Rabu, 03 April 2013

Sekilas tentang Jeffrey C. Alexander


Sejak masa-masa awal sebagai intelektual, saya telah sibuk dengan problem tindakan sosial dan tertib sosial dan dengan kemungkinan mengembangkan pendekatan untuk problem-problem ini yang bisa menghindari pemikiran ekstrem satu dimensi. Saya selalu yakin bahwa dikotomi ini, meski penting sebagai aliran ideologis di dalam masyarakat demokrasi, dapat diatasi dalam dunia teoritis.
Perhatian teoritisku pertama kali muncul pada akhir 1960-an dan awal 1970-an, ketika saya berpartisipasi dalam gerakan protes mahasiswa di Harvard College dan Universitas California, Berkeley. Marxisme Kiri Baru (New Left Marxism) merepresentasikan usaha canggih untuk mengatasi ekonomisme Marxisme vulgar. Karena ia mendeskripsikan bagaimana struktur material saling berpenetrasi dengan kultur, personalitas dan kehidupan sehari-hari, Marxisme Kiri Baru yang kita pelajari sendiri menyediakan pelatihan penting pertamaku di jalan menuju sintesis teoritis, yang menandai karir intelektualku.
Pada awal 1970-an, saya kecewa dengan Marxisme Kiri Baru, sebagian karena alasan politik dan empiris. Kiri Baru beralih ke sektarianisme dan kekerasan yang membuatku takut dan tertekan, sedangkan krisis Watergate menunjukkan kapasitas Amerika untuk mengkritisi diri sendiri. Saya memutuskan masyarakat demokrasi kapitalis memberi kesempatan untuk inklusi, pluralisme, dan reformasi yang tidak dapat dibayangkan bahkan dalam versi Kiri Baru dari pemikiran Marxian.
Tetapi ada juga alasan teoritis yang lebih abstrak kenapa saya meninggalkan pendekatan Marxian. Karena saya semakin terlibat dalam teori klasik dan kontemporer, saya menyadari bahwa sintesis ini tercapai lebih karena hyphenating-Marxisme-psikoanalitik, Marxisme-kultural, Marxisme-fenomenologi-ketimbang dengan membuka kategori-kategori sentral dari tindakan dan tatanan. Sesungguhnya, kategori-kategori sentral dari tindakan dan tatanan. Sesungguhnya, kategori-kategori neo-Marxis untuk kesadaran, aksi, komunitas dan kultur adalah semacam kotak hitam. Pengakuan ini membuat saya menuju ke tradisi yang memberi sumber teoritis dari Marxisme Kiri Baru. Saya beruntung dalam upaya ini karena dibimbing oleh Robert Bellah dan Neil Smelser, yang ide-idenya tentang kultur, struktur sosial, dan teori sosiologi sangat mengesankanku dan terus menjadi sumber intelektual hingga kini.
Dalam Theoretical Logic in Sociology (1982-1983) saya memublikasikan hasil dari upaya ini. Ide untuk karya multivolume ini mulai tumbuh pada 1972, setelah pertemuan yang mengesankan dengan masterpiece Talcott Parson, The Structure of Social Action, yang membuat saya bisa melihat problem saya dengan Marxian dengan cara baru. Kelak, dibawah pengawasan Bellah, Smelser, dan Leo Lowenthal, saya bekerja melalui teori klasik dan kontemporer dengan kerangka baru ini.
Ambisi saya dalah Theoretical Logic adalah menunjukkan bahwa Durkheim dan Weber menyediakan teori yang ekspansif tentang kultur yang diabaikan oleh Marx dan Weber sesungguhnya mengembangkan sintesis sosiologis pertama yang riil. Akan tetapi, saya berkesimpulan bahwa Durkheim pada akhirnya bergerak dalam arah idealistik dan bahwa Weber mengembangkan pandangan mekanistik terhadap masyarakat modern. Saya menyatakan bahwa karya Parsons mesti dilihat sebagai usaha modern yang bagus untuk melakukan sintesis ketimbang sebagai teori dalam mode fungsionalis. Tetapi, Parsons juga gagal mencapai sintesis secara meyakinkan, dan membuat teorinya menjadi sangat formal dan berbasis normatif.
Dalam karya saya selama dekade terakhir, saya mencoba mencipta kembali kerangka untuk sintesis tersebut yang saya anggap sebagai harapan karya saya sebelumnya yang belum terpenuhi. Dalam Twenty Lectures: Sociological Theory Since World War II (1987b), saya mengatakan bahwa divisi dalam sosiologi pasca Parsonsian antara teori konflik dan teori ketertiban, pendekatan mikro dan makro, pandangan struktural dan kultural tidak bermanfaat. Pengelompokan ini mengaburkan proses sosial dasar, seperti pergeseran dan dimensi masyarakat yang saling bertentangan, yang selalu saling kait-mengait.
Respon saya terhadap jalan buntu ini adalah kembali ke perhatian asli dari Parsons (Alexander, 1985b; Alexander dan Colomy, 1990a) dan ke perhatian klasik awal (Alexander, 1988a).
Tetapi, dalam mencoba untuk mendorong teori ke dalam fase “pasca-Parsonian” baru, saya juga mencoba untuk melampaui teori klasin dan modern. Pertemuan saya dengan kelompok fenomenologis yang kuat di UCLA, khususnya dengan Harold Garfinkel, merupakan pemicu yang penting. Dalam Action and Its Environment (1987a), yang masih saya anggap tulisan karya teoritis terpenting, saya menyusun kerangka untuk artikulasi kaitan mikro-makro yang baru.
Saya juga berkonsentrasi pada pengembangan teori kultural baru. Pembacaan awal atas karya Cliford Geertz meyakinkan saya bahwa pendekatan ilmu sosial tradisional terhadap kultur adalah terlalu terbatas. Sejak saat itu, pendekatan saya sangat dipengaruhi oleh semiotika, hermenutika, dan pemikiran post-strukturalis. Dengan memasukkan teori-teori dari luar sosiologi, saya mencoba menyusun teori dimana struktur sosial dirasuki oleh kode-kode simbolik dan makna simbolik (lihat Alexander, 1988).
Saya percaya gerakan menuju sintesis teoritis ini sedang dilakukan di seluruh dunia. Dalam dunia pascakomunis, tampaknya penting untuk mengembangkan model-model yang membantu kita memahami demokrasi kita yang kompleks dan inklusif tetapi rapuh. Saya baru-baru ini menyusun teori demokrasi yang menekankan pada dimensi komunal yang saya sebut “masyarakat sipil”. Saya juga memublikasikan koleksi esai yang saya tulis untuk mengkritik berkembangnya relativisme dalam studi-studi manusia. Saya percaya, meski banyak bukti yang bertentangan, bahwa kemajuan adalah dimungkinkan bukan hanya dalam masyarakat tetapi juga dalam sosiologi. Hanya melalui pandangan multidimensional dan sintesis terhadap masyarakatlah kemajuan itu dapat dicapai.

Selasa, 02 April 2013

Sekilas tentang James S. Coleman


James S. Coleman memiliki karir yang sangat beragam dalam sosiologi; label "teoretisi" adalah hanya salah satu dari beberapa yang dapat diterapkan kepadanya. Dia menerima gelar Ph.D. dari Columbia University pada tahun 1955 dan setahun kemudian ia memulai karier akademisnya sebagai Asisten Profesor di Universitas Chicago (dimana ia kembali kesitu pada tahun 1973, setelah empat belas tahun tinggal di Johns Hopkins University, dan di mana dia tinggal sampai kematiannya). Pada tahun yang sama bahwa ia mulai mengajar di Chicago, Coleman adalah penulis junior (dengan Seymour Martin Lipset dan Martin A. percaya pd) dari salah satu studi tengara dalam sejarah sosiologi industri, jika tidak sosiologi secara keseluruhan, Uni Demokrasi. (Disertasi doktor Coleman di Columbia, disutradarai oleh Lipset, berurusan dengan beberapa isu dibahas dalam Uni Demokrasi.) Coleman kemudian mengalihkan perhatiannya pada penelitian tentang pemuda dan pendidikan, puncak yang merupakan laporan pemerintah tengara federal (itu datang untuk luas dikenal sebagai "Coleman Laporan") yang membantu memimpin dengan kebijakan yang sangat kontroversial dari angkutan bus sebagai metode untuk mencapai kesetaraan rasial di sekolah-sekolah Amerika. Melalui karya ini bahwa Coleman telah membawa dampak yang praktis lebih besar daripada sosiolog Amerika lainnya. Selanjutnya, Coleman mengalihkan perhatian dari dunia praktis untuk suasana yang kompleks sosiologi matematika (khususnya ntroduction untuk Mathemathical Sosiologi (1964) dan The Matematika Kolektif Aksi (1973). Pada tahun kemudian, Coleman beralih ke teori sosiologis, khususnya teori pilihan rasional, dalam publikasi buku Yayasan Sosial Teori (Coleman, 1990) dan berdirinya pada tahun 1989 dari jurnal Rasionalitas dan Masyarakat. Tubuh pekerjaan yang disebutkan di sini mencerminkan keragaman hampir tidak bisa dipercaya, dan tidak bahkan mulai menggaruk permukaan 28 buku dan 301 artikel yang tercantum di resume Coleman.
Coleman menerima gelar BS dari Universitas Purdue pada tahun 1949 dan bekerja sebagai seorang ahli kimia untuk Eastman Kodak sebelum ia memasuki departemen sosiologi terkenal di Universitas Columbia pada tahun 1951. Salah satu pengaruh utama Coleman adalah teoretisi Robert Merton, terutama kuliah-kuliahnya tentang Durkheim dan faktor-faktor penentu sosial perilaku individu. Pengaruh lain yang terkenal adalah pakar methodologi Paulus Lazarsfeld, dimana Coleman memperoleh minat yang diperoleh sepanjang hidupnya dalam metode kuantitatif dan sosiologi matematis. Pengaruh penting ketiga adalah Seymour Martin Lipset, yang tim peneliti Coleman ikuti, sehingga akhirnya berpartisipasi dalam produksi studi tengara, Uni Demokrasi. Dengan demikian, pelatihan lulusan Coleman memberinya pengenalan yang kuat kepada teori, metode, dan hubungan mereka dalam riset empiris. Dan dengan cara ini, model untuk semua calon sosiolog. 
Atas dasar pengalaman-pengalaman ini, Coleman menggambarkan "visi"nya untuk sosiologi ketika ia meninggalkan sekolah pascasarjana dan memulai karir profesionalnya : Sosiologi ... harus memiliki sistem sosial (apakah sistem kecil atau besar) sebagai unit analisa, bukan individu, tetapi hal itu harus menggunakan metode kuantitatif, yang hidup di balik teknik-teknik yang sistematis meminjami diri ke bias penyidik, gagal untuk meminjamkan diri untuk replikasi, dan sering kurangnya penjelasan atau fokus sebab-akibat. Mengapa aku, dan para mahasiswa lain di Columbia pada saat itu, memiliki visi ini? Saya percaya itu adalah kombinasi unik dari Robert K. Merton dan Paul Lazarsfeld. (Coleman, 1994:30-31).
Melihat kembali dari sudut pandang pada pertengahan 1990-an, Coleman menemukan bahwa pendekatannya telah berubah, tetapi tidak sebanyak yang diasumsikan. Sebagai contoh, sehubungan dengan karyanya tentang permainan simulasi sosial di Johns Hopkins pada 1960-an ia berkata, "Mereka membawa saya untuk mengubah orientasi teoretis saya dari satu di mana sifat-sifat sistem tidak hanya penentu tindakan (a la Emile Durkheim's studi Suicide ), ke satu yang lain di mana mereka juga kadang-kadang merupakan konsekuensi dari tindakan yang dimaksudkan, kadang-kadang tidak disengaja "(Coleman, 1994:33).
Jadi, Coleman memerlukan teori aksi, dan ia memilih, sama dengan sebagian besar para ekonom, yayasan yang paling sederhana , yang rasional, atau jika Anda lebih suka, tindakan yang bertujuan. Tugas sosiologi yang paling hebat adalah pengembangan teori yang akan bergerak dari tingkat tindakan mikro ke tingkat makro dari norma-norma, nilai-nilai sosial, distribusi status dan konflik sosial. (Coleman, 1994: 33).
Inilah minta yang menjelaskan mengapa Coleman ditarik ke arah ilmu ekonomi : Apa yang membedakan ekonomi dari ilmu-ilmu sosial lainnya adalah bukan penggunaan dari "pilihan rasional" tetapi penggunaan dari suatu cara analisis yang memungkinkan bergerak antara tingkat tindakan individu dan tingkat system yang berfungsi. Dengan membuat dua asumsi, bahwa orang-orang bertindak rasional dan pasar yang sempurna dengan komunikasi penuh, analisis ekonomi mampu menghubungkan tingkat makro sistem yang berfungsi dengan tingkat mikro tindakan individu. (Coleman, 1944:32).
Aspek lain visi Coleman terhadap sosiologi, sesuai dengan penelitian awalnya di sekolah, adalah bahwa hal itu berlaku untuk kebijakan sosial. Bagian dari teorinya dia berkata, "Salah satu kriteria untuk menilai karya dalam teori sosial adalah kegunaan potensial untuk menginformasikan kebijakan sosial" (Coleman, 1994:33). Beberapa sosiolog akan tidak setuju dengan tujuan dari Coleman tentang teori, metode, dan kebijakan social yang berhubungan, meskipun banyak juga yang akan tidak setuju dengan setidaknya beberapa cara yang Coleman memilih untuk menghubungkannya. 
Apakah mereka setuju atau tidak dengan spesifikasi tersebut, para sosiolog di masa depan akan terus ditantang oleh kebutuhan untuk melakukan pekerjaan yang lebih baik dalam menghubungkan ketiga aspek kunci praktik sosiologis ini, dan setidaknya beberapa dari mereka akan menemukan sebuah model yang bermanfaat dalam karya James Coleman. (James Coleman meninggal pada tanggal 25 Maret 1995).
Meskipun mempengaruhi perkembangan teori pertukaran, teori pilihan rasional pada umumnya marjinal bagi teori sosiologis utama. Hal ini terutama melalui upaya seorang, James S. Coleman, bahwa teori pilihan rasional telah menjadi salah satu teori "panas" dalam sosiologi kontemporer. Untuk satu hal, pada tahun 1989 Coleman membuat sebuah jurnal, Rationality and Society (Rasionalitas dan Masyarakat), yang ditujukan untuk penyebaran karya dari perspektif pilihan rasional. Untuk yang lain, Coleman (1990) menerbitkan sebuah buku yang sangat berpengaruh, Foundations of Social Theory (Yayasan Teori Sosial), berdasarkan perspektif ini. Akhirnya, Coleman menjadi presiden Asosiasi Sosiologi Amerika pada tahun 1992 dan menggunakan forum itu untuk mendorong teori pilihan rasional dan menampilkan alamat yang berjudul "Rekonstruksi Rasional Masyarakat" (Coleman, 1993b).
Karena kami sebelumnya telah menggariskan prinsip-prinsip dasar teori pilihan rasional, ini akan sangat berguna untuk memulai komentar-komentar pengantar (1989) Coleman untuk edisi pertama Rasional dan Masyarakat. Jurnal ini menjadi interdisipliner karena teori pilihan rasional (atau, seperti Coleman menyebutnya, "paradigma tindakan rasional" [1989:5]) adalah satu-satunya teori dengan kemungkinan menghasilkan integrasi paradigmatik. Coleman tidak ragu-ragu untuk berargumen bahwa pendekatan tersebut beroperasi dari basis dalam individualisme metodologis dan menggunakan teori pilihan rasional sebagai dasar level mikro untuk penjelasan fenomena level makro. Bahkan yang lebih menarik adalah pendekatan Coleman apa yang tidak menemukan "pekerjaan yang menyenangkan" : yang secara metodologis holistik, mengambang pada tingkat sistem tanpa recourse kepada para aktor yang aksinya menggerakkan system itu ... pandangan tindakan sebagai ekspresif murni, pandangan tindakan sebagai tidak rasional, dan juga pandangan tindakan sebagai sesuatu yang sepenuhnya disebabkan oleh kekuatan luar tanpa intermediasi niat atau tujuan. Ini tidak termasuk pekerjaan empiris yang dilakukan secara luas di bidang ilmu sosial di mana perilaku individu adalah "dijelaskan" oleh faktor-faktor tertentu atau faktor-faktor penentu model tanpa tindakan apapun. (Coleman, 1989:6).
Dengan demikian, sebagian besar pekerjaan dalam sosiologi adalah dikecualikan dari halaman Rasionalitas dan Masyarakat. Tidak untuk dikecualikan, bagaimanapun, adalah keprihatinan tingkat makro dan hubungan mereka pada tindakan rasional. Selain masalah akademis seperti itu, Coleman ingin pekerjaan yang dilakukan dari sebuah perspektif pilihan rasional untuk memiliki relevansi praktis pada dunia sosial kita yang berubah.
Rasionalitas dan Masyarakat sekarang telah ada selama beberapa tahun dan telah menerbitkan aplikasi dari teori pilihan rasional untuk fenomena yang beragam seperti Hamlet (Orbell, 1993), pendekatan fenomenologis Alfred Schutz (Esser, 1993), diskriminasi etnis (Cornell, 1995), agama (Chaves dan Cann, 1992), gender dan pekerjaan (Brinton, 1993), revolusi di Eropa Timur (Goldstone dan Opp, 1994), Nazisme (Brustein dan goyah, 1994), dan Revolusi Kebudayaan Cina (Walder, 1994). Kita tidak dapat mensurvei badan pekerjaan yang sedang berkembang ini di sini, tapi kita bisa membahas secara rinci pekerjaan teoritis utama James S. Coleman yang berasal dari tradisi teori pilihan rasional.
Coleman berpendapat bahwa sosiologi harus memusatkan perhatian pada sistem sosial, tetapi fenomena makro tersebut harus dijelaskan oleh factor-faktor internal kepada mereka, secara prototipikal individual. Dia menyukai bekerja di tingkat ini karena beberapa alasan, termasuk fakta bahwa data biasanya dikumpulkan pada tingkat individu dan kemudian dikumpulkan atau disusun untuk menghasilkan tingkat system itu. Di antara alasan-alasan lain untuk mendukung fokus pada tingkat individu adalah bahwa ini adalah tempat dimana "intervensi" biasa dilakukan untuk menciptakan perubahan-perubahan sosial. Sebagaimana akan kita lihat, pusat dari perspektif Coleman adalah gagasan bahwa teori sosial tidak hanya merupakan latihan akademis tetapi harus mempengaruhi dunia sosial melalui "intervensi" semacam itu. 
Mengingat fokus pada individu, Coleman mengakui bahwa ia adalah seorang individualis metodologis, meskipun ia melihat perspektif tertentu sebagai varian "khusus" dari orientasi itu. Pandangannya adalah khusus dalam arti bahwa ia menerima ide kemunculan dan bahwa meskipun berfokus pada factor-faktor internal pada system itu, faktor-faktor tersebut belum tentu tindakan dan orientasi individu. Artinya, fenomena tingkat mikro selain individual dapat menjadi fokus analisisnya. 
Orientasi pilihan rasional Coleman adalah jelas dalam gagasan dasarnya bahwa "orang-orang bertindak secara purposif menuju tujuan, dengan tujuan (dan demikian juga tindakan-tindakan) yang dibentuk oleh nilai-nilai atau preferensi" (1990:13). Tapi Coleman (1990:14) kemudian melanjutkan berpendapat bahwa untuk kebanyakan tujuan teoritis, ia akan memerlukan konseptualisasi yang lebih tepat terhadap aktor rasional yang berasal dari ekonomi, yang melihat aktor yang memilih tindakan-tindakan itu yang akan memaksimalkan utilitas, atau kepuasan kebutuhan dan keinginan mereka.
Ada dua elemen kunci dalam teorinya aktor dan sumberdaya. Sumber daya adalah mereka yang dimana aktor memiliki kontrol dan di mana mereka memiliki kepentingan tertentu. Mengingat kedua unsur ini, Coleman merinci bagaimana interaksi mereka mengarah ke tingkat sistem:
Sebuah basis minimal untuk sistem sosial tindakan dalam dua aktor, masing-masing memiliki kontrol atas sumber daya yang memiliki kepentingan terhadap yang lain. Ini adalah kepentingan masing-masing di bawah kontrol sumber daya lain yang mengarah keduanya, sebagai aktor purposive, untuk terlibat dalam aktivitas yang melibatkan satu sama lain ... suatu sistem tindakan .... Adalah struktur ini, bersama-sama dengan fakta bahwa para aktor adalah purposive, masing-masing yang memiliki tujuan memaksimalkan realisasi kepentingannya yang memberikan kemerdekaan, atau karakter sistemik, kepada tindakan mereka (Coleman, 1990:29).
Meskipun ia memiliki iman dalam teori pilihan rasional, Coleman tidak percaya bahwa perspektif ini, setidaknya hingga kini, memiliki semua jawaban. Tetapi jelas bahwa ia percaya bahwa ia dapat bergerak ke arah itu, karena ia berpendapat bahwa "keberhasilan sebuah teori sosial yang didasarkan pada rasionalitas terletak pada pengurangan secara berturut-turut domain kegiatan sosial yang tidak dapat dijelaskan oleh teori" (Coleman, 1990:18).
Coleman mengakui bahwa dalam dunia nyata orang tidak selalu bersikap rasional, tetapi ia merasa bahwa ini membuat sedikit perbedaan dalam teorinya: "Asumsi implisit saya adalah bahwa prediksi teoritis yang dibuat di sini akan secara substansial sama apakah pelaku bertindak tepat sesuai dengan rasionalitas sebagaimana biasanya dipahami atau menyimpang dengan cara-cara yang telah diamati" (1990:506).
Mengingat orientasinya pada tindakan rasional individu, ini terdapat bahwa fokus Coleman dalam hal masalah mikro-makro adalah keterkaitan mikro-ke-makro, atau bagaimana kombinasi tindakan individu menimbulkan perilaku sistem tersebut. Sementara dia menyelaraskan prioritas kepada issue ini, Coleman di sini juga tertarik dalam hubungan makro-ke-mikro, atau bagaimana sistem membatasi orientasi pelaku tersebut. Akhirnya, ia menunjukkan dengan jelas minat pada aspek hubungan mikro-mikro itu, atau dampak dari tindakan individu terhadap tindakan individu lain.
Meskipun keseimbangan yang tampak ini, paling tidak ada tiga kelemahan utama dalam pendekatan Coleman. Pertama, dia menyelaraskan prioritas yang besar sekali kepada issue mikro-ke-makro, dengan demikian memberikan sedikit perhatian pada hubungan lainnya. Kedua, ia mengabaikan issue/masalah makro-makro. Akhirnya, panah-panah lepasnya hanya masuk dalam satu arah, dengan kata lain, ia mengabaikan hubungan dialektis antara dan di antara fenomena mikro dan makro.
Menggunakan pendekatan pilihan rasional-nya, Coleman menjelaskan serangkaian fenomena tingkat makro. Posisi dasarnya adalah bahwa para teoretikus perlu menjaga konsepsi aktor mereka agar tetap konstan dan bangkit dari citra variatif konstanta mikro dari fenomena tingkat makro. Dengan cara ini, perbedaan dalam fenomena makro bisa dilacak ke arah struktur yang berbeda dari hubungan di tingkat makro dan bukan kepada variasi pada tingkat mikro. 
Sebuah langkah kunci dalam gerakan mikro-ke-makro adalah pemberian wewenang dan hak-hak yang dimiliki oleh satu individu ke individu lainnya. Tindakan ini cenderung menyebabkan subordinasi satu aktor yang lain. Lebih penting lagi, ia menciptakan fenomena makro yang paling dasar sebuah unit akting yang terdiri dari dua orang, bukan dua aktor independen. Struktur hasil berfugsi secara independen dari para aktor. Alih-alih memaksimalkan kepentingan sendiri, dalam hal ini aktor berupaya mewujudkan kepentingan aktor lain, atau dari unit kolektif independen. Tidak hanya ini kenyataan sosial yang berbeda, tetapi adalah salah satu yang "memiliki kekurangan khusus dan menghasilkan masalah-masalah khusus" (Coleman, 1990:145). Mengingat orientasi nya diterapkan, Coleman tertarik dalam diagnosis dan solusi masalah ini. 
Salah satu contoh pendekatan Coleman berkenaan dengan fenomena makro adalah kasus perilaku kolektif. Dia memilih untuk menghadapi perilaku kolektif karena karakter yang sering tidak teratur dan tidak stabil dianggap sulit untuk menganalisis dari perspektif pilihan rasional. Tapi pandangan Coleman adalah bahwa teori pilihan rasional bisa menjelaskan semua jenis fenomena makro, bukan hanya mereka yang teratur dan stabil. Apa yang terlibat dalam bergerak dari aktor rasional ke "fungsi sistemik liar dan turbulen yang disebut perilaku kolektif adalah transfer kendali yang sederhana (dan rasional) diatas tindakan seseorang dengan aktor lain ... dibuat secara sepihak, bukan sebagai bagian dari pertukaran". (Coleman, 1990:198).
Mengapa orang secara sepihak transfer kontrol atas tindakan mereka kepada orang lain ? Jawabannya, dari perspektif pilihan rasional, adalah bahwa mereka melakukan hal itu dalam upaya untuk memaksimalkan kegunaannya. Biasanya, maksimalisasi individu melibatkan keseimbangan kontrol antara beberapa aktor, dan ini menghasilkan keseimbangan dalam masyarakat. Namun, dalam kasus perilaku kolektif, karena ada transfer sepihak kontrol, maksimalisasi individu tidak selalu menyebabkan kesetimbangan sistem. Sebaliknya, ada karakteristik disekuilibrium perilaku kolektif.
Fenomena tingkat makro lain yang muncul di bawah pengawasan Coleman adalah norma. Sementara kebanyakan para sosiolog mengambil norma-norma seperti yang diberikan dan memohon mereka untuk menjelaskan perilaku individu, mereka tidak menjelaskan mengapa dan bagaimana norma-norma muncul. Coleman heran, dalam satu kelompok pelaku rasional, bagaimana norma-norma dapat muncul dan dipertahankan. Coleman berpendapat bahwa norma-norma yang diprakarsai dan dikelola oleh beberapa orang yang melihat manfaat yang dihasilkan dari pengamatan norma-norma dan membahayakan yang berasal dari pelanggaran norma. Orang-orang yang bersedia menyerahkan sebagian kontrol atas perilaku mereka sendiri, tapi pada proses mereka mendapatkan beberapa kontrol (melalui norma-norma) terhadap perilaku orang lain. Coleman merangkum posisinya pada norma : Unsur sentral dari penjelasan ini ... adalah memberikan sebagian dari hak kontrol atas tindakannya sendiri dan menerima sebagian hak kontrol atas tindakan orang lain, yaitu munculnya norma. Hasil akhir adalah bahwa kontrol ... yang diselenggarakan oleh masing-masing secara terpisah, secara luas menjadi terdistribusikan melalui seluruh rangkaian aktor, yang melakukan kontrol tersebut. (Coleman, 1990:292).
Sekali lagi, orang-orang yang dipandang sebagai memaksimalkan utilitas mereka dengan penyerahan sebagian hak-hak kontrol atas diri mereka sendiri dan mendapatkan sebagian kontrol atas orang lain. Karena pemindahan kontrol tidak sepihak, ada keseimbangan dalam hal norma-norma. 
Tapi ada juga situasi di mana norma-norma bertindak untuk keuntungan beberapa orang dan kerugian orang lain. Dalam beberapa kasus, pelaku menyerahkan hak untuk mengendalikan tindakan mereka sendiri kepada mereka yang berinisiatif dan menjaga norma-norma. Norma-norma tersebut menjadi efektif bila konsensus muncul bahwa beberapa orang memiliki hak untuk mengendalikan (melalui norma-norma) tindakan orang lain. Selain itu, efektivitas norma-norma tergantung pada kemampuan untuk menegakkan konsensus itu. Ini adalah konsensus dan penegakan hukum yang mencegah jenis karakteristik disekuilibrium perilaku kolektif. 
Coleman mengakui bahwa norma-norma menjadi saling terkait, tapi ia melihat masalah makro seperti itu sebagai luar lingkup karyanya pada fondasi sistem sosial. Di sisi lain, dia bersedia untuk mengambil isu mikro internalisasi norma-norma. Dia mengakui bahwa dalam membahas internalisasi ia memasuki "perairan yang berbahaya bagi teori yang didasarkan pada pilihan rasional". (Coleman, 1990:292). Dia melihat internalisasi norma-norma sebagai pembentukan sistem sanksi internal; orang memberi sanksi dirinya sendiri bila mereka melanggar norma. Coleman melihat ini dalam hal gagasan satu aktor atau sekumpulan aktor yang berusaha untuk mengendalikan orang lain dengan meminta agar norma-norma terinternalisasi padanya. Oleh karena itu, demi kepentingan satu set aktor untuk meminta yang lain menginternalisasi norma dan dikendalikan oleh mereka. Dia merasa bahwa ini adalah rasional "ketika upaya tersebut dapat efektif dengan biaya murah". (Coleman, 1990:2940).
Coleman melihat norma-norma dari sudut pandang tiga unsur kunci dari teorinya tindakan purposive, mikro ke makro pada tingkat mikro, dan makro ke mikro. Norma-norma adalah fenomena tingkat makro yang muncul atas dasar tindakan purposive tingkat mikro. Setelah ada, norma-norma, melalui sanksi atau ancaman sanksi, mempengaruhi tindakan individu. Tindakan tertentu dapat didorong, sementara yang lain tidak dianjurkan. 
Dengan kasus norma, Coleman telah pindah ke tingkat makro, dan ia melanjutkan analisisnya pada tingkat ini dalam diskusi aktor korporasi. Dalam kolektivitas seperti itu, aktor tidak dapat bertindak dalam hal kepentingan dirinya sendiri tapi bertindak dalam kepentingan kolektivitas.
Ada berbagai peraturan dan mekanisme untuk beralih dari pilihan individual ke pilihan (sosial) kolektif. Yang paling sederhana adalah kasus pemungutan suara dan prosedur untuk mentabulasi suara individu dan mengajukan suatu keputusan kolektif. Ini adalah dimensi mikro-ke-makro, sementara hal-hal itu seperti halnya daftar calon yang diusulkan oleh kolektivitas melibatkan hubungan makro-ke-mikro. 
Coleman berpendapat bahwa kedua aktor perusahaan dan aktor-aktor manusia memiliki tujuan. Lebih jauh lagi, dalam sebuah struktur perusahaan seperti organisasi, aktor manusia mungkin mengejar tujuan mereka sendiri yang berbeda dengan tujuan perusahaan. Konflik kepentingan ini membantu kita memahami sumber pemberontakan/revolusi terhadap otoritas perusahaan. Keterkaitan mikro-ke-makro di sini melibatkan cara-cara di mana orang melepaskan kewenangan dari struktur perusahaan dan legitimasi tetap pada mereka yang terlibat dalam pemberontakan/revolusi itu. Tapi ada juga keterkaitan makro-ke-mikro di tingkat makro tertentu yg kondisi memimpin orang-orang kepada tindakan divestasi dan investasi seperti itu.
Sebagai ahli teori pilihan rasional, Coleman memulai dengan individu dan gagasan bahwa semua hak dan sumber daya ada pada tingkat ini. Kepentingan individu menentukan jalannya peristiwa. Namun, hal ini tidak benar, terutama dalam masyarakat modern, dimana "sebagian besar hak-hak dan sumber daya, dan oleh karena itu kedaulatan, mungkin berada di aktor korporasi". (Coleman, 1990:531).
Dalam aktor perusahaan dunia modern telah mengambil kepentingan yang meningkat. Aktor korporasi dapat bertindak kepada manfaat atau kerugian individu. Bagaimana kita menilai aktor korporasi dalam hal ini ? Coleman berpendapat bahwa "hanya dengan memulai secara konseptual dari sebuah titik di mana semua kedaulatan yang terletak pada orang perorangan adalah mungkin untuk melihat seberapa baik kepentingan utama mereka diwujudkan dengan sistem sosial yang ada. Dalil bahwa orang perorangan berdaulat memberikan jalan dimana para sosiolog dapat mengevaluasi fungsi sistem sosial". (1990:531-532).
Bagi Coleman, kunci perubahan sosial telah menjadi munculnya aktor perusahaan kepada aktor pelengkap "orang alamiah". Keduanya dapat dianggap aktor karena mereka memiliki "kontrol atas sumber daya dan peristiwa, kepentingan sumber daya dan peristiwa, dan kemampuan mengambil tindakan untuk mewujudkan kepentingan-kepentingan itu melalui kontrol". (Coleman, 1990:542). Tentu saja, selalu ada aktor korporasi, tapi yang lama, seperti keluarga, yang terus digantikan dengan yang baru, dibangun secara purposive, aktor korporasi yang berdiri sendiri. Keberadaan aktor-aktor perusahaan yang baru ini menimbulkan masalah bagaimana memastikan tanggung jawab sosial mereka. Coleman menyarankan bahwa kita dapat melakukan ini dengan membentuk reformasi internal atau dengan mengubah struktur eksternal seperti hukum yang mempengaruhi perusahaan seperti itu aktor atau lembaga yang mengatur mereka. 
Coleman membedakan antara struktur primordial yang berdasarkan keluarga, seperti lingkungan dan kelompok agama, dan struktur purposive, seperti organisasi ekonomi dan pemerintah. Dia melihat keberserakkan progresif yang kegiatan yang pernah diikat bersama dalam keluarga. Struktur primordial "terurai" sebagai fungsi mereka tengah tersebar dan diambil alih oleh berbagai aktor korporasi. Coleman khawatir tentang penguraian ini dan juga tentang fakta bahwa kita sekarang dipaksa untuk berurusan dengan posisi dalam struktur purposive daripada dengan orang-orang yang mempopulasikan struktur primordial. Ia kemudian menyimpulkan bahwa tujuan dari karyanya adalah "menyediakan dasar untuk membangun struktur sosial yang layak, sebagai struktur primordial dimana orang mempunyai kelenyapan yang bergantung". (Coleman, 1990:652).
Coleman adalah yang paling kritis terhadap kebanyakan teori sosial untuk mengadopsi pandangan bahwa dia memberi label homo sociologicus. Perspektif ini menekankan pada proses sosialisasi dan kecocokan antara individu dan masyarakat. Oleh karena itu, homo sociologicus tidak mampu menghadapi kebebasan individu untuk bertindak sebagai yang mereka mau meskipun kendala-kendalanya ditempatkan atas mereka. Lebih jauh, perspektif ini tidak memiliki kemampuan untuk mengevaluasi tindakan sistem sosial. Sebaliknya, homo economicus, dalam pandangan Coleman, memiliki semua kapasitas. Selain itu, Coleman menyerang teori sosial tradisional untuk melakukan sedikit lebih dari mengucapkan mantra teoretis tua dan karena tidak relevan dengan perubahan yang terjadi di masyarakat dan tidak mampu membantu kami mengetahui di mana masyarakat dipimpin. Teori Sosiologi (serta penelitian sosiologis) harus memiliki tujuan, sebuah peranan dalam fungsi masyarakat. Coleman adalah mendukung teori sosial yang tertarik tidak hanya pada pengetahuan untuk kepentingan pengetahuan tetapi juga dalam "mencari pengetahuan untuk rekonstruksi masyarakat". (1990: 651).
Pandangan Coleman pada teori sosial berhubungan erat dengan pandangannya tentang perubahan sifat masyarakat. Pengesahan struktur primordial dan penggantian mereka dengan struktur purposive telah meninggalkan serangkaian kehampaan yang belum cukup diisi oleh organisasi-organisasi sosial baru. Teori sosial, dan ilmu-ilmu sosial yang lebih umum, dibuat penting oleh kebutuhan untuk merekonstruksi masyarakat baru. (Coleman, 1993a, 1993b). Tujuannya bukan untuk menghancurkan struktur purposive melainkan untuk mewujudkan peluang dan menghindari masalah struktur tersebut. Masyarakat baru memerlukan ilmu sosial yang baru. Keterkaitan antara bidang kelembagaan telah berubah, dan sebagai akibat ilmu-ilmu sosial harus bersedia melintasi batas-batas disiplin tradisional.
Tak perlu dikatakan, karya Coleman dalam teori pilihan rasional dan khusus (Alexander, 1992) secara umum telah mendapat kecaman berat di bidang sosiologi. Banyak kritik datang dari pendukung posisi-posisi alternatif dalam teori sosiologis. Misalnya, dari sudut pandang feminis, Inggris dan Kilbourne (1990) mengkritik asumsi keegoisan dalam teori pilihan rasional; dari perspektif egoisme-altruisme mereka harus dianggap sebagai sebuah variabel. Asumsi dari keegoisan merupakan bias maskulin. Mereka mengakui bahwa menolak asumsi ini, dan melihat sebagai variabel, akan mengurangi "determinasi deduktif" teori pilihan rasional, tapi mereka pikir manfaat orientasi teoritis yang kurang bias, lebih realistis, lebih besar daripada biaya.
Dari perspektif simbolis-interaksionis, Denzin (1990b; lihat juga Bab 5 dari buku ini) hanya menawarkan kritik yang orang mungkin harapkan dari suatu orientasi teoritis yang secara diametric bertentangan :
Teori pilihan rasional ... gagal menawarkan jawaban yang meyakinkan atas pertanyaan itu: Bagaimana masyarakat mungkin? ... norma-norma rasionalitas yang ideal tidak cocok dengan kehidupan sehari-hari dan norma-norma rasionalitas dan emosionalitas yang mengatur kegiatan aktual dari interaksi individu.
Teori pilihan rasional telah membatasi kepentinan untuk teori sosial kontemporer. Skema kehidupan kelompoknya dan gambarnya atas manusia, tindakan, interaksi, diri, gender, emosionalitas, kekuatan, bahasa, ekonomi politik terhadap kehidupan sehari-hari, dan sejarah, adalah yang amat sempit dan benar-benar tidak memadai untuk tujuan interpretatif. (Denzin, 1990a :182-183; cetak miring ditambahkan).
Sebagian besar yang beroperasi dari perspektif penafsiran yang luas akan menerima kritik kuatnya Denzin tentang teori pilihan rasional. Akhirnya, walaupun banyak kritik lain dapat digambarkan, kita dapat menyebutkan argumen (1992) Smelser yang seperti banyak perspektif teori lain, teori pilihan rasional telah merosot sebagai akibat dari evolusi internal atau tanggapan atas kritik eksternal. Jadi, teori pilihan rasional telah menjadi tautologis dan kebal terhadap falsifiability, dan yang paling penting, telah mengembangkan "kapasitas untuk menjelaskan segala sesuatu dan karenanya tidak ada". (Smelser, 1992:400).

Sekilas tentang Immanuel Wallerstein


Meskipun pada tahun 1960-an  Immanuel Wallerstein memperoleh pengakuan sebagai ahli Afrika, sumbangsih terpentingnya bagi Sosiologi adalah bukunya The Modern World system (1974). Buku tersebut cepat meraih sukses. Lahir pada tanggal 28 September 1930, Wallerstein mendapatkan ijazahnya dari universitas Columbia, termasuk gelar doctor pada tahun 1959. Selanjutnya ia memperoleh jabatan sebagai dosen di Columbia, setelah bertahun-tahun disana dan lima tahun jeda di Universitas McGill, Montreal, pada tahun 1976 Wallerstein menjadi professor utama sosiologi di universitas negeri New York di Binghamton.
Wallerstein meraih penghargaan prestius Sorokin atas jilid pertama buku The Modern World System pada tahun 1975. Sejak saat itu, ia terus mengerjakan topik ini dan menghasilkan sejumlah artikel dan dua jilid tambahan, tempat dia menganalisis sistem dunia sampai tahun 1840-an.
Sebenarnya, dalam banyak hal, perhatian yang telah diberikan dan masih akan ditujukan kepada analisisnya lebih penting ketimbang karya itu sendiri. Konsep sistem dunia menjadi fokus pemikiran dan penelitian dalam bidang sosiologi, sebuah prestasi yang tidak banyak dimiliki oleh ilmuwan lain. Kini banyak sosiolog yang meneliti dan melahirkan teori tentang sistem dunia bersikap kritis terhadap Wallerstein dalam satu atau lain hal, namun mereka jelas mengakui peran penting yang dimainkannya dalam kelahiran gagasan-gagasan mereka.
“Analisis sistem dunia” bukanlah teori mengenai dunia sosial, ataupun mengenai bagian dari dunia itu. analisis ini adalah protes terhadap cara-cara dimana penelitian ilmiah distrukturkan bagi kita semua dipertengahan abad ke-19. (Wallerstein 1987 : 309).
Teori sistem dunia dapat dipandang sebagai skema teoretis, atau mitos pengorganisir (organizing myth), untuk memahami pola-pola kemajuan bangsa Eropa dan keterbelakangan Dunia Ketiga sebagai fenomena yang saling berkaitan. “Keberhasilan” yang diperoleh satu pihak mengakibatkan pemiskinan pihak lain. tesis mendasar mengenai teori sistem dunia sebagai “ilmu sosial” historis menyebutkan bahwa perekonomian dunia bangsa Eropa dibangun disepanjang abad ke-16 lewat penstrukturan pola-pola perdagangan dan pembangunan yang timpang antara Eropa Barat sebagai “pusat” (core) serta Eropa Timur dan Amerika Latin sebagai “pinggiran” (periphery). Pola pembangunan yang timpang serta pertukaran yang tidak adil ini bertahan hingga sekarang meskipun keanggotaannya diwilayah-wilayah pusat, semipinggiran dan pinggiran mungkin telah berubah.
Tulisan-tulisan Wallerstein yang terpenting menerapkan perbandingan-perbandingan historis dalam skala luas untuk mendapatkan dan memperlebar gambaran menyeluruh mengenai ekspansi, fluktuasi dan perubahan sistem dunia. Lingkup analisisnya mirip dengan sosiologi historis dari Barrington Moore atau yang lebih mutakhir, Theda Skocpol. Akan tetapi, perbandingan-perbandingan yang ia lakukan membuahkan kesimpulan yang amat berbeda dengan mereka. Segi paling menonjol dalam karya Wallerstein sebagai teorities sosial adalah perhatiannya yang terus-menerus terhadap masalah-masalah epistemologis dan metodologis yang tampak jelas dalam semua tulisannya.
Wallerstein menyusun teori sistem dunia sebagai sintesis atau suatu tradisi panjang berupa penyusunan teori-tandingan yang mempersoalkan dasar0dasar teoretis ilmu sosial Barat. Teori sistem dunia mengajukan dan menghendaki konsepsi yang berbeda mengenai kebenaran historis, suatu heuristic yang berbeda. Menurut Wallerstein, hal tersebut hanya dapat diwujudkan lewat elaborasi atas serangkaian proposisi historis tentang asal mula perekonomian dunia kontemporer, bentuk perkembangannya yang mungkin, dan transformasinya yang mungkin, menuju bentuk-bentuk organisasi global lainnya.
Menurut wallerstein, analisis sistem dunia, tidak bisa tidak bersifat interdisipliner. Bukan berarti bahwa disiplin-disiplin utama yang membahas sejarah serta pelbagai ilmu sosial harus menyusun pembagian kerja bersama secara rapi, tetapi juga bukan berarti ilmu-ilmu sosial boleh bekerja dengan konsep-konsep tentang masyarakat atau Negara sebagai bentuk-bentuk organisasi yang tak terpengaruh waktu dan dikonsepsikan terpisah dari konteks historis-duniawinya.
Pola-pola historis perkembangan teknologi dan sosial menimbulkan dampak penting terhadap masyarakat atau Negara manapun sebagaimana demikian juga dampak dari pola-pola yang lebih luas dan secara historis lebih spesifik dalam relasi antarnegara serta antar masyarakat (atau internasional). Perekonomian dunia kapitalis hanyalah salah satu konfigurasi demikian tadi, kendatipun perekonomian ini jelas yang paling penting diera sekarang ini.
Perihal penerapan perspektif-perspektif yang ikonoklasik terhadap pendefinisian dan pembahasan tentang kapitalisme itulah yang memicu pelbagai perbantahan antara Wallerstein dengan para kritisi Marxisnya. Karena teori sistem dunia memandang perekonomian dunia kapitalis sebagai sistem historis spesifik yang berupa perkembangan dan akumulasi yang tidak seimbang, maka definisi Wallerstein atas kapitalisme berkaitan dengan dinamika sistemiknya. Titik tolak definisinya dilandaskan pada mitologi historis dank arena berbeda dengan definisi Marxis yang lebih formal dan abstrak tentang kapitalisme yakni sebagai serangkaian relasi-relasi kelas yang diciptakan oleh jaringan pertukaran komoditas.
Berbeda dengan pandangan Marxis, Wallerstein berpendapat bahwa bentuk-bentuk monopoli adalah unsure utama dalam terjadinya akumulasi yang timpang pada perekonomian dunia kapitalis. Jika sistem tersebut berwatak kapitalis dalam arti memperbolehkan terjadinya akumulasi modal, maka unsure kekuasaan monopoli merupakan suatu hal yang penting, yang menentukan kekhasan historisnya. Penguasaan atas inovasi-inovasi teknologis dan industrial yang dimata Marx dan Smith adalah esensi perjuangan kapitalis, bagi Wallerstein hanyalah merupakan satu contoh lain lagi yang penting, yang membuktikan kelebihan penstrukturan sistemik monopoli. Dengan demikian teori sistem dunia menjungkirbalikan teori konvensional. Jika teori konvensional memandang monopoli sebagai kemunduran kapitalisme murni, sedangkan Wallerstein memandang  inovasi-inovasi teknologis, yang dalam pandangan konvensional dianggap lambing kapitalisme industrial, adalah bentuk khusus monopoli.
Sistem antarnegara tersebut melahirkan suatu kerangka yang terdiri dari rezim-rezim perdagangan yang menstruktur dan menyalurkan arus pertukaran komoditas, modal, tenaga kerja dan informasi secara internasional. Pelembagaan atas pelbagai bentuk kontrol terhadap tenaga kerja diberbagai zona perekonomian dunia, menurut Wallerstein, merupakan mekanisme terpenting untuk menyedot keuntungan. Negara-negara dan pelbagai korporasi sama-sama berusaha memposisikan diri untuk bisa mendapatkan keuntungan tadi dengan jalan menguasai titik-titik yang krusial disepanjang mata rantai komoditas yang melintasi seluruh wilayah sejak produksi awal hingga konsumsi terakhir.
Elaborasi teori sistem dunia sebagai mitos pengorganisasian alternatif itu meruntuhkan segala penerimaan yang gampangan atas “fakta-fakta” dalam sejarah barat konvesional yang umumnya optimistik. Redefinisinya atas kapitalisme, seerta kritiknya terhadap kemajuan mampu membongkar eskatologi “kepercayaan terhadap kemajuan material dan pencerahan ilmiah” yang tersirat dalam pandangan liberal maupun Marxis mengenai sejarah dan perubahan. Dengan memikirkan kembali kandugan subtantif ilmu sosial historis yang ssudah lazim diterima, maka tak mengherankan jika analisis sistem dunia mendorong Wallerstein untuk terus mempersoalkan asumsi-asumi epistemologis dan metodologis dalam tradisi ilmu-ilmu sosial barat.
Disamping pemilahan berupa pusat dan pinggiran, kategori ketiga adalah semipinggiran. Gagasan ini mempertimbangkan banyaknya kasus dan situasi yang tak dapat disesuaikan secara tepat kedalam pengkategorian sederhana berupa pusat dan pinggiran. Australia contohnya.tetapi pendekatan teori sistem dunia lewat persoalan demikian menunjukkan adanya ketegangan mendasar dalam paradigma Wallerstein, yakni antara tuntutan untuk berteori secara heuristik dan analisis atas kasus-kasus empiris tertentu.
Gagasan tentang semipinggiran menyiratkan makna yang kurang pasti dan ambigu dan dugunakan secara beragam utnuk menunjukkan posisi suatu negara dalam hierarki geopolitis dalam sistem negara kebangsaan atau sejumlah kombinasi dari keduanya.Wallerstein tidak memberikan penjelasan spesifik tentang hubungan partisipasi ekonomis dalam perekonomian dunia kapitalis dengan kekuasaan dan posisi geopilitis. Konsep semipinggiran dipakai sebagai sebuah kategori dalam analisis empiris “untuk memisahkan suatu zona analisis politis secara tersendiri”, terutama wilayah Eropa selatan. Negara-negara telah menampakkan pola-pola yang serupa secara luas dalam hal dualisme ekonomi dan kebijakan intervensional negara. Analisis tersebut cenderung menempatkan persoalan tentang kekuasaan geopopitis dibawah konsep tentang politik semipinggiran yang “menekankan tindakan sukarela dari negara untuk menyempurnakan posisi relatif wilayahnya dengan cara menerima kompetisi tetapi lewat kebijakan untuk mengejar ketertinggalan.
Pembahasan paling cermat atas konsepsi ekonomi semipinggiran dikemukakan oleh Arrighi dan Drangel. Mereka mendefinisikan “suatu posisi yang berkaitan dengan pembagian kerja dunia”, dan menyatakan bahwa konsep tersebut sebaiknya tidak dipakai “untuk menunjuk suatu posisi dalam sistem antarnegara”. Mereak menggambarkan perekonomian dunia sebagai jaringan matarantai komoditas “yang melintas batas-batas negara” dan mereka menyatakan aktivitas-aktivitas pusat dan pinggiran (bukan wilayah) didistribusikan secara tidak merata baik didalam dan diantara negara-negara kebangsaan. Matarantai komoditaslah yang menghubungakan aktivitas-aktivitas pusat dan pinggiran. Aktivitas-aktivitas pusat “menguasai sebagian besar surplus yang dihasilakan dalam matarantai komoditas, sedangkan aktivitas-aktivitas pinggiran menguasai sebagian kecil surplus atau tidak sama sekali”. Mereka berpendapat tidak ada sarana empiris yang dapat menjadi tolok ukur langsung bagi beraneka ragam aktivitas di negeri atau kawasan manapun, kecuali menggunakan GNP perkapita sebagai tolok ukur tak langsung. Mereka menunjukkan terdapat suatu pemolaan trimodal yang khas dalam perekonomian internasional yang menurutnya berkaitan dengan pembagian yang relatif antara pusat, pinggiran, dan semipinggiran selama periode 50 tahun yang mereka teliti. Analisis mereka menunjukkan tak ada korelasi yang sederhana antara posisi ekonomis dan geopolitis pusat, pinggiran, dan semipinggiran. Misalnya USSR, kendatipun memiliki kekuasaan besar dalam sistem negara kebangsaan, berdasarkan perumusan mereka negara itu dimasukkan sebagai bagian organis zona asemipinggiran. Negara-negara seperti Saudi Arabia yang memiliki sumber minyak melimpah tetapi tidak memiliki kekuasaan geopilitis besar dipandang menempati posisi peralihan menuju pusat.
Arrighi dan Drangel menempatkan Australia sebagai organis dari pusat. Wallerstein sebaliknya menempatkan Australia dalam bagian semipinggiran. Ambiguitas posisi Australia menunjukkan adanya ambiguitas yang lebih dalam aspek heuritis dan yang berorientasi pada problem, didalam teori sistem dunia. Analisis asas semipinggiran sebagai “zona aktivitas politik” memperluas analisis sistem dunia kearah pendekatan yang lebih terpusat pada negara, skocpol (1977), Booth (1985), dan Mouzelis (1988) mendukung perluasan demikian itu demi mengatasi kemndekan teori sistem dunia. Pendekatan tersebut memperluas parameter-parameter sosiologi historis Wallerstein dengan jalan mencermati negara kebangsaan modern yang didemarkasikan secara teritorial bukan hanya dalam hal perannya untuk menjaga kondisi-kondisi akumulasi kapital, tap juga dalam hal peran sentralnya untuk mengkukuhkan rejim dan tatanan ekonomi dan politis. Pada level heuristik yang lebih luas, perluasan teoritis membukan kembali persoalan tentang dinamika perubahan sistem dunia. Disamping itu jikalau analisis sitem dunia diperluas dengan menggunakan pendekatan yang lebih terpusat pada negara, akan muncul bahaya bahwa asumsi-asumsi yang lebih rasionalistik yang diciptakan akan dapat meruntuhkan posisi-posisi metodologis dan epistemologis yang telah dibangun Wallerstein bagi teori sistem dunia.
Australia dikategorikan sebagai negara pusat dalam hal GNP perkapita serta standar hidupnya. Dalam geopolitik global, ia merupakan negara berkekuatan menengah yang relatif berhasil. Mode partisipasinya dalam perekonomian dunia menampakkan sejumlah dualisme ekonomi sebagaimana pada wilayah pinggiran, mengingat posisis produsennya dalam matarantai komoditas internasioanl dan ketergantungannya terhadap modal asing. Tapi jikalau orang merumuskan bahwa politik semipinggiran adalah keterlibatan aktif dalam strategi pembangungan bangsa maka situasi Australia tampaknya juga sesuai. Kendatipun sekarang terdapat kecenderungan melakukan deregulasi oleh para pembuat kebijakan, Australia telah memiliki sejarah penjang perihal keterlibatan negara dalam manajemen urusan ekonomi serta dipertahankannya status Australia sebagai kekuatan sub-imperal. Adanya kesulitan menerapkan analisis sistem dunia secara tepat terdapat situasi Australia jelas menunjukkan adanya dilema dalam teori tersebut.
Elaborasi heuristik yang dilakukan Wallerstein terdapat teori sistem dunia merupakan upaya koreksi atas asumsi-asumsi tentang superioritas barat, baik yang tersirat daro pandangan liberal maupun Marxis. Sejumlah problem muncul ketika menempatkan wilayah semiperiferi serta Australia sebagai “zona analisis politik” yang ternyata sulit berkesesuaian dengan pandangan heuristik Wallerstein yang mengarah pada “dunia ketiga”. Pendekatan yang lebih terpusat pada negara pun mengandung sejumlah bahaya sendiri. pembahasan atas problem ini beserta pemecahannya kembali dalam teori sistem dunia mengundang minat tertentu dikalangan teoretisi sosial Australia. Kancah lainnya bagi analisis sistem dunia adalah emetakan struktur-struktur ekonomi dunia sebagaimana telah dirintis oleh Ariighi dan Drangel (1986). Analisis ekonomi ini masih berupa tahap awal. Anaisis sistem dunia pun memerlukan karya yang lebih berkaitan, yang memetakan rejim-rejim geopolitis global hingga gerakan-gerakan politi internal. Meski tetap memanfaatkan parameter-parameter yang lebih ketat dalam analisis sistem dunia sebagaimana diisyaratkan oleh pandangan metodologi Wallerstein, pendekatan-pendekatan ini pun memerlukan pengembangan lebih lanjut sebelum menjawab secara tepat problem-problem empiris yang dihadapi para teoritis sistem dunia, umpamanya problem yang berkaitan dengan situasi-situasi negara-negara semipinggiran.
Wallerstein menyatakan ada tiga hal yang diperlukan untuk membangun ekonomi dunuia kapitalis keluar dari puing reruntuhan feodalisme ;ekspansi geografis melalui eksplorasi dan kolonisasi,pengembangan metode pengendalian tenaga kerja yang berlainan untuk kawasan berlainan (misalnya, pusat, pinggiran) dari ekonomi dunia dan pembangunan Negara yang kuat yang akan menjadi Negara pusat ekonomi dunia kapitalis yang baru muncul.berikut ini dibahas satu persatu.
Ekspansi geografis. Wallerstern menyatakan ekspansi geografis oleh bangsa adalah persyaratan bagi kedua tahap lainya itu. Portugal memimpin eksplorasi dilautan dan bangsa-bangsa eropa lainnya menyusul. Wallerstein berhati-hati berbicara mengenai Negara tertentu atau mengenai istilah eropa pada umumnya.ia lebih suka melihat ekspansi dilautan disebabkan oleh kelompok orang yang bertindak atas nama kepentingan mereka sendiri. Kelompok elite seperti bangsawan mmemerlukan ekspansi lautan karena berbagai alasan. Pertama,mereka berperang melawan kelas yang baru muncul yang menyebabkan ambruknya ekonomi feodal. Kedua,perdagangan budak menyediakan mereka tenaga kerja loyal untuk membangun ekonomi kapitalis. Ketiga,ekspansi juga menyediakan mereka berbagai jenis komoditi yang dibutuhkan untuk mengembangkan ekonomi kapitalis-emas,makanan,dan berbagai jenis bahan mentah.
Pembagian kerja dunia. Segera setelah dunia mengalami ekspansi geografis,ia bersiap masuk ke tahap berikutnya,pengenbangan divisi tenaga kerja diseluruh dunia. Pada abad enam belas ,kapitalisme menggantikan statisme sebagai mode utama yang mendominasi dunia,tetapi kapitalisme tidak berkembang secara seragam di seluruh dunia. Pada kenyataannya,menurut wallerstein solidaritas system kapitalis pada akhirnya didasarkan pada pengembangan yang tak ekual. Dengan orientasi marxiannya,wallerstein tidak menganggapnya sebagai keseimbangan konsensual,tetapi lebih sebagai keseimbangan yang bermuatan konflik dari awal. Bagian-bagian system dunia kapitalis yang berbeda tersepesialisasi dalam fungsi-fungsi khusus mengembangbiakkan tenaga kerja,memproduksi bahan makanan,menyediakan bahan mentah,dan mengorganisir industri. Kawasan yang berbeda-beda akan mengembangkan sepesialisasi dalam menghasilkan tipe tenaga kerja khusus. Contoh,afrika memproduksi budak;eropa barat dan eropa selatan mempunyai banyak petani dan petani penyewa.eropa barat juga menjadi pusat pekerja upahan,kelas pengusaha dan keterampilan lain serta pekerja perorangan yang berperan sebagai tenaga pengawas.
Lebih umum lagi,masing-masing bagian pembagian kerja internasional itu cenderung berbeda dilihat dari sudut cara pengendalian tenaga kerja. Kawasan  pusat mempunyai tenaga kerja bebas ;kawasan pinggiran ditandai oleh tenaga paksaan dan seni;pinggiran adalah pusat kawasan pertanian dengan pola bagi hasil. Wallerstein menyatakan bahwa kunci kapitalisme terletak pada kenyataan bahwa kawasan pusat didominasi oleh pasar tenaga kerja bebas untuk pekerja kurang terampil terdapat di kawasan pinggiran. Kombinasi seperti itu adalah esensi kapitalisme. Bila pasar tenaga kerja bebas harus berkembang diseluruh dunia ,itu hanya dapat dicapai dengan sosialisme.
Bagian-bagian dunia tertentu mulai mendapat keuntungan awal yang kecil yang digunakan sebagai basis untuk mengembangkan keuntungan lebih besar di kemudian hari. Kawasan ousat pada abad 16 ,terutam eropa barat ,dengan cepat memperbesar keuntungannya ketika kota berkembang,industry berkembang,dan perdagangan menjadi penting. Pada waktu bersamaan masing-masing aktivitasnya menjadi semakin tersepesialisasi dan memproduksi dengan cara makin efisien. Sebaliknya ,kawasan pinggiran mengalami stagnasi dan bergerak kearah masyarakat monokultur,atau yang tidak terdiferensiasi,masyarakat berfokus tunggal.
Perkembangan Negara pusat. Tahap ketiga perkembangan system dunia melibatkan sector politik dan cara-cara kelompok ekonomi yang berlainan menggunakan struktur Negara untuk melindungi dan mendahulukan kepentingan mereka. Monarki absolute muncul di eropa barat hampir bersamaan waktunyan dengan perkembangan kapitalisme. Sejak abad 16 hingga abad 18 negara adalah pusat pelaku ekonomi di eropa meski pusatnya ini kemudian bergeser ke perusahaan. Negara yang kuat di kawasan pusat memainkan peran kunci dalam mengembangkan kapitalisme dan pada akhirnya menyediakan landasan bagi kematian dirinya sendiri. Negara-negara eropa memperkuat diri mereka sendiri di abad 16,antara lain dengan mengembangkan dan memperluas system birokrasi dan menciptakan monopoli kekuasaan dalam masyarakat,terutama dengan membangun tentara dan melegitimasi aktivitas mereka untuk menjamin terpeliharanya stabilitas dalam negeri. Sementara Negara di kawasan pusat membangun sistem politik yang kuat,dalam waktu bersamaan kawasan pinggiran membangun Negara yang lemah.
Perkembangan yang kemudian. Dalam bukunya,the modern world sistem wallerstein(1980)menguraikan sejarah konsolidasi ekonomi dunia antara tahun 1600 dan 1750. Dalam oeriode ini tak terjadi ekspansi ekonomi eropa yang berarti,tetapi terjadi sejumlah perubahan penting dalam sistem dunia. Contohnya adalah perkembangan dan kemudian di ikuti kemerosotsn dalam Negara pusat,yakni Negara belanda. Kemudian dia menganalisa antara perancis dan inggris yang berakhir dengan kemenangan inggris. Dikawasan pinggiran wallerstein secara mendetail mendeskrepsikan,antara lain,kawasan amerika jajahan spanyol yang mengalami kemerosotan dan swedia yang mengalami kemajuan ekonomi. Ia melanjutkan analisis historisnya mengenai berbagai peran yang di mainkan oleh berbagai masyarakat dalam pembagian kerja ekonomi dunia. Wallerstein melanjutkan analasis historisnya dari sudut pandang Marxian dimana dia menganalisa divisi tenaga kerja dalam perekonomian dunia. Meski memperhatikan factor sosial dan politik,namun perhatian utamanya tetap tertuju pada peran factor ekonomi dalam sejarah dunia.
Dalam bukunya paling baru wallerstein (1989) membuat analisis historis hingga tahun 1840-an. Wallerstein, melihat tiga perkembangan besar selama periode 1730-an hingga 1840-an ; revolusi industry (terutama di inggris), revolusi perancis, dan kemerdekaan Negara yang semula menjadi koloni Negara-negara eropa di benua amerika. Menurutnya tak satu pun Negara baru ini yang menentang sistem kapitalis dunia, sebaliknya mereka justru bergabung dan menjadi bagian kubu sistem itu (wallerstein,1989:256).
Wallerstein melanjutkan analisis sejarah tentang perjuangan antara inggris dan perancis untuk mendominasi kawasan pusat. Meski ekonomi dunia mengalami stagnasi sebelum periode analisis, kawasan pusat kini meluas dan inggris raya mampu membangun industri lebih cepat dan mendominasi industri berskala besar. Pergeseran dominasi ke inggris terjadi meski fakta menunjukan bahwa di abad 18 perancis telah mendominasi bidang industri. Revolusi perancis berperan penting dalam mengembangkan sistem kapitalis dunia terutama dengan membantu mengakhiri sisa kultur feodalisme dan menghasilkan sistem ideology cultural yang sesuai dengan realitas politik dan ekonomi. Tetapi, revolusi itu menghambat perkembangan industri  perancis. Perang dan rezim perancis juga menghambat industri. Menjelang akhir periode tersebut, ”inggris akhirnya benar-benar memegang hegemoni dalam sistem dunia” (wallerstein,1989:122).

Sekilas tentang Herbert Spencer


Spencer lahir di Derby, Inggris 27 April 1820. Ia tak belajar seni dan humaniora, tetapi di bidang teknik dan bidang-bidang utilitarian. Tahun 1837 ia mulai bekerja sebagai insinyur sipil jalan kereta api, jabatan yang dipegangnya hingga tahun 1846. Selama periode ini Spencer melanjutkan studi atas biaya sendiri dan mulai menerbitkan karya ilmiah dan politik. Tahun 1848 Spencer ditunjuk sebagai redaktur The Economist dan gagasan intelektualnya mulai mantap. Tahun 1850 ia menyelesaikan karya besar pertamanya, Social Statics. Selama menulis karya ini Spencer untuk pertama kali mulai mengalami insomnia (tak bisa tidur) dan dalam beberapa tahun berikutnya masalah mental dam fisiknya ini terus meningkat. Ia menderita gangguan saraf sepanjang sisa hidupnya.
Tahun 1853 Spencer menerima harta warisan yang memungkinkannya berhenti bekerja dan menjalani sisa hidupnya sebagai seorang sarjana bebas. Ia tak pernah memperoleh gelar kesarjanaan universitas atau memangku jabatan akademis. Karena ia makin menutup diri, dan penyakit fisik dan mentalnya makin parah, produktivitasnya selaku sarjana makin menurun. Akhirnya Spencer mulai mencapai kemasyhuran tak hanya di Inggris tetapi juga reputasi internasional. Richard Hofstadter mengatakan, “Selama tiga dekade sesudah perang saudara, orang tak mungkin aktif berkarya di bidang intelektual apapun tanpa menguasai (perkiraan) Spencer.” (1959:33).
Guru yang tercinta… Anda menemuiku tiap hari dalam pikiranku dan terus-menerus muncul pertanyaan “mengapa”, mengapa dia harus berbohong? Mengapa dia harus pergi?…. Dunia tak menyadari keistimewaan pemikirannya… namun suatu hari nanti dunia akan menyadari ajarannya dan akan menghormati Spencer sebagai manusia besar (Carnegie, dikutip dalam Peel, 1971:2).
Namun, nasib Spencer ternyata tak seperti itu. Salah satu watak Spencer paling menarik yang menjadi penyebab kerusakan intelektualnya adalah keengganannya membaca buku orang lain. Dalam hal ini ia sama dengan tokoh sosiologi awal Auguste Comte yang juga mengalami gangguan otak. Mengenai keengganannya membaca buku orang lain itu, Spencer berkata : “Aku telah menjadi pemikir sepanjang hidupku, bukan menjadi pembaca, aku sependapat dengan yang dikatakan Hobbes bahwa jika aku membaca sebanyak yang dibaca orang lain, aku hanya akan mengetahui sedikit yang mereka ketahui itu” (Wiltshire, 1978:67). Temannya pernah meminta pendapatnya buku, dan “jawabannya adalah bila membaca buku ia melihat asumsi fundamental buku itu keliru dan karena itulah ia tak mau membaca buku” (Wiltshire, 1978:67). Seorang pengarang menulis tentang “cara Spencer dalam menyerap pengetahuan melalui kekuatan kulitnya…ia rupanya tak pernah membaca buku” (Wiltshire, 1978:67).
Bila tak pernah membaca karya sarjana lain, lalu darimana gagasan dan pemahaman Spencer berasal. Menurut Spencer, ide-idenya muncul tanpa sengaja dan secara intiutif dari pikirannya. Ia mengatakan bahwa gagasannya muncul “sedikit demi sedikit, secara rendah hati tanpa disengaja atau tanpa upaya yang keras” (Wiltshire, 1978:66). Institusi seperti itu dianggap Spencer jauh lebih efektif ketimbang upaya berpikir dan belajar tekun : “Pemecahan yang dicapai melalui cara yang dilukiskan itu mungkin lebih benar ketimbang yang dicapai pemikiran” (Wiltshire, 1978:66).
Spencer menderita karena enggan membaca secara serius karya orang lain. Sebenarnya, jika ia membaca karya orang lain, itu dilakukannya hanya sekedar untuk menemukan pembenaran pendapatnya sendiri. Ia mengabaikan gagasan orang lain yang tak mengakui gagasannya. Demikianlah, Charles Darwin, pakar sezamannya berkata tentang Spencer, “Jika ia mati melatih dirinya untuk mengamati lebih banyak, dengan risiko kehilangan sebagian dari kekuatan berpikirnya sekalipun, tentulah ia telah menjadi seorang manusia yang sangat hebat” (Wiltshire, 1978:70) pengabaian Spencer terhadap aturan ilmu pengetahuan menyebabkan ia membuat serentetan gagasan kasar dan pernyataan yang belum dibuktikan  kebenarannya mengenai evolusi kehidupan manusia. Karena itulah sosiolog abad 20 menolak gagasan Spencer dan riset empiris yang tekun. Spencer meninggal 8 Desember 1903.

Sekilas tentang Harold Garfinkel


Seperti orang-orang yang besar di masa Perang Dunia II dan Depresi, Garfinkel menempuh studi yang berliku-liku. Garfinkel dilahirkan di Newark, New Jersey, pada 29 Oktober 1917. Ayahnya adalah pengusaha kecil yang menjual barang-barang rumah tangga untuk keluarga imigran. Ayahnya ingin Garfinkel belajar dagang, namun Garfinkel ingin masuk kuliah. Garfinkel kemudian mengikuti kemauan ayahnya, tetapi dia juga ikut kuliah di Universitas Newark. Karena kuliahnya kebanyakan diajar oleh lulusan dari Columbia, maka perkuliahan itu sangat berkualitas dan teoritis, sebab para pengajar itu kurang pengalaman praktis. Orientasi teoritis berikutnya dan orientasi spesifiknya bisa dirunut kembali ke perkuliahan ini dan khususnya pada kuliah tentang “theory accounts”. “Bagaimana” Anda membuat kolom dan angka dapat dijelaskan (kepada supervisor)?” adalah pertanyaan besar menurut Garfinkel (Rawls, 2000) yang juga penting adalah fakta bahwa Garfinkel bertemu dengan mahasiswa Yahudi lainnya di Newark yang mengambil kuliah sosiolog dan kelak menjadi ilmuan sosial.
Setelah lulus pada 1939 Garfinkel menghabiskan musim panas di kamp kerja Quaker di Georgia. Di sana dia mengetahui bahwa University of North Carolina memiliki program sosiologi yang juga diorientasikan ke tindak lanjut proyek-proyek kerja publik seperti yang dilakukan oleh Garfinkel memilih Guy Johnson sebagai penasihat tesisnya dan minat Johnson pada relasi ras membuat Garfinkel memilih tesis pembunuhan interrasial. Dia juga mengenal berbagai teori sosial, terutama karya-karya fenomenolog dan The Structure of Social Action (1937) karya Talcott Parsons. Sementara sebagian besar mahasiswa di North Carolina pada saat itu tertarik pada statistika dan “sosiologi ilmiah”, Garfinkel lebih tertarik pada teori, khususnya teori Florian Znaniecki tentang tindakan sosial dan arti penting dari sudut pandang aktor.
Garfinkel pada 1942 ikut wajib militer dan bergabung dengan angkatan udara. Dia akhirnya diberi tugas pelatihan pasukan untuk berperang dengan tank di Miami Beach. Garfinkel hanya mempunyai potret tank dari majalah Life. Tank-tank sesungguhnya semuanya dipakai bertempur. Orang yang senang dengan detail empiris konkret sebagai pengganti penjelasan teori kini mengajar pasukan riil yang akan segera terjun untuk berperang dengan tank khayalan di dalam situasi dimana hal-hal seperti kedekatan pasukan dengan tank khayalan itu bisa menentukan hidup dan mati. Dampak dari pengembangan pandangannya ini hanya dapat dilayangkan. Dia harus melatih pasukan untuk melempar granat ke trek tank-tank khayalan; menembak tank-tank khayalan. Tugas ini memberi problem baru bagi Garfinkel untuk memberikan penjelasan yang memadai tentang tindakan dan akuntabilitas yang pernah dipelajarinya di North Carolina sebagai isu teoritis. (Rawls, 2000).
Ketika perang berakhir, Garfinkel melanjutkan studi ke Harvard dan belajar kepada Talcott Parson. Sementara Parsons menekankan pentingnya kategori abstrak dan generalisasi, Garfinkel menjadi terkenal di bidang tersebut, hal ini lalu menjadi perdebatan hangat dalam sosiologi. Akan tetapi, dia segera tertarik dengan demonstrasi empiris dari arti penting orientasi empirisnya ketimbang memperdebatkannya secara abstrak. Saat masih menempuh studi di Harvard, Garfinkel mengajar selama dua tahun di Princeton, dan setelah memperoleh gelar doktornya dia pindah ke Ohio State, dimana dia mendapat tugas proyek studi kepemimpinan di penerbangan dan kapal selam. Riset itu diperpendek karena dananya dikurangi, tetapi kemudian Garfinkel bergabung dengan proyek riset juri di Wichita, Kansas. Dalam persiapan untuk pertemuan proyek pada pertemuan Ameiran Sociologial Association tahun 1954, Garfinkel memakai istilah etnometodologi untuk mendeskripsikan hal-hal yang menarik baginya tentang pertimbangan juri dan kehidupan sosial pada umumnya.
Pada musim gugur 1954 Garfinkel mendapat posisi di UCLA, posisi yang dipegangnya sampai dia pensiun pada 1987. Sejak awal dia menggunakan istilah etnometodologi dalam seminar-seminarnya. Sejumlah mahasiswa tertarik dengan pendekatan Garfinkel dan menyebarluaskannya ke seluruh Amerika Serikat dan akhirnya ke seluruh dunia. Yang paling menonjol adalah kelompok sosiolog, terutama Harvey Sacks, Emanuel Schegloff dan Gail Jefferson, yang karena terilhami oleh pendekatan Garfinkel, mengembangkan variasi etnometodologi yang terpenting analisis percakapan.

Sekilas tentang George Ritzer


Karya biografi dan auto biografi berguna membantu kita dalam memahami karya teoritis sosiologi pada umunya. Thomas hankin, sejarah ilmu menjelaskan sebagai berikut : Biografi lengkap seorang ilmuan, yang tak hanya meliputi kepribadian saja, tetapi juga mengenai karya ilmiah dan konteks sosial dan intelektual di zamannya… masih tetap menjadi cara yang terbaik untuk menemukan masalah yangmengelilingi tulisan tentang sejarah ilmu …ilmu di ciptakan oleh individu, tetapi banyak di antara karya ilmiah itu yang di dorong oleh kekuatan dari luar, yang berpengaruh melalui ilmuan itu sendiri. Biografi adalah lensa kesustraan, dengan lensa ini kita dapat melihat proses penciptaan ilmu dengan cara yang terbaik. (Hankins, 1979;14).
Apa yang di tegaskan oleh Hankins mengenai ilmu pada umunya menjelaskan orientasi saya atas biografi teoritis sosiologi, termasuk diri saya sendiri, guntingan auto biografi ini di rencanakan untuk memberikan kesan bahwa biografi dapat di manfaatkan sebagai alat untuk analisis metateoritis.
Walau saya telah mengajar di jurusan sosiologi selama lebih dari 30 tahun dan telah menulis sejumlah besar buku kajian sosiologi di seluruh dunia, namun tak satupun gelar sarjana saya bukan di bidang sosiologi. Keterbatasan latar belakang sosiologi di bidang sosiologi ini mendorong saya untuk mempelajari sosiologi secara umum dan teori sosiologi secara khususnya. Upaya studi metateori ini juga, sekutrangnya dalam satu hal,di bantu dengan kerja keras untuk memahami terori sosiologi. Karena saya tak dididk menurut satu “aliran “khusus. Saya mempelajari teori sosiologi dengan hanya berbekal sedikit konsepsi dan bias,barang kali saya adalah pelajar dari seluruh “aliran pemikir”; keseluruhanya memberikan keuntungan yang sama bagi pemahaman teoritis saya.
Karya metateori petertama saya,sociology; A Multiple science (1075), tak hanya berupaya menyusun pradigma sosiologi yang terpisah-pisah dan sering bentrok (konflik) satu sama lain itu tetapi juga mencoba membahas kemungkinan untuk munghubungkan,menjembatani,menyatukan dan menggunakan pradigma sosiologi yang beragam itu.merasa tak enak dengan konflik paradigmatis itu, saya ingin melihat suasana yang lebihharmonis dan rukun dalam sosiologi. Hasrat itulah yang mendorongsaya menerbitkan buku Toward an integrated sociological paradigm (1981a); di dalamnya saya lebih memusatkan perhatian sepenuhnya pada sebuah padigma yang terintegrasi. Di tahun belakangan ini, minat terhadap penyelesaian konflik teoritis mendorong saya memusatkan perhatian pada integrasi mikro-makro (1990a) dan integrasi keagenan-struktur (Ritzer dan Gindolf, 1994) maupun pada maslah yang lebih luas yakni pad admaslaah sintesis teoritis(1990b). minat saya terhadap karya metateoritis di jelaskan oleh Hasrat saya untuk memahami teori dengan lebih baik dan untuk menyelesaikan konflik dalam teori sosiologi. Dalam buku saya metatheorizing (1992b) saya telah mengemukan perlunya studi sistematis atas teori sosiologi,saya percaya bahwa kita perlu lebih banyak melakukan studi itu untuk memahami teori dengan lebih baik, menghasilkan teori baru, dan perspektif teoritis yang lebih luas jangkauanya (metateori) studi metateoritis juga beroreantasi untuk menjernikan masalah yang di pertentangkan, menyelesaikan perselisian pendapat dan untuk menemukan peluang lebih besar dalam mencapai sistesis dan integrasi.
Setelah bertahun-tahun berusaha menerangkan sifat teori sosiologi, pada awal 1990-an saya mulai cemas dengan abstraksi karya metateoritis, sehingga saya berusaha mengaplikasikan berbagai teori yang telah saya pelajari kepada aspek-apek konkret dari dunia sosial. Saya pernah sedikit melakukannya pada 1980-an , menerapkan teori Weber pada rasionalisasi restoran Fasr-Fod (1893) dan profesi medis (Ritzer dan Walczak,1988). Saya merevisi esai 1982 tersebut. Dan hasilnya adalah sebuah buku The McDonaldization of Society (1993, 1996, 2000a) yang menyatakan bahwa sementara birokrasi menjadi paradikma rasionalisasi formal di era Weber, yang menjadi model paradikma birokrasi dalam masyarakat moderen adalah restoran cepat saji (esai tambahan untuk topik ini di jumpai dalam the McDonaldization Thyesis[1998].) dalam expressing America; A Critique of ther Global Credit Card Society (1995) saya mengalihkan pada fenomena ekonomi sehari-hari kita, yang saya analisis bukan dari perspektif teori rasionalitas, tetapi dari perspektif lain , termasuk ide teoritis tentang uang dari Georg Simmel.
Karya tentang restoran fast-fod dan kartu kredit ini membawa kepada kesadaran bahwa apa yang sesungguhnya menjadi minatr saya adalah sosiologi konsumsi, yang belum banyak di kembangkan di Amerika Serikat, setidaknya di bandingkan dengan Great Britain dan negara eropa lainnya. Ini menghasilkan enchanting a Disenchanted Word Revolutionizing the Means of consumption (1999), di mana saya menggunakan teori Weberian- Marxian , dan teori post - modern untuk menganalisa alat konsumsi baru (superstore, megamall, cybermall, televisi Home-Shopping, Kasino, Taman Hiburan, dan kapal pesiar, dan juga restouran Fast Fod, dan waralaba lainnya)yang menjadi cara forang Amerika dan di belahan dunia lainya mengkonsumsi barang dan jasa.
Capital Global dari McDonald dan McDonaldisasi, kartu kredit, dan alat-alat konsumsi baru membawa saya pada minat Globalisasi dan menghasilkan buku Globalization of Nothing (2004), sementara saya tidak bisa mengesampingkan isue metateoritis, dan sesungguhnya baru-baru ini saya membahasnya (Ritzer, 2001) rencana saya sekarang adalah melanjutkan penggunaan teori untuk memikirkan dunia kontemporer, khususnya konsumsi dan globalisasi.