Sabtu, 02 Maret 2013

Partai Agama (Belum) Tentu Bebas dari Dosa


Nenek moyang manusia (Adam dan Hawa) pernah berlumuran dosa dan pembangkangan pada kehendak Ilahi. Hingga terusir dari surga dan terdampar di bumi. Namun pada titik itulah mereka jadi manusia seutuhnya. Mahluk pendosa. Jadi, kita punya suri tauladan yang sempurna!
Apakah jika mahluk pendosa masuk partai agama sifat pendosanya otomatis hilang begitu saja, berubah jadi malaikat? Lihatlah kenyataannya. Ia tetap manusia. Maka, jangan heran ketika tokoh partai agama tahu-tahu ketangkap terima suap, dari korupsi alih fungsi hutan lindung (Al Amin Nasution, kader PPP) sampai dugaan korupsi impor sapi (LHI Cs, Presiden PKS).
Di Indonesia ternyata terbukti bahwa kader-kader partai agama bisa juga kedapatan korupsi lalu berurusan dengan penegak hukum. Persis sama dengan kader-kader partai non-agama, hanya beda di kuantitas dan kualitas saja. Intinya tetap sama, sama-sama korupsi.
Adalah mimpi berharap manusia sebagai mahluk politik bebas dosa, termasuk bebas dari korupsi di tengah budaya dan sistem politik yang korup. Sedangkan di sistem surga saja manusia tetap mampu mencari celah untuk melanggar batas larangan, karena itulah tabiat manusia.
Mimpi pula jika seorang berjanggut, bersorban, dan bercelana gantung tampilannya benar-benar “islami” lalu tidak jelalatan lihat gadis montok atau duit menggunung sementara ia mampu untuk merengkuhnya dan tidak kelihatan oleh orang lain. Setidaknya tempuh jalur aman, tambah istri sekian dan sekian (poligami) sekalipun mengecewakan istri tua tentunya.
Termasuk ketika si “islami” itu masuk partai agama. Harus diingat, partainya memang berideologi agama, tapi manusianya tetap memiliki kharakter pendosa. Janggut seperti jamrut khatulistiwa tapi hati menggeletar melihat uang di mana-mana.
Sudahlah. Hilangkan harap partai agama bebas dosa. Partai adalah tempat homo sapiens menyalurkan hasrat politiknya akan kekuasaan. Untuk mencapai hasrat itu butuh ransum yang tak sedikit untuk bekal di jalan.
Merupakan karakter dasariah manusia jadi mahluk pendosa, apapun partainya. Kecuali partai agama itu dijalankan oleh para malaikat. Ini manusia semua isinya.
Yang mungkin mengurangi celah bagi aktivitas para pendosa itu dengan memperkuat sistem, baik cheks and balances di tubuh partai maupun kontrol dari pihak eksternal. Inilah pesan penting dari perpolitikan.
Dari sini mulai berangsur berterima fakta bahwa partai agama memang memiliki karakter dasariah sebagai pendosa. Kharakter yang dibawa oleh figur-figur kadernya yang notabene manusia semua.
Bisa jadi para pendosa itu terus berlumuran dosa bila tak ada introspeksi diri (pertobatan) dan perbaikan sistem, baik sistem kepartaian maupun sistem politik secara keseluruhan. Dosa, hampir pasti sebagai sebuah keniscayaan. Dan lebih pasti lagi godaan perdosaan ketika simbol-simbol agama di bawa ke politik praktis.

Konflik Tidak Selalu Bermula dari Kesenjangan Sosial


Setiap terjadi konflik, selalu saja dapat disimpulkan bahwa hal itu disebabkan oleh adanya kesenjangan. Seolah-olah kesenjangan memang benar-benar menjadi sebab setiap terjadi konflik.
Kesenjangan rupanya sudah menjadi sunatullah. Di dunia ini selalu saja ada orang pintar dan orang kurang pintar, ada orang kuat ada pula yang lemah, ada yang kaya dan ada yang miskin, dan bahkan ada yang baik dan selalu saja ada orang yang kurang baik. Kedua masing-masing jenis itu selalu ditampakkan oleh Tuhan. Begitu pula, ada konflik dan ada pula di antara orang-orang yang saling berbagi kasih sayang. Bahkan juga ada yang selalu sehat dan sebaliknya, ada yang selalu sakit-sakitan.
Kita semua menghendaki agar di tengah-tengah masyarakat selalu terjadi kedamaian, tidak ada kesenjangan, tidak ada yang miskin, semua saling kasih mengasihi, dan semua sehat. Boleh-boleh saja keinginan itu muncul. Akan tetapi cita-cita mulia seperti itu ternyata tidak pernah terwujud. Keadaaan indah seperti itu, hanya ada pada dunia ide atau bayang-bayang pada setiap orang.
Tuhan menciptakan kehidupan ini dalam keadaan berbeda-beda sebagaimana dikemukakan di muka. Atas dasar perbedaan itu maka muncul pula proses-proses sosial. Di masyarakat terjadi saling konflik, kompetisi, berintegrasi, dan yang satu mengkooptasi yang lain. Demikian pula di antara menghegeminik, saling menguasai, dan bahkan menjajah serta memeras. Hal-hal seperti itu adalah bersifat alami atau disebut sebagai sunnatullah.
Atas dasar kenyataan seperti itu, manusia ditantang untuk mengelola kehidupan sosial sebaik-baiknya. Manakala tidak ada proses-proses sosial itu, maka tidak akan terjadi dinamika sosial. Masyarakat akan mandek dan mungkin menjemukan. Sebagai contoh, manakala tidak ada orang sakit, maka orang tidak terinspirasi mendirikan rumah sakit, tidak ada orang belajar tentang kesehatan hingga menjadi dokter. Manakala tidak ada kejahatan, maka tidak akan perlu polisi, manakala tidak ada perang maka juga tidak dibutuhkan tentara, dan seterusnya.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah konflik sebagai bagian dari proses-proses sosial itu selalu saja disebabkan oleh kesenjangan. Kita lihat saja bukti-bukti berikut, di kota-kota besar kita saksikan gedung-gedung bertingkat menjulang tinggi namun di sebelahnya juga terdapat gubug-gubug reot beratapkan plastik atau seng dan berdinding seadanya. Ada orang yang setiap bulan berpenghasilan ratusan juta rupiah, tetapi sebaliknya ada orang yang berpendapatan puluhan ribu rupiah saja. Ada yang memiliki beberapa mobil mewah tetapi juga ada yang sekedar sepeda ontel saja tidak mempunyai, dan seterusnya.
Kesenjangan yang sedemikian jauh itu telah terjadi di mana-mana, tetapi ternyata kehidupan tetap berjalan. Padahal yang kaya belum tentu peduli pada yang miskin, yang pintar juga kadang justru memanfaatkan yang bodoh, dan bahkan ada pihak-pihak tertentu justru menjadi untung oleh karena ada orang sakit. Keadaan semua itu secara umum diterima oleh masyarakat. Mereka menganggap bahwa hidup, rizki, untung dan rugi, kaya dan miskin itu semua ada yang mengatur. Mereka merasa harus menerima atas pembagian oleh yang di atas. Atas kenyataan itu, mereka bekerja dan berusaha. Setiap usaha ada yang berhasil dan yang masih belum bernasib baik.
Berangkat dari kenyataan itu, maka sebenarnya konflik tidak selalu disebabkan oleh kesenjangan. Di mana-mana banyak terjadi kesenjangan tetapi tidak selalu melahirkan konflik. Masyarakat oleh Tuhan dibekali dengan kekuatan rasional. Berbekalkan kekuatan itu mereka akan memahami sebab-musabab hingga keadaan yang harus diterimanya. Misalnya, seseorang menjadi kaya oleh karena memiliki modal, warisan, cerdas, keuletan, rajin, dan seterusnya. Sementara orang lain tidak beruntung, tidak memiliki semua itu.
Namun yang pasti, orang menjadi marah hingga mengakibatkan konflik manakala diperlakukan secara tidak adil. Semua orang rupanya menghendaki agar sesuatu berada pada tempatnya. Manakala tempat itu tidak tepat, maka selalu saja akan melahirkan kekecewaan, dan itulah sebab konflik yang sebenarnya. Setiap orang merasa memiliki berbagai hak. Manakala hak-haknya itu diganggu sehingga rasa keadilan terampas, maka dimana saja dan kapan saja akan melawan. Rasa keadilan yang tidak terpenuhi itulah sebenarnya sebab utama terjadinya konflik dan bukan selalu kesenjangan. Oleh karena itu keadilan harus ditegakkan pada tingkat manapun. Sebab tidak adil selalu menjadi sebab utama terjadinya konflik. Wallahu a’lam...!!!

Butuh Pemimpin Nasional yang Tidak Mengalami Defisit Moral


Kesehatan merupakan salah satu dimensi vital yang strategis dalam kehidupan berbangsa, khususnya dalam aspek pembangunan manusia. Ini dikarenakan pembangunan kesehatan berhubungan langsung dengan upaya untuk menjamin tersedianya sumber daya manusia yang berkualitas sebagai resources yang sangat menentukan kemajuan dan masa depan sebuah bangsa (generasi unggul). Selain itu juga, kesehatan merupakan elemen konstitusi yang harus dan wajib diselenggarakan oleh negara, terlebih dalam konteks bagaimana menjamin terselenggaranya upaya kesehatan yang tanpa diskriminatif.
Di Indonesia, dimensi pembangunan kesehatan belum menjadi hal yang prioritas dalam kebijakan pemerintah, terlebih dalam rezim SBY. Hal ini dipengaruhi oleh kondisi demokrasi dan sistem politik yang dibangun saat ini, dimana orientasi yang dibangun masih berfokus pada upaya-upaya untuk bagaimana mendapatkan dan mempertahankan kekuasaan semata. Hal jelas terlihat lewat dinamika internal Partai Demokrat. Bagaimana sebuah rezim penguasa mampu melakukan segala cara untuk menyelamatkan dan melindungi dinasti dan oligarki politik yang dia bangun, tanpa segan-segan “merusak” konsepsi demokrasi itu sendiri. Substansi politik yang seharusnya menjadi tool’s untuk mensejahterakan masyarakat masih menjadi sebuah cita-cita yang utopis. Akibatnya, realitas kesehatan Indonesia hari ini benar-benar merupakan konsekuensi logis dari lemahnya perhatian pemerintah tersebut. Masih rendahnya Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index) serta ancaman tidak tercapainya Milenium Development Goal’s (MDG’s), ditambah lagi diskriminasi akses layanan kesehatan yang dialami oleh masyarakat miskin, jelas merupakan akibat dari pembangunan kesehatan yang belum menjadi priorotas utama. Sayangnya, Mr. President memilih lebih fokus pada persoalan partai Demokrat. Ini jelas menyimpang dari political value sebagai seorang kepala negara.
Hal diatas menjadi semakin kompleks dengan masih rendahnya kesadaran hidup sehat masyarakat kita, apalagi mereka dengan status ekonomi menengah kebawah. Kemiskinan adalah masalah utama yang menjadi akar masalah dalam dunia kesehatan hari ini. Upaya kesehatan edukatif lewat kegiatan yang berorientasi promotif dan preventif yang harusnya mampu menjadi antitesis dari persoalan tersebut, justru di- ”nina bobo” -kan pemerintah yang lebih fokus pada hal-hal yang bersifat kuratif-rehabilitatif. Maraknya korupsi yang melibatkan pihak cikeas, justru merupakan dosa dan pengkhianatan terhadap kemiskinan yang menggurita di masyarakat. Ini harus segera dikoreksi masyarakat!
Untuk itu, dibutuhkan sosok kepemimpinan nasional yang betul-betul memahami akar persoalan yang menjadi faktor krusial dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Sosok pemimpin profesional yang memiliki visi yang kuat, misi yang terukur, serta mampu menginspirasi seluruh elemen bangsa, tentunya dalam bingkai keIndonesiaan yang mampu menerjemahkan dan menjalankan dengan sepenuh hati apa yang telah dan menjadi amanah konstitusi demi tercapainya cita-cita politik sebagaimana yang menjadi harapan para founding father kita. Bukan sebaliknya, pemimpin nasional yang mengalami “defisit moral” yang hanya mengedepankan upaya-upaya untuk meraih dan melanggenggkan kekuasaannya, sebagaimana rezim yang hari ini berkuasa.

Siapa yang Sebenarnya Kejam dan Sadis?


Katanya Antasari Azhar dikriminalisasi oleh mabes polri? Tetapi kenapa putusan dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi, sampai Mahkamah Agung memvonisnya bersalah dan memberinya 17 tahun penjara ? Bahkan di tingkat peninjauan kembali pun, Mahkamah Agung putusannya menguatkan putusan tingkat kasasi tersebut. Desas desus yang beredar Antasari dikriminalisasi karena memproses hukum mantan kapolri Rusdi Hardjo, mantan ketua tim jaksa BLBI Urio Tri Gunawan, dan besan SBY Aulia Pohan.
Katanya Susno Duadji dikriminalisasi oleh mabes polri? Tetapi kenapa putusan dari pengadilan negeri, pengadilan tinggi, sampai Mahkamah Agung memvonisnya bersalah dan memberinya 3.5 tahun penjara ? Desas desus yang beredar Susno Duadji dikriminalisasi karena berusaha membongkar mafia hukum di mabes polri. Padahal dia sendiri adalah salah seorang mafia tersebut, dan juga perkataannya tentang KPK (cicak) dan polri (buaya) menyinggung SBY. Karena presiden-presiden negara sahabat meledek SBY dengan mengatakan pantas saja polisi Indonesia rekeningnya gendut-gendut. Pasti banyak makan hasil korupsi, rakus, dan serakah seperti buaya.
Katanya Bibit Samad Rianto & Chandra M. Hamzah dikriminalisasi oleh mabes polri? Tetapi kenapa berkas penyidikan bisa dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan Agung (P21), namun anehnya berkas tak pernah dibawa ke persidangan dan malah diterbitkan deponeering oleh kejaksaan agung, penghentian perkara demi kepentingan umum (alasan sosiologis) atas petunjuk presiden SBY. Desas desus yang beredar karena alasannya sama dengan Antasari Azhar, mereka adalah pimpinan KPK jilid 2 bidang penindakan yang telah memproses hukum mantan kapolri Rusdi Hardjo, mantan ketua tim jaksa BLBI Urio Tri Gunawan, dan besan SBY Aulia Pohan. Namun Bibit dan Chandra telah menyadari kekhilafannya kompakan dengan Antasari, dan memohon maaf atas khilafnya tersebut.
Katanya Anas Urbaningrum dikriminalisasi oleh KPK, padahal selama ini KPK terkenal tebang pilih dan bekerja profesional, bebas dari intervensi dan tekanan siapapun? Dugaan dikriminalisasi sepertinya betul juga. Jika melihat rangkaian peristiwa yang ada, mulai dari permintaan SBY agar Anas fokus masalah hukum padahal statusnya hanya sebagai saksi, bocornya draft sprindik yang baru diparah 3 pimpinan KPK, penandatanganan pakta integritas, gelar perkara yang hanya formalitas yang menghasilkan kesimpulan suara bulat bahwa Anas ditetapkan sebagai tersangka, dicabutnya paspor Anas Urbaningrum padahal ia sedang dicekal pergi keluar negeri oleh ditjen imigrasi, dan satu hal yang hampir pasti menurut perasaan Anas, bahwa ia adalah bayi yang lahir tak diharapkan di PD (anak haram).
Dunia politik, yang tak bisa dipisahkan dengan dunia hukum, memang kejam dan sadis. Dahulu kawan, kapan-kapan bisa jadi lawan, tergantung apa kepentingannya saat itu.
Siapa yang kejam dan sadis tersebut? Saya tidak secara pasti mengetahui jawabannya, karena Anas sendiri tak menyebutkan secara tegas dan jelas, namun dari ungkapan Nazaruddin saat akan diperiksa KPK bisa menjadi petunjuk : “Saya minta sama Pak SBY, jangan ganggu anak istri saya. Saya enggak akan ngomong apa-apa, saya lupa semuanya, saya enggak tahu apa-apa, Saya mengaku salah, kalu perlu saya enggak usah disidik langsung divonis saja, ditahan saja, enggak masalah”.
Faktanya saat ini, karena KPK menjadikan istrinya Neneng sri Wahyuni sebagai tersangka, menangkap dan menahannya, sehingga memaksa Nazaruddin dan Neneng berpisah dengan anak-anaknya. Nazaruddin jadi banyak omongan tentang korupsi yang dilakukan kader-kader PD apalagi yang dilakukan ketua umum Anas Urbaningrum, ia jadi ingat semuanya dengan baik termasuk bukti-bukti pendukungnya.

Sabtu, 23 Februari 2013

Salahkah Hukuman Mati bagi Para Koruptor?


Di antara sekian banyak kontestan Miss Indonesia 2013 yang tayang di RCTI tadi malam, saya menjagokan wakil dari Sulawesi Tenggara. Saya memilihnya karena dia cantik. Meski melulu pakek bahasa Indonesia saat jawab, dara 17 tahun ini terlihat tulus. Tapi wajah cantik saja enggak cukup, dia mungkin keliatan gugup. Dan bahwa ada banyak yang jauh lebih berkualitas dirinya. Tapi ada yang seru pas pertanyaan di Lima Besar. Yah, dia juga masuk TOP 5!
Pertanyaan itu datang dari seorang desainer lelaki yang sudah berumur. Pertanyaannya seperti ini, “Apa hukuman terbaik untuk koruptor agar memberikan efek jera?”.
MIss Sultra menjawab dengan yakin, “HUKUMAN MATI” entah bagaimana bahasa detilnya, tapi hukuman mati bagi para koruptor ini sangat memberikan efek jera juga untuk meminimalisasikan kepadatan penduduk. Usai menjawab, scene berganti sama si kakek berkacamata tadi. Yang tampak menepuk jidat dan pasang mimik tak puas. Sementara tepuk tangan bergemuruh. Entah menertawakan entah mendukung. Si Daniel yang bawain acara juga kasih respon yang menurut saya kurang cerdas. Terdengar sangat menertawakan dan menyepelekan. Yah, sial kali yah Miss Sultra dapat pertanyaan kayak gitu? Pertanyaan yang enggak membawanya sampai ke Top 3.
Apa mungkin HUKUMAN MATI bukan solusi? Apa mungkin juri gak setuju sama komentar tersebut. Jangan-jangan juri (terutama si kakek tadi) mengira bahwa jawaban itu terlalu ekstrim? Sehingga tanpa sadar mendukung para koruptor di Indonesia. Atau mengharapkan jawaban yang lebih enak? Mungkin seperti, mendikotomikan dulu korupsinya sampai sejauh mana. Apa kecil, apa besar. Namun waktu sepanjang 60 detik yang menuntut pikiran harus serba cepat dan tanggap, jawaban tadi menurut saya brilian. Tapi saya lupa, orang2 di bangku juri kan berkapabel semua. Secara orang-orang kaya mereka. (HAHAHAH!!! Apa hubungannya?)
Di Indonesia ini paradigmanya masih sama. Orang jawab pakek bahasa Inggris dianggap keren. Padahal yang penting kontennya. Memang banyak Miss Indonesia Top 10 yang jawabannya keren-keren. Mereka menunjukkan kalau mereka bisa english. Tapi soal konten atau isi jawaban, itulah yang terpenting. Wakil Jateng di Top 10 menjawab sempat ngeblang sendiri, namun dia berhasil jadi juara dua. Tentu penilaian sudah mulai pas karantina. Yah anggap saja semuanya cocok dan adil.
Di tangan Daniel, tayangan ini mirip Indonesian Idol. Kacrut banget! Pengumuman finalis yang masuk final aja kayak gaya-gaya Indonesian Idol babak eliminasi. belum lagi jam yang molor. Sampai lima jam kali ada. Isinya dipenuhi konser musik BCL, Chakra Khan, dan Trio Idol yang salah satunya masih lupa lirik mulu (Sapa? Tuh yang jabrig rambutnya kayak mi beku) Untungnya pas nyanyi kayak ada text screen.
Dan pemenangnya adalah Vania, asal Kalimantan Barat, Dia pintar seriosa, fluent english dan soal cantik, sesungguhnya lebih cantik Whulandary. Tapi di Miss World tampaknya bukan itu yang jadi patokan. Inesh Putri saja bisa masuk Top 15, padahal fisiknya biasa saja. Apakah Vania akan berjaya di Miss World 2013 yang tuan rumahnya adalah Indonesia sendiri? Kurang yakin, kalaupun masuk, mungkin hanya akan kembali masuk Top 15, atau tidak masuk sama seakali karena “jatah” Top 15 sudah dua tahun sebelumnya diberikan. Jadi tuan rumah bukan berarti hars place kan? Kayak kasus Thailand di Miss Universe 2005, atau Cyprus di 2000.

LDR di Zaman Serba Modern


Salah satu dampak dari pesatnya pertumbuhan teknologi berimbas pada dunia percintaan, pacaran, atau hubungan spesial lainnya. Dahulu kala, pasangan kekasih yang terpaksa menjalin hubungan jarak jauh akan sangat familiar dengan sebuah kantor berwarna oranye “Kantor Pos”. Dahulu itu ada sebuah dunia bernama "Dunia Filateli" yang sekarang tergantikan dengan sebuah dunia baru bernama "Dunia Maya".
Dunia maya adalah dunia hampir tanpa batas. Long Distance Relationship (LDR) atau hubungan jarak jauh tidak lagi menjadi kendala dengan adanya fasilitas-fasilitas dunia maya yang memanjakan para penggunanya untuk tetap bisa saling terhubung tanpa repot, (maksudnya tanpa repot-repot bolak-balik ke kantor pos), hanya dengan akses internet baik itu melalui HP, PC, dan Laptop mereka bisa berkomunikasi kapanpun, dimanapun selama masih ada sinyal dan tentu saja ada pulsa ya, hehee…
Berbeda dengan dunia maya, dahulu kala itu sangat populer dengan yang namanya perangko. Kertas kecil bergambar yang ditempel di ujung surat ini menjadi saksi bisu kisah asmara para LDR Mania. Sehingga tersebutlah Dunia Filateli, Filateli menjadi hobi pada masanya. Berbagai jenis perangko ditata sedemikian rupawan di sebuah album mulai dari perangko harga minimal sampai mahhaal juga ada. Duh, boros juga ya LDRnya jaman dahulu, hehee …
Dari jaman ke jaman, hubungan jarah jauh memang disamping memerlukan biaya yang tidak sedikit tapi juga pasangan akan dihadapkan dalam berbagai tes berat seperti: kesabaran, kecemburuan, kepercayaan dan kerinduan yang semua itu harus bisa dihadapi dan diterima sebagai konsekuensinya lho . .
Bagi pasangan yang sudah siap LDR, komitmen untuk tetap saling percaya mutlak harus walaupun cobaan-cobaan berat secara pasti akan datang menguji. Maka, sebelum melakukan LDR alangkah baiknya dipertimbangkan sematang mungkin ya..

Jadi Dokter Harus Kuat Uang maupun Otak


Saat mendekati detik-detik ujian masuk perguruan tinggi seperti sekarang ini banyak dari teman-teman saya yang bertanya-tanya, “Bagaiamana caranya masuk Fakultas Kedokteran?”. Semakin tahun, pendaftar yang memilih Fakultas Kedokteran sebagai bidang studi bukannya semakin berkurang malah terus bertambah. Padahal gosip mahalnya biaya pendidikan kedokteran terus saja santer terdengar. Bukan hanya puluhan juta malah bahkan ada yang ratusan juta. Entah darimana gosip tersebut terus berkembang hingga muncul pemikiran tersendiri bahwa hanya orang kaya saja yang bisa masuk ke fakultas bergengsi tersebut.
Terlepas dari berbagai pemikiran di atas, saya pun bertanya-tanya pula, “Kenapa ingin jadi dokter?”. Pertanyaan sederhana yang membuat mereka berpikir bahwa menjadi dokter bukan sekadar gaya-gayaan masuk ke fakultas bergengsi atau sekadar membanggakan orang tua. Bukan itu. Menjadi dokter adalah panggilan jiwa yang tidak hanya membutuhkan hati yang bersih tetapi juga otak yang mumpuni. Menjadi dokter bukan sekadar sanggup membayar “uang masuk” namun juga harus kuat “isi otaknya” bersaing secara sehat dengan pelajar hebat lainnya. Bahwa benar Indonesia hingga saat ini masih membutuhkan dokter karena total jumlah dokter hanya 110.000 dengan rasio 1:3.000 penduduk. Namun bukan berarti 72 fakultas kedokteran yang ada di Indonesia harus selalu diserbu peminat hanya karena negeri kita masih butuh dokter. Apalah arti banyak fakultas kedokteran jika lulusan dokter terus berkurang mutunya karena “isi otak” yang kurang dibandingkan “isi dompet”.
Isi otak dan isi hati berperan penting dalam pembelajaran menjadi dokter yang handal karena perjalanan menjadi dokter bukan perjalanan singkat seperti fakultas lain. Wajar kiranya karena dokter berhadapan dengan manusia yang mempunyai hati juga. Kesembuhan tidak saja bergantung dari kepintaran seorang dokter tetapi ditunjang oleh etika dan tata krama seorang dokter menghadapi pasien. Dua hal inilah yang sekiranya perlu dipikirkan ulang oleh calon mahasiswa kedokteran. Sudah siapkah menghabiskan waktu minimal lima atau enam tahun untuk selalu belajar, jatah tidur berkurang bahkan mental diuji selalu karena berhadapan dengan pasien gawat? Sudah siapkah mengurangi jatah bermain dan hidup enak? Bahkan jauh perlu dipikirkan jika menjadi dokter karena tulus mengabdikan diri, sudah siapkah bekerja di daerah terpelosok dan bukan hanya menjadi dokter di perkotaan? Jika anda berpikir hidup menjadi dokter itu bergelimang harta karena pasiennya banyak, maka anda saya sarankan untuk berpindah haluan dari awal. Banyak hal sebenarnya yang harus dipikirkan ulang ketika ingin menjadi dokter. Bukan hanya karena dipaksa orang tua yang ingin anaknya menjadi dokter. Jangan sampai sudah masuk namun keluar lagi lantaran “otak” dan “mental” yang tidak kuat.
Jika beragam pertanyaan tadi sudah dapat dijawab maka saya dengan bangga mempersilahkan teman-teman mendaftarkan diri ke Fakultas Kedokteran. Adapun menjawab berbagai gosip mahalnya biaya pendidikan kedokteran maka saya bagikan tips sukses masuk Fakultas Kedokteran, yakni : 1. Belajar sangat rajin dan berdoa tiada henti serta selalu mohon restu orang tua. Melewati passing grade Fakultas Kedokteran suatu universitas bukan hal mudah apalagi harus bersaing dengan pelajar hebat se-Indonesia sehingga butuh belajar luar biasa. Buktikan otak anda memang pantas untuk menerima ilmu kedokteran. 2. Uji coba hasil belajar anda sebanyak mungkin dengan makin sering mengikuti try out dengan beragam pilihan Fakultas Kedokteran dari beragam universitas. 3. Cari info sebanyak mungkin tentang Fakultaas Kedokteran yang ingin dimasuki termasuk rangkaian ujian menuju kesana. Jika lolos melalui SNMPTN atau SBMPTN maka lebih baik. Jangan mudah menyerah dan percaya begitu saja “kata orang” terkait pembiayaan masuk di suatu Fakultas Kedokteran. Semua hal terkait biaya masuk dan SPP dapat ditanyakan melalui nomer telepon fakultas yang bersangkutan. 4. Siapkan mental ketika mendapatkan pengumuman tidak lolos ke Fakultas Kedokteran suatu Universitas Negeri. Buka hati dan cari kembali informasi terkait “Ujian Masuk Khusus” di setiap universitas karena hampir sebagian besar universitas membuka jalur “khusus”. Jangan mudah percaya ketika ada gosip “uang masuk sangat mahal” sebelum anda benar-benar mengecek kebenarannya. Bahkan kalau perlu main langsung ke universitas yang dicita-citakan agar mendapatkan informasi yang benar.
Dan yang terakhir…tidak menjadi dokter bukan berarti dunia runtuh dan enggan melanjutkan kuliah. Tetap lanjutkan hidup anda dan timbalah ilmu lain. Jika anda memang sangat ingin dan harus menjadi dokter maka coba lagi ujian tahun berikutnya namun pasang target bahwa anda tidak boleh membuang waktu lebih dari dua tahun hanya karena harus menjadi dokter. Pikirkan total waktu yang harus dihabiskan untuk belajar menjadi dokter dapat mencapai 10 tahun ditambah masa penantian anda. Jurusan sukses bukanlah kedokteran saja karena di luar sana masih banyak jurusan yang menjanjikan kehidupan lebih baik dan nyaman dibandingkan menjadi seorang dokter. Satu hal lagi, anda tidak mungkin menjadi kaya dengan menjadi dokter! Anda menjadi kaya karena anda menghargai orang lain dan itu dapat anda lakukan di semua fakultas!