laki atau perempuan, diskursus budaya semacam minat berpakaian kita, bahkan minat kita akan tubuh kita sendiri dimana tubuh adalah arena dominasi yang paling seksis bagi struktur. Teori sosial kritis berusaha mengungkap struktur ini atau menjadikan struktur ini sebagai teks yang dikodifikasi kepentingan-kepentingan tertentu dimana teks ini akan didekoding kembali untuk melihat hasrat-hasrat latennya. Di samping itu teori sosial kritis tidak hanya mengungkap tetapi berusaha memberdayakan pihak-pihak atau potensi-potensi alternatif disekitar struktur dominasi.

4. Teori Sosial Kritis berpendapat bahwa struktur dominasi dalam modus operansinya bukanlah sesuatu yang diproduksi secara sepihak tetapi dominasi haruslah di re-produksi kembali oleh subjek-subjek yang didominasi agar mereka sekaligus menjadi subjek-subjek yang meminjam peran pendominasi bagi dirinya sendiri dan subjek yang lain. Struktur dominasi menjadikan individu-individu sebagai subjek-subjek yang ilutif – jika kita mengartikan subjek adalah pelaku yang bebas – maksudnya para individu dijadikan subjek agar peng-objek-an mereka bisa beroperasi secara samar-samar dan mendapatkan persetujuan atau kerelaan dari individu. Para individu dalam kesehariannya diberi pinjaman lahan kebebasan berprestasi agar mereka merasa menjadi aktor atau subjek bagi nasibnya, padahal lahan kebebasan yang mereka pinjam bukanlah tanpa bayaran, mereka harus membayarnya dengan peng-amin-an terhadap kondisi sosial yang timpang saat ini. Mereka diberi kebebasan yang dijangkau oleh kesadaran mereka- karena kesadaran dalam struktur dominasi akan selalu dibatasi atau disiplinkan – agar mereka tidak menuntut walaupun sekedar memimpikan kebebasan yang lebih luas dari kebebasan ilutif yang mereka raih sekarang. Struktur dominasi direproduksi oleh kesadaran palsu manusia, dilanggengkan oleh ideologi (Marx), reifikasi (Georg Luckas), hegemoni (Gramsci), pemikiran satu dimensi (Marcuse) dan metafisika kehadiran (Derrida). Dalam lapangan ilmu pengetahuan dominasi dilanggengkan oleh sosiologi, teori-teori ekonomi bahkan antropologi yang punya visi positivis, dimana ke semua disiplin tersebut ada bukan hanya sekedar menemukan hukum-hukum sosial, hukum-hukum ekonomi dan budaya yang secara pasti mendeterminasi masyarakat, tetapi dalam hasratnya untuk menemukan keteraturan statis tersebut tercakup pula untuk mempertahankan tatanan. Kita diajak oleh struktur dominasi untuk menyetujui bahwa satu-satunya kemungkinan berpikir dan berprilaku adalah yang sesuai dengan pola-pola keajegan dalam tatanan tersebut. Dalam pengetahuan positivistik pengetahuan akan hukum-hukum sosial,ekonomi dan budaya adalah perlu agar dapat memprediksi manusia , jika kemampuan memperediksi sudah diperoleh, jalan untuk mengontrol dan menguasainya terbuka lebar. Teori kiritis berusaha untuk mematahkan kesadaran palsu ini, merubah tatanan dan merubah segala bentuk diskursus atau wacana yang menopang tatanan dominatif tadi.

5. Karena dominasi telah merembes ke dalam kehidupan sehari-hari kita, semisal rumah, keluarga, tubuh, seksualitas bahkan imajinasi kita. Maka perubahan sosial pada skala mikro haruslah sejalan dengan perubahan sosial dalam skala kolektif atau makro. Teori kritis sadar bahwa manusia ditelikung oleh struktur atau jejaring-jejaring tanda yang mendominasi, tetapi celah untuk kebebasan manusia tetap ada, dan celah itulah yang akan menjadi harapan untuk melakukan perubahan sosial. Teori Sosial kritis tetap berusaha mendukung voluntarisme ditengah-tengah potensi determinasi struktur dominasi. Perubahan sosial mulai dari rumah.

6. Menolak paham marx ortodoks –terutama setelah ajaran Marx ditafsirkan kembali oleh Engels, lenin dan stalin – bahwa ekonomi atau struktur mendeterminasi suprastruktur dalam hal ini kesadaran manusia. Mengitu pemikiran awal Marx , Teori Sosial Kritis beranggapan bahwa ada dialektika yang dinamis antara kesadaran manusia dan struktur. Walaupun kehidupan sehari-hari kita ditelikung oleh struktur dan jejaring dominasi, tetapi tidak ada jejaring atau struktur yang utuh atau solid sepenuhnya, pasti memiliki cacat, mengandung kontradiksi-kontradiksi atau celah-celah yang tak terawasi oleh “sipir-sipir struktur” dimana otonomi manusia dapat melarikan diri dan hidup bebas, bahkan struktur atau jejaring dominasi tersebut, memiliki bagian-bagian tertentu yang dapat dipertentangkan sehingga membuatnya rapuh. Pengetahuan akan struktur dominasi dapat membantu kita untuk bebas darinya, dan usaha untuk bebas darinya akan merestrukrisasi pengetahuan kita tentang struktur untuk usaha selanjutnya. Teori untuk praksis dan praksis untuk teori.

7. Walaupn Teori Sosial Kritis percaya akan masa depan yang membebaskan. Teori Sosial Kritis menolak anggapan bahwa masyarakat tanpa dominasi akan terbentuk pada ujung jalan tertentu dan mengambil bentuk tertentu. Ini bisa dilihat dari penolakan teori posmodernisme akan metanarasi, begitu pula dengan teori feminisme. Varian-varian tersebut mengatakan bahwa yang dimaksud dengan pembebasan adalah mengeluarkan narasi-narasi kecil atau lokal dari subordinasi metanarasi, kebebasan akan tercapai jika setiap narasi diberikan hak hidup sambil mendorong dialog intens antar narasi dan proses transkoding atau peminjaman kode antara satu narasi dengan narasi yang lain. Teori Sosial Kritis menolak anggapan bahwa masa depan yang lebih baik atau kemajuan akhir bisa dicapai dengan cara mengorbankan kebebasan manusia. Manusia bertanggung jawab akan kebebasannya sendiri serta tidak menindas atau mengorbankan manusia lain demi kebahagiaan jangka panjang, Teori Sosial Kritis menolak pragmatisme revolusioner. Kebebasan tidak akan tercapai dengan pengorbanan “pragmatis” kebebasan dan kehidupan.

Tema Emansipasi dan anti ”kemapanan” adalah kata kunci Teori Sosial Kritis. Teori Sosial Kritis bukanlah pen”teorian” amarah, tetapi dia adalah usaha pembongkaran yang membebaskan, usaha memparodikan tatanan agar tampak konyol dan memperlihatkan paradoksnya serta menampakkan alternatif nasib diluar yang ditawarkan tatanan, usaha me-lawak-i tatanan. Konon lawak ada untuk mengkusutkan dan menghamburkan yang selama ini ditata dengan rapi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar