Sabtu, 17 Agustus 2013

Bahaya Capres yang bukan Pemimpin Partai

Baru-baru ini ada beberapa partai politik yang mencoba merekrut capres dari luar partai mereka. Tentu saja satu-satunya alasan mereka rela melakukan ini adalah karena popularitas capres tersebut pasti lebih tinggi dari popularitas partai mereka.

Sejujurnya, saya tidak bisa mengerti kenapa partai politik negara kita bisa menjual diri mereka seperti ini. Sepertinya mereka sudah sangat putus asa sehingga semua cara bisa dihalalkan asalkan partai mereka bisa memegang kekuasaan.

Dalam dua Pemilu yang terakhir, saya memilih capres dan partainya karena, benar atau tidak, saya menghargai visi dan kepribadian partai itu. Bagaimana mungkin seorang capres yang baru bergabung dengan partai penyosongnya dalam 1 tahun terakhir bisa menjiwai semangat partai itu?

Tentu saja sejarah penuh dengan bencana ketika pemimpin negara tidak mempunyai kuasa penuh atas instrumen politiknya. Biasanya pemimpin-pemimpin negara ini akan jatuh karena pembangkangan dari dalam partainya. Bahkan ‘raksasa-raksasa’ dalam bidang politik pun bisa jatuh karena pemberontakan internal partai mereka, lihat saja cerita Margaret Thatcher dan Tony Blair.

Skenario yang lebih parah lagi adalah apabila capres yang sudah menang kemudian harus ‘membalas budi’ kepada orang-orang partai yang sudah membawanya naik tahta. Dalam situasi seperti ini, nepotisme dan korupsi sudah dipastikan akan merajalela di negara kita.

Jadi, partai mana yang akan anda pilih?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar