Selasa, 02 Juli 2013

Pilgub Minimalis di Jatim

Tenyata tak hanya soal rumah saja kita mengenal konsep minimalis. Rumah minimalis lagi ngetrend dalam 5 tahun terakhir. Dengan lahan yang tak begitu luas, arsitek rumah mampu mendesain postur rumah yang efektif, efisien, dengan fungsi optimal. Selain itu, dari aspek estetika, rumah itu sedap dipandang mata dan menunjukkan modernitas. Konsep rumah minimalis cocok diterapkan di kawasan kota besar, yang memiliki lahan terbatas dengan harga tanah sangat mahal. 

Konsep minimalis itu tak hanya berlaku dalam urusan membangun rumah. Pilgub Jatim 2013 ini, oleh sebagian kalangan, disebut-sebut sebagai pilgub minimalis. Hal itu setidaknya dibandingkan dengan Pilgub Jatim 2008/2009 lalu yang berlangsung 3 putaran dan menghabiskan anggaran hampir Rp 1 triliun. 

Kenapa Pilgub Jatim 2013 ini disebut minimalis ? Pertama, Pilgub Jatim 2013 ini relatif sepi media peraga luar ruang. Bando, baliho, spanduk, umbul-umbul, dan jenis media peraga lainnya, dengan konten menyosialisasikan nama calon dan partai pengusungnya, tak sesemarak dibanding menjelang Pilgub Jatim 2008/2009. 

Pengamatan penulis di kawasan Surabaya dan Gresik nyaris tak ada media peraga dalam ukuran signifikan para bakal cagub-cawagub Jatim. Yang terpampang cukup banyak adalah spanduk milik pasangan PDIP Bambang DH-Said Abdullah dengan tagline 'Jempol'. Sedang duet petahana Soekarwo-Saifullah Yusuf (KarSa) dan Khofifah Indarparawansa-Herman S Sumawiredja (Berkah) relatif tak banyak memanfaatkan media peraga luar ruang secara masif. 

Kedua, tingkat kualitas kompetisi dan kontestasi politik Pilgub Jatim 2013 ini tak seketat dibandingkan dengan Pilgub Jatim 2008/2009. Ibaratnya, pada Pilgub Jatim 2008/2009 lalu, para kontestan berangkat dari titik start yang sama. Sebab, tak ada petahana yang ikut berkontestasi. Sedang Pilgub Jatim 2013 ini, antara keempat bakal cagub-cawagub berangkat dari titik start yang tak sama. Duet Pakde Karwo-Gus Ipul sebagai calon petahana hakikatnya telah melakukan sosialisasi dan 'kampanye' program pembangunan dan pemerintahan yang dikelolanya sejak kali pertama dilantik sebagai gubernur-wagub Jatim pada Februari 2009 lalu. 

Ketiga, kemungkinan besar Pilgub Jatim 2013 yang berlangsung minimalis hingga saat ini, karena belum ada cagub-cawagub yang ditetapkan secara final oleh KPU Jatim. Duet KarSa dan Bambang-Said kemungkinan besar bisa lolos verifikasi KPU Jatim tanpa menyisakan problem serius. Tapi, bagi pasangan Berkah dan Eggi Sudjana-M Sihat, peluang mereka lolos verifikasi KPU Jatim masih fifty-fifty. Berkah diharapkan pada dualisme dukungan politik PK dan PPNUI, karena kedua partai ini juga mendukung duet KarSa. Pasangan Eggi-Sihat juga dihadapkan pada persoalan pemenuhan syarat dukungan minimal yang absah berdasar peraturan perundang-undangan sebagai calon dari jalur independen. 

Keempat, tempo Pilgub Jatim 2013 sangat dekat dengan agenda perhelatan Pemilihan Umum Legislatif (Pileg) 2014. Sehingga konsentrasi partai dan elitenya terpecah dan tak utuh. Mungkin mereka lebih mengonsentrasikan sumber daya politiknya (anggaran, strategi politik, jaringan kader dan pendukung, dan lainnya) untuk kepentingan Pileg 2014, bukan pada Pilgub Jatim 2013. Karena Pileg 2014 ini tak sekadar menentukan nasib partai, tapi juga karir ke depan masing-masing elite parpol yang menjadi caleg. Di sisi lain, agenda Pilgub Jatim hakikatnya lebih banyak memperjuangkan kepentingan personal elite calon (cagub dan cawagub) yang kemungkinan besar manfaat politiknya kurang bisa dirasakan secara langsung para elite masing-masing parpol. 

Terakhir, dalam perspektif psikologi-politik, pengalaman Pilgub Jatim 2008/2009 yang berlangsung 3 putaran dan menghabiskan ongkos finansial-politik hampir Rp 1 triliun, memberikan implikasi politik hingga menjelang Pilgub Jatim 2013 dihelat. Pilgub Jatim 2008/2009 yang mengharu-biru itu merupakan kontestasi politik paling mahal di Indonesia dalam perspektif pilgub dan menyisakan luka politik yang belum benar-benar sembuh hingga sekarang. Buktinya, di banyak kesempatan, Khofifah Indarparawansa sebagai kompetitor KarSa di 3 putaran Pilgub Jatim 2008/2009 merasa bahwa kontestasi politik itu berlangsung tak fair dan diwarnai kecurangan. 

Kelihatannya kombinasi antara faktor kebutuhan internal elite dan parpol, minimnya sumber daya finansial politik, mepetnya tempo Pilgub Jatim 2013 dengan Pileg 2014, dan trauma politik Pilgub Jatim 2008/2009 mengakibatkan Pilgub Jatim 2013 ini iklim politiknya lebih teduh dan dingin. Hingga 2 bulan menjelang hari H pencoblosan Pilgub Jatim 2013, nyaris tensi politik Jatim bergerak di tataran normal dan dinamika politiknya stagnan. 

Fenomena politik ini terbentuk, apakah karena warga Jatim acuh dengan agenda Pilgub Jatim 2013 ? Ataukah ada 'kekuatan besar' yang menskenario agar Pilgub Jatim 2013 ini berlangsung dengan prinsip diam tapi sukses. Tentunya dengan tetap merujuk pada aturan main yang ada, berlandaskan pada nilai sopan santun, adat tata krama dan perilaku beradab, sehingga Pilgub Jatim 2013 ini akan mampu terhindar dari suasana 'kebat-kliwat' pada setiap tahapannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar