Sabtu, 15 November 2014

Konstruksi Makna Tato pada Anggota Komunitas “Paguyuban Tattoo Bandung” | Reza Pahlevy

Kita sering melihat orang-orangyang menggunakan tato, baik di lingkungan tempat tinggal maupun di media massa. Tato tersebut menghiasi satu atau beberapa bagian dari tubuh mereka. Jika ditinjau dari sejarahnya, tato tidak gunakan oleh orang-orang secara sembarangan, melainkan ada tujuan-tujuan dan makna-makna khusus dari penggunaan tato tersebut. Melihat sejarah tato di Indonesia, realitas tato sempat mendapat tanggapan yang negatif. Orang-orang yang menggunakan tato dinilai buruk, sering membuat keonaran, dan sering diidentikkan dengan penjahat. Realitas ini terbentuk dan mendapat pengesahan secara tidak langsung ketika pada tahun 1980-an terjadi peristiwa petrus (penembakan misterius) terhadap orang-orang jahat.
Saat ini banyak bermunculan komunitas tertentu yang tujuan didirikannya tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhan manusia, salah satunya adalah Paguyuban Tattoo Bandung. Kebutuhan yang dimaksud di sini sesuai dengan tujuan dan karakteristik dari komunitas tersebut. Mereka yang tergabung dalam suatu komunitas artinya memiliki ketertarikan yang sama terhadap suatu hal.
Dari sisi komunikasi, penelitian terhadap pemaknaan tato oleh anggota komunitas Paguyuban Tattoo Bandung sangat menarik untuk dilakukan. Penelitian dapat dilakukan dengan mengkaji bagaimana pemaknaan dan faktor-faktor yang mendorong ketertarikan terhadap tato yang dilakukan oleh anggota komunitas Paguyuban Tattoo Bandung, serta bagaimana interaksi yang terjadi pada komunitas tersebut. Pendekatan dengan metode kualitatif dirasakan oleh penulis sesuai untuk penelitian ini karena penelitian yang dilakukan berkaitan dengan dinamika kehidupan manusia, yaitu pemaknaan dan interaksi yang dilakukan oleh manusia. Perspektif konstruksi realitas sosial merupakan pendekatan yang sesuai untuk melakukan kajian terhadap hal ini. Penulis menggunakan perspektif konstruksi realitas secara sosial sebagai pedoman dalam menafsirkan konstruksi makna yang dilakukan oleh anggota komunitas Paguyuban Tattoo Bandung terhadap tato.
Berkaitan dengan hal tersebut, penulis berusaha mengkaji fenomena pemaknaan tato pada anggota komunitas Paguyuban Tattoo Bandung melalui penelitian dan menuangkannya ke dalam sebuah karya ilmiah dalam bentuk tulisan dengan judul Konstruksi Makna Tato Pada Anggota Komunitas “Paguyuban Tattoo Bandung”.

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka kesimpulan dari penelitian ini adalah realitas makna tato menurut pandangan anggota komunitas Paguyuban Tattoo Bandung, yaitu sebagai identitas, karya seni, dan bisnis. Makna tato Sebagai identitas menunjukkan identitas mereka sebagai pencinta dan penggemar tato. Makna tato sebagai seni meliputi hobi, ekspresi, kreativitas, dan gaya hidup. Sedangkan makna tato sebagai bisnis yaitu sumber penghasilan. Faktor yang melatarbelakangi ketertarikan anggota komunitas Paguyuban Tattoo Bandung terhadap tato terbentuk dalam dua lingkup, yakni ranah individu dan ranah komunitas. Dalam ranah individu, ketertarikan mereka terhadap tato dilatarbelakangi oleh empat faktor, yaitu motivasi internal, motivasi eksternal, keterampilan, dan tujuan. Sedangkan dalam ranah komunitas dilatarbelakangi oleh tiga faktor, yaitu orientasi terdahulu, orientasi sekarang, dan orientasi masa depan. Makna tato mengalami pergeseran dari dulu hingga saat ini, mulai dari kebudayaan tradisional, budaya populer, budaya tandingan, hingga konsumsi dan komersialisme. Di Indonesia tato sempat mendapat tanggapan yang negatif pada tahun 1980-an, namun saat ini penggunaan tato lebih kepada trend perkembangan fashion dan gaya hidup seseorang. Saran penelitian ini adalah pemaknaan yang dilakukan oleh individu terhadap tato saat ini beragam dan dilatarbelakangi oleh berbagai aspek. Penulis menyarankan penilaian secara komprehensif atau menyeluruh terhadap penggunaan tato dari berbagai aspek berdasarkan faktor-faktor yang melatarbelakanginya. Penulis menyarankan bagi calon pengguna tato untuk mempertimbangkan secara matang tujuan dan motivasi dari penggunaan tato tersebut,serta memperhatikanperkembangan dari realitas tato secara sosial di masyarakat, karena tato melekat di tubuh seumur hidup.

Daftar Pustaka
Bungin, Burhan. 2008. Sosiologi Komunikasi: Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi Komunikasi Di Masyarakat. Jakarta: Kencana.
Effendy, Onong U. 1989. Kamus Komunikasi: Polarisasi. Bandung: Mandar Maju.
Fisher, Aubrey. 1997. Teori-teori Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Fiske, John. 2006. Cultural and Communication Studies: Sebuah Pengantar Komprrehensi. Yogyakarta: Jalasutra.
Goldberg, Alvin A. and Carl E. Larson. 2006. Komunikasi Kelompok: Proses-proses Diskusi Dan Penerapannya. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Kuswarno, Engkus. 2008. Etnografi Komunikasi. Bandung: Widya Padjadjaran.
_______ . 2009. Fenomenologi. Bandung: Widya Padjadjaran.
Liliweri, Alo. 2007. Makna Budaya Dalam Komunikasi Antarbudaya. Yogyakarta: LKiS.
Mulyana, Deddy. 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
_______ . 2008. Metode Penelitian Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Olong, Hatib A. K. 2006. Tato. Yogyakarta: LkiS.
Rakhmat, Jalaluddin. 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdkarya.
Severin, Werner J. and James W. Tankard. 2008. Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, Dan Terapan Di Dalam Media Massa. 5th ed. Jakarta: Kencana.
Soekanto, Soerjono. 1975. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Yayasan Penerbit Universitas Indonesia.
Sugiharto, Bambang. 1996. Postmodernisme. Yogyakarta: Kanisius.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suparno, Paul. 1997. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius.
Thoha, Miftah. 1998. Perilaku Organisasi. Jakarta: PT RajaGrafindo persada.
Unpad, Tim D. F. 2007. Jurnal Komunikasi Dan Informasi. Jatinangor, Indonesia/Jawa Barat: FIKOM Unpad.
Unpad, Fakultas I. K. 2011. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan. Jatinangor, Indonesia/Jawa Barat: FIKOM Unpad.
Jurnal Elektronik:
Banuah Ujung Tanah. 2010. “Arti Dan Makna Tato Bagi Masyarakat Dayak Di Kalimantan.” Retrieved October 3 (http://banuahujungtanah.wordpress.com/2010/03/10/arti-dan-makna-tato-bagi-masyarakat-dayak-di-kalimantan/).
Blog Sejarah. 2010. “Sejarah tato Mentawai Tato Tertua Di Dunia.” (http://blog-sejarah.blogspot.com/2010/11/sejarah-tato-mentawai-tato-tertua-di.html).
Departemen Sosiologi FISIP UNAIR. n.d. “Teori Interaksi Simbolik mead.” (http://sosiologi.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=74:teori-interaksi-simbolik-mead&catid=34:informasi).
Jurnal SDM. 2009. “Komunikasi antar Budaya ; Definisi, dan Hambatannya.” (http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/komunikasi-antar-budaya-definisi-dan.html).
Manuaba, Putera. 2010. “Memahami Teori Konstruksi Sosial.” Masyarakat Kebudayaan Dan Politik. Retrieved 2012 (http://mkp.fisip.unair.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id=119:memahami-teori-konstruksi-sosial&catid=34:mkp&Itemid=61).
Media Indonesia. 2010. “Tindik Berkaitan Dengan Perilaku Berisiko.” (http://www.mediaindonesia.com/mediahidupsehat/index.php/read/2010/04/05/2357/2/Tindik-Berkaitan-dengan-Perilaku-Berisiko).
Nonadita. 2010. “Tato Mentawai, tato Tertua Di Dunia.” Travel Nonadita. (http://travel.nonadita.com/tato-mentawai-tato-tertua-di-dunia/).
Rahardjo, Mudjia. 2010. “Triangulasi Dalam Penelitian Kualitatif.” Prof. Dr. Mudjia Rahadjo, M.Si. (http://www.mudjiarahardjo.com/component/content/270.html?task=view).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar