Minggu, 16 Juni 2013

Perguruan Tinggi Indonesia Jangan Terobsesi Ranking

Ranking merupakan salah satu indikator performa sebuah perguruan tinggi. Di tengah maraknya upaya internasionalisasi, perguruan tinggi berlomba-lomba mengejar ranking agar diakui sebagai perguruan tinggi kelas dunia dan berkualitas.
Meski demikian, ranking yang dikeluarkan oleh lembaga perankingan dunia sebaiknya tidak menjadi satu-satunya indikator kualitas perguruan tinggi. "Internasionalisasi bukan berarti memiliki ranking di tingkat internasional. Seharusnya yang menjadi fokus perguruan tinggi adalah pengakuan internasional melalui keunikan universitas," demikian yang diungkapkan oleh Dra. Tjitjik Srie Tjahjandarie, M.S., Ketua Badan Perencanaan dan Pengembangan (BPP) Universitas Airlangga.
Tjitjik mengungkapkan hal tersebut dalam acara International Office (IO) Meeting 2013 yang diadakan oleh International Office and Partnership (IOP) Universitas Airlangga (UA) di Hotel Bumi, Surabaya (30/4). Pertemuan ini diadakan sebagai ajang silaturahmi antar International Office dari seluruh Indonesia.
“Universitas Airlangga misalnya, kami menganggap ranking sebagai efek sampingf dari capaian yang telah dilakukan. Ranking bukan sesuatu yang kami kejar, tetapi kami ingin menunjukkan kepada dunia keunikan Universitas Airlangga sebagai National Health Science Center. Melalui upaya mengejar keunikan tersebut, lembaga perankingan dunia akhirnya mengakui kami,” tutur Tjitjik.
Pernyataan Tjitjik tersebut juga diamini oleh Prof. Daniel M. Rosyid, Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur. Menurutnya,ranking tidak boleh dianggap lebih penting dari pengakuan. Jika perguruan tinggi terlalu menganggap penting sebuah ranking, hal itu bisa memicu perbuatan tidak bertanggung jawab, misalnya manipulasi data.
"Untuk perguruan tinggi yang belum memiliki ranking, fokuslah pada nilai-nilai yang dibangun. Tunjukkan keunikan universitas, itu akan menarik perhaian internasional. Bangun proses yang baik dan akuntabel, lakukan manajemen yang baik. Selanjutnya, ranking yang akan datang sendiri," saran Prof. Daniel. 
Kondisi yang terjadi saat ini, ada bermacam-macam ranking yang dikeluarkan oleh lembaga perankingan dunia. Setiap lembaga memiliki kriteria sendiri dalam menentukan peringkat perguruan tinggi. Ada yang melihat dari visibiltas website, ada pula yang melihat dari segi reputasi akademik, citasi per fakultas, rasio dosen dan mahasiswa, serta reputasi employability lulusan. Bahkan ada pula yang melihat dari segi penerapan konsep hijau (green campus).
IO Meeting yang diadakan untuk kedua kali ini dihadiri perwakilan International Office dari 35 perguruan tinggi seluruh Indonesia. Tema yang dibahas kali ini adalah standarisasi perankingan. Tujuannya adalah menyadarkan perguruan tinggi di Indonesia untuk memilih lembaga perankingan yang sesuai dengan nilai-nilai mereka.
Selain itu, dalam IO Meeting kali ini, IOP UA mengundang 12 perguruan tinggi asing yang telah menjadi partner UA, seperti Melbourne University, Macquaire University, Chatham University, University of Pittsburgh, dan University of West England. Diharapkan peserta IO Meeting dapat membangun kerja sama dengan mereka.
"Kami berupaya menghubungkan partner internasional kami dengan rekan sesama IO. Selama ini kita selalu melihat universitas lain di luar negeri yang sudah maju, tapi kita lupa melihat tetangga kita di Indonesia. Harapannya, melalui IO Meeting ini, kerja sama antar perguruan tinggi di Indonesia juga sebaik kerja sama dengan universitas luar negeri," ujar IGAK Satrya Wibawa, MCA., Ketua IOP Universitas Airlangga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar