Kamis, 01 Oktober 2015

Resensi Buku: Handbook Teori Sosial

Judul : Handbook Teori Sosial
Penulis : George Ritzer & Barry Smart
Penerjemah : Imam Muttaqien, Derta Sri Widowatie, Waluyati
Penyunting : Derta Sri Widowatie
Penerbit : Nusa Media
Tempat Terbit : Jakarta, Indonesia
Tahun Terbit : Januari, 2011
Cetakan : Pertama
Ukuran : 175 x 250 mm
Jumlah Halaman : xvi, 1108 hlm
ISBN : 978-979-1305-32-7

Buku Handbook Teori Sosial ini pada dasarnya hendak menjabarkan suatu bidang studi, memetakan parameter analisis, tokoh utama pengusung, dan persoalan yang ada dalam kajian tersebut. Menariknya buku ini disusun oleh salah satu sosiolog terkemuka abad ke-20 dan ke-21, ia adalah George Ritzer yang sukses dalam karyanya Sosiologi Ilmu Berparadigma Ganda, Teori Sosiologi dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodernisme, dan lainnya, sedangkan Barry Smart adalah seorang sosiolog yang merupakan penulis buku Metode Observasi, Sosiologi – Fenomenologi – dan Analisis Marxian.

Dalam tulisan yang tertera pada lebih dari 1100 halaman ini, penulis buku menceritakan sejarah ataupun konteks sosial yang melatarbelakangi lahirnya teori, bedah ringan terhadap teori yang disampaikan, pertautan antara teori yang satu dengan teori yang lainnya, tantangan teori tersebut pada konteks kekinian, serta beberapa contoh yang menguatkan deskripsi teori. Teori yang disajikan tidak melulu untuk dipakai dalam dunia sosiologi, tetapi sifatnya luas dan dapat dicakup oleh ilmu-ilmu lainnya yang masih terkategori sebagai ilmu sosial.

Buku ini terdiri atas tiga bagian, yang mana pada masing-masing bagian terdiri pula atas beberapa bab yang spesifik menjelaskan teori yang disesuaikan dengan periodesasi pembabakan teori. Bagian satu dinamai teori sosiologi klasik, bagian ini terdiri atas sembilan bab yang diawali dengan nama bab dua (bab pertama diposisikan sebagai pendahuluan yang tidak termasuk dalam tiga bagian sesudahnya). Bab kedua adalah hendak menjelaskan mengenai modernitas, pencerahan, revolusi, dan romantisme dalam hal menciptakan teori sosial. Bab ketiga menjelaskan asal muasal positivisme yang awal mulanya berasal dari kontribusi Auguste Comte dan Herbert Spencer. Bab keempat menjelaskan tentang pemikiran Marx seputar Materialisme Historis, Kapitalisme dan analisis kelas, dan ilmu serta metode menurut Marx. Bab kelima menjelaskan perspektif Weber seperti debat modernitas dan sosiologi sejarah modernitas yang lain, dan sedikit kaitan antara Weber dan Kant. Bab keenam menjelaskan tentang pemikiran yang George Simmel dalam hal penentuan batasan bidang sosiologi yang meliputi alasan pembatasan sosiologi, kerangka acuan konseptual Simmel, ambivalensi, upaya penghentian terhadap sosiologi, serta mengatasi pemoralan dan peremehan sosiologi dengan pempelajari konsep-konsep simmel. Bab ketujuh adalah pemikiran Emile Durkheim mengenai masalah yang dikemukakan oleh Durkheim serta metode yang disampaikannya. Teori-teori yang diciptakannya kemudian dihubungkan dengan situasi yang berkembang saat ini. Bab kedelapan adalah pemikiran Mead yang dirangkai melalui kisah hidup Mead, karya-karya Mead, juga pengaruh cara pandangnya terhadap sosiologi. Bab kesembilan adalah Karl Mannheim mengenai sosiologi pengetahuan yang dijelaskan melalui pola orientasi sosiologi sebagai perkembangan, ideologi-ideologi yang ada di Jerman, sosiologi pada masa reprimitisasi, sosiologi sebagai sebuah ilmu yang dikatakan kalah sebelum berperang, serta konsesus bersama pemikiran Mannheim. Bab kesepuluh mengenai hubungan antara psikoanalisis dengan sosiologi yang menungkapnya mulai dari Freudei – Marxisme sampai Freude – Feminisme yang terurai dalam teori sosialisasi, teori peradaban, dan teori pos udipalisme.

Bagian kedua adalah memuat teori sosial kontemporer, bagian ini terdiri atas 17 bab yang berisi tentang pemikiran-pemikiran sosial yang berkembang dan hangat diperdebatkan pada masa-masa sekarang ini. Bab ke-11 adalah mengenai teori sosial feminis klasik yang berisi tema problematika sentral, metodologi, sudut pandang perempuan, sudut pandang pribadi yang spesifik konteks, kesehatan, refleksivitas, pengorganisasian masyarakat, signifikansi individu, signifikansi ide, dan perubahan sosial. Bab ke-12 adalah mengenai teori fungsional, teori konflik,, dan teori neo fungsional, yang memuat pemikiran kaum moral Scotlandial, Emile Durkheim, Talcott Parsons, dan Neo Fungsionalisme. Bab ke-13 adalah mengenai Talcott Parsons yang mengangkat hubungan pertentangan antara apologia konservatif dengan ikon tanpa tandingan, yang berisi teori sosial Parsons, pemetaan dunia sosial tanpa memakai fungsionalisme struktural, pemikiran Parsons tentang kekuasaan. Bab ke-14 adalah mengenai Nietzsche yang mengemukakan teori sosial pada penghujung Millenium. Pemikiran ini sendiri mengangkat aspek dialektika modernitas, keruntuhan sejarah subyektif, dan pergulatan Nietzche dengan proletarianisme psikis. Bab ke-15 mengenai teori kritis yang berkiblat kepada mazhab Frankfurt dengan membawa konsep dialektika dan negativitas, totalitarianisme dan analisis negara, kepribadian otoriter, industri kebudayaan, Habermas, serta post-strukturalisme dan post-modernisme. Bab ke-16 adalah teori tindakan komonikatif Jurgen Habermas yang terurai dalam komunikasi normal, sistem dan lifeworld, sistem, rasionalisasi dan diferensiasi, serta patologi sosial. Pada bab ke-17 adalah mengenai interaksionisme simbolik yang mengangkat premis-premis pedoman dalam interaksionisme simbolik, bidang kontribusi utama, serta kebudayaan dan kesenian. Bab ke18 adalah mengangkat tentang fenomenologi yang berisi kedaulatan dan pengalaman, kesadaran, ide esensial fenomenologi, pengalaman transendental, subyektivitas sejarah, roh dalam modernitas, implikasi fenomenologi terhadap teori sosial, serta gerak osiator. Bab ke-19 adalah mengenai dasar-dasar etnometodologi yang berisi pemikiran tentang sosiologi asimetris pengganti, penjelasan atasnya yang bukan sebagai teori dan bukan sebagai metodologi, tertib sosial biasa, karakteristik kanonis dengan analisis percakapan, serta dasar-dasar etnometodologis. Bab ke-20 adalah mengenai teori pertukaran sosial dan jaringan pertukaran yang memuat konsep dan asumsi dasar, latar belakang sejarah, tradisi kekuasaan ketergantungan pada masa kontemporer, teori-teori baru tentang pertukaran, jaringan, dan kekuasaan, serta perspektif-perspektif yang muncul terhadap topik-topik yang terabaikan. Bab ke-21 adalah mengenai pilihan rasional sosiologi yang berisi tentang penjelasan pilihan rasional, serta kekhasan pada analisis rasional. Bab ke-22 adalah mengenai kontinum liberal, teori feminis anti liberal, teori feminis postmodernis, teori postmodernis, teori sudut pandang feminis, feminis materialis, dan teori negara feminis. Bab ke-23 adalah multikulturalisme yang menjelaskan masalah teoretis yang disebabkan oleh multikulturalisme dan teori yang dapat menjelaskan tentang multikulturalisme. Bab ke-24 adalah mengenai teori sosial dan postmodern yang menungkap kedatangan postmodern, epistemologi dan metode, nilai dan politik, serta perubahan dalam budaya dan masyarakat. Bab ke-25 adalah mengenai Michel Foucault yang mengungkapkan tentang kontinuitas dan diskontinuitas dalam pembahasan kekuasaan, liberalisme, biopolitik, dan kedaulatan. Bab ke-26 adalah mengenai masalah makro dan mikro serta masalah struktur dan keagenan. Bab ke-27 adalah mengenai pemikiran Nobert Elias dan sosiologi proses tentang teori masyarakat manusia, proses sivilisasi dan desivilisasi, serta pengaruh pemikiran Elias dengan sosiologi pada masa kini.

Pada bagian ketiga adalah mengangkat persoalan-persoalan yang melanda dalam teori sosial, bagian ini terdiri atas 12 bab. Pada bab ke-28 adalah tentang positivisme di abad ke-20 yang mengangkat peninggalan Comte, model ilmu positivitis, tantangan dari teori kritis, penelitian kualitatif dan alasisis statistik, tantangan dari pendekatan kualitatif, realitas ilmiah, feminis, postmodernisme, serta prospek positivisme. Pada bab ke-29 adalah mengenai metateorisasi dalam sosiologi yang berisi tentang prevalensinya, serta isu-isu utama terkait tujuan, proses, serta produknya. Bab ke-30 adalah berisi studi budaya dan teori sisial yang memuat asal usul studi budaya di Inggris, populisme budaya dan politik tentang yang populer, perubahan dalam studi budaya ke arah postmodern, serta studi budaya dalam pengamatan. Bab ke-31 adalah teori-teori konsumsi yang berisi tentang kritikan dari teori klasi hingga ke postmodern, obyek konsumsi, subyek konsumsi, tempat konsumsi, serta proses konsumsi. Bab ke-32 adalah mengenai seksualitas yang berisi penjelasan pemikiran Freud, Foucault, antara feminisme dan seksualitas, sosiologi seks, serta teori Queer. Bab ke=33 adalah dasar-dasar teori yang menubuh, berisi penjelasan tentang agen kognitif dalam teori sosiologi, upaya mengutamakan tubuh, sumber daya yang digunakan untuk pembentukan teori sosial tentang tubuh, serta upaya menubuhkan teori-teori sosial. Bab ke-34 teori globalisasi 2000+ sebagai sebuah problematika utama yang memfokuskan perhatiannya pada kecenderungan globalisasi, hal-hal yang mendorong terjadinya globalisasi, arah perubahan globalisasi, relasi antara lokal dan global, pelemahan negara modern dengan proses globalisasi, hubungan modernitas dengan globalisasi dan globalitas, perseteruan antara homogenitas dengan heterogenitas. Bab ke-35 adalah tentang nasionalisme bangsa dan negara yang mempertanyakan kenyataan adanya bangsa, kemoderenan bangsa, bangsa sebagai gambaran imajiner, pendefinisian bangsa, dimensi sosial yang mencakup faktor-faktor struktural, inklusi dan ekslusi, pembentukan identitas dan mobilisasi, progres dan regresi, nasionalisme – kebangsaan – kewarganegaraan, nasionalisme dan postnasionalisme. Bab ke-36 mengenai harapan modern sebagai bayang-bayang postmodern. Bab ke-37 mengenai masyarakat modern sebagai masyarakat yang berpengetahuan, yang memuat masyarakat pengetahuan, pengetahuan tentang pengetahuan, mengetahui dan yang diketahui, pengetahuan sebagai kapasitas dalam bertindak, pengetahuan sebagai modal, batas-batas kekuasaan pengetahuan, ekonomi berbasis pengetahuan, serta perilaku individu dan kolektif dalam masyarakat. Bab ke-38 adalah sosiologi, moralitas, dan etika, yang menjelaskan tentang hubungan antara sosiologi, filsafat, dan moralitas, masyarakat moralitas dan sosialitas, dualisme watak manusia, tanggungjawab etika kehidupan bermoral dan dnuia politik masyarakat, etika teorisasi kritis dan kehidupan bermoral. Bab ke-39 adalah tentang relasi post sosial dan teorisasi sosialita dalam lingkungan post sosial, yang memuat sosialitas sebagai fenomenon sejarah, kemunculan imajinasi yang berpusat pada subyek, sensor batin ke bayangan cermn, obyek sebagai struktur pengungkap ketiadaan, relasi pos sosial, dan bentuk manusia sebagai post sosial.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar