Selasa, 02 April 2013

Sekilas tentang George Herbert Mead


George Herbert Mead lahir di south Hadley, massacussetts, Amerika pada 27 febuari 1863, anak dari seorang pendeta. Ayahnya bernama Hiram Mead, sedangkan ibunya bernama Elizabert Storrt Mead adalah seorang yang berkependidikan yang mengajar di obelin college selama dua tahun, kemudian menjadi presiden di mount holkoye college selama 10 tahun.
Ketika berumun 10 tahun, George H. mead  masuk fakultas teologi di Oberlin di ohio, dan selesai pada tahun 1883.  Ketika menjadi mahasiswa di sini dia berteman dengan henry castel, seorang yang berasal dari keluarga kaya dan berpendidikan baik. Mereka sesing berdiskusi tentang filsafat dan agama sehingga semakin kritis dan mereka banyak mengembangkan tentang sastra, puisi dan sejarah.
Setelah ia lulus pada umur 20 tahun dan ia mengajar di sebuahsekolah. Namun hanya sebentar karena mendapat penolakann oleh muridnya yang sering gaduh dan tidak serius dalam belajar, kemudian ia bekarja sebagai pekerja survei yang menyusun batas jalan sepanjang 1100 mil dari Minnesota sampai Saskatchewan. Selama tahun-tahun itu mead mendapat pengalaman tentang teknik sipil dan mendapatkan apresiasi  dari kekuatan dan kemanfaatan praktis atas metode ilmiah.
Mead masuk ke universitas Harvard, tempat ia menghabiskan waktu setahun untuk mengkaji filsafat dan psikologi bersama dengan bahasa latin, yunani dan subyek lain. Pada waktu itu ia tertarik pada romantic dan idealistis. Kemudian 3 tahun ia pergi ke jerman ia mempelajari pandangan atau filosofi idealis jermania semakin menunjukan keterkaitannya pada psikologi ketimbang filsafat. Pada tahun 1891 ia  kembali ke AS mengajar di universitas Michigan ia mengajar selama 3 tahun. Di tahun 1894 ia bergabung dengan departemen filosofi di unifersitas Chicago dan tetap disana hingga meninggal di tahun 1931.

Sekilas tentang George Casper Homans


George Casper Homans (lahir di Boston, Massachusetts, 11 Agustus 1910 – meninggal di Cambridge, Massachusetts, 29 Mei 1989, usia 78) adalah seorang sosiolog Amerika, pendiri sosiologi perilaku dan teori pertukaran.
Homans terkenal karena penelitiannya dalam perilaku sosial dan karya-karyanya, termasuk Human Group, Sosial Behavior: Its Elementary Forms, teori pertukaran dan berbagai proposisi ia ditegakkan untuk lebih menjelaskan perilaku sosial. Dalam sosiologi dan psikologi sosial , Homans dianggap sebagai salah satu teori sosiologis utama pada periode dari tahun 1950 hingga 1970-an.
Homans masuk Harvard College pada tahun 1928 dengan luas konsentrasi dalam bahasa Inggris dan sastra Amerika . Dengan tinggal di lingkungan di mana orang sangat menyadari hubungan sosial, Homans menjadi tertarik pada sosiologi. Dari tahun 1934 sampai 1939 ia adalah seorang Junior Fellow dari Masyarakat terbentuk baru penerima beasiswa di Harvard, melakukan berbagai studi di berbagai bidang, termasuk sosiologi, psikologi dan sejarah. Pengaruh penting pada sudut pandang Homans adalah Joseph Lawrence Henderson, seorang ahli biokimia dan sosiolog yang percaya bahwa semua ilmu harus didasarkan pada seperangkat terpadu dan metodologis prinsip-prinsip teoritis. Homans, tanpa pekerjaan dan tidak ada hubungannya, menghadiri seminar Henderson di Harvard satu hari dan langsung diambil oleh kuliahnya. Akibatnya, Homans bergabung dengan kelompok diskusi di Harvard disebut Circle Pareto, yang dipimpin oleh Henderson dan terinspirasi oleh karya Vilfredo Pareto. Henderson sering dibahas Vilfredo Pareto di ruang kuliah.Pareto adalah seorang sosiolog yang prihatin dengan distribusi ekonomi. Teman-teori Pareto dan Henderson ceramah dipengaruhi pertama buku Homans, ditulis bersama dengan Circle sesama anggota Charles P.
Curtis, yang disebut An Introduction to Pareto. Pada 1939 ia menjadi Harvard fakultas anggota, sebuah afiliasi seumur hidup di mana ia mengajar sosiologi maupun sejarah abad pertengahan. Ajaran ini membawa dia di kontak dengan karya-karya baru dalam sosiologi industri dan terkena karya antropolog fungsional. Dia adalah seorang instruktur sosiologi hingga 1941 ketika ia meninggalkan untuk melayani Angkatan Laut Amerika Serikat untuk mendukung perang. Setelah empat tahun lagi, ia kembali ke Boston dan terus mengajar sebagai seorang profesor 1946-1953, dan seorang profesor sosiologi setelah 1953. Ia kemudian menjadi dosen tamu di University of Manchester pada tahun 1953, di Cambridge University 1955-1956, dan di University of Kent pada tahun 1967. Berdasarkan kemudian teoritis tulisannya, menjadi seorang mayor teori dan tahun 1964 terpilih menjadi Presiden Asosiasi Sosiologi Amerika . Ia pensiun mengajar di tahun 1970.
Awalnya George C. Homans tidak menaruh perhatian masalah pertukaran sosial dalam mengadakan pendekatan terhadap masyarakat karena pada awalnya ia mengarahkan perhatian pada pendekatan fungsionalisme struktural. Pendekatan fungsionalisme struktural ternyata mempunyai arti yang sangat penting karena mampu memberi masukan terhadap teori sosiologi, terutama dalam hubungannya dengan struktur, proses dan fungsi kelompok sebagaimana tercantum dalam bukunya yang berjudul The Human Group. Menurut pendapatnya analisis fungsionalisme struktural mempunyai manfaat untuk menemukan dan memberikan uraian, akan tetapi pendekatan tersebut tidak mampu menjelaskan. Selanjutnya, berhubung pendekatan fungsionalisme struktural itu tidak dapat menjelaskan berbagai macam hal maka menurut pendapatnya dianggap sebagai suatu kegagalan.
Berhubung pendekatan fungsionalisme struktural dianggap gagal dalam memberikan fenomena-fenomena baru yang muncul dalam interaksi sosial di masyarakat maka ia berusaha menyempurnakannya dengan prinsip-prinsip pertukaran sosial. Berkenaan dengan hal tersebut maka ia tinggalkan pendekatan fungsionalisme struktural dan selanjutnya menyatakan tentang pentingnya pendekatan psikologi dalam menjelaskan gejala-gejala sosial. Menurut pendapatnya dengan psikologi dapat dijelaskan mengenai faktor yang menghubungkan sebab dan akibat. Dalam hal yang menghubungkan antara sebab dan akibat hanya dapat dijelaskan oleh proposisi psikologi melalui pendekatan perilaku. Namun, pada mulanya ia juga menggunakan pendekatan ilmu ekonomi karena diasumsikan bahwa orang yang berperilaku itu memperoleh ganjaran dan menghindari hukuman. Akan tetapi, ia juga berpendapat bahwa perilaku orang itu tidak semata-mata alasan ekonomi, melainkan juga karena adanya rasa kepuasan, harga diri dan persahabatan.
George C. Homans menyatakan bahwa psikologi perilaku sebagaimana diajarkan oleh B.F. Skinner dapat menjelaskan pertukaran sosial. Adapun proposisi yang mampu memberikan penjelasan pertukaran sosial, yaitu : Proposisi sukses, artinya semakin perilaku itu memperoleh ganjaran, semakin orang melaksanakan perilaku tersebut.
Contohnya, kita dapat berharap menerima gaji di akhir minggu setelah sarat dengan kerja berat, kita tahu bahwa siswa yang belajar sungguh-sungguh akan memperoleh nilai tinggi, atau kita temukan bahwa senyuman selalu mengundang sambutan hangat sebagai imbalannya.
Akan tetapi proposisi ini harus diseimbangkan dengan proposisi lain. Jelas bahwa tidak semua orang memilih untuk bekerja, tidak semua siswa belajar sebelum ulangan dan tidak semua orang member senyuman.
Proposisi stimulus, artinya apabila stimulus menyebabkan adanya ganjaran maka pada kesempatan yang lain orang akan melakukan tindakan apabila ada stimulus yang serupa.
Contohnya, mahasiswa yang menginginkan nilai ujiannya baik. Mahasiswa itu sadar bahwa dirinya harus tetap ikut kuliah dan merelakan waktunya untuk giat belajar. Di masa lalu ia menerima ganjaran berupa nilai baik dan menyadari pentingnya belajar sebagai stimulus  yag melahirkan hasil yang diinginkan. Akan tetapi selama bertahun-tahun mahasiswa itu melihat bahwa ia dapat menggunakan waktu dua hari sebelum ujian dengan hasil yang sama dengan cara belajar di masa lalu, kemudian ia melihat bahwa studi pembahasan berkelompok tidak begitu bermanfaat. Bila mahasiswa itu berkesempatan untuk memilih masuk dalam pembahsan kelompok atau individual, maka ia mungkin akan memilih studi pembahasan secara individual.
Proposisi nilai, artinya semakin tinggi nilai suatu tindakan maka semakin senang orang melaksanakan.
Contohnya, seorang mahasiswa dihadapkan dengan pilihan ia memperoleh kesempatan untuk melihat konser band favoritnya disaat yang sama ia harus mengesampingkan pelajarannya. Dengan demikian masalah sudah menyangkut satu nilai. Manakah yang lebih penting bagi mahasiswa itu, nilai ujian atau kenikmatan menyaksikan konser ?.
Proposisi deprivasi satiasi, artinya semakin orang memperoleh ganjaran tertentu maka semakin berkurang nilai itu bagai orang yang bersangkutan; Apa yang dikatakan Homans sebagai kunci penjelasan ialah kejenuhan dengan ganjaran tertentu.
Contohnya, mahasiswa mungkin telah memiliki empat nilai tertinggi dalam ujiannya dan mungkin merasa bahwa nilai tinggi lainnya tidak akan bernilai sama dengan kesempatan menonton konser band favoritnya.
Proposisi restu-agresi, artinya ganjaran yang tidak seperti yang diharapkan maka akan menyebabkan marah dan kecewa serta dapat menyebabkan perilaku yang agresif. Dalam proposisi berlapis ini Homans berbicara tentang perilaku emosional seseorang.
Contohnya, mahasiswa yang datang ke konser namun ternyata semua tiket sudah terjual. Jelas bahwa mahasiswa itu ditolak oleh ganjaran yang diinginkannya dari menghadiri konser itu. Dia mugkin merasa frustasi dan dikecewakan oleh peugas di loket. Akan tetapi entah bagaimana manajer gedung konser kebetulan lewat dan mendengar sikap permusuhan dari mahasiswa. Akhirnya si mahasiswa itu diberi tempat cadangan di barisan khusus. Maka ia akan senang sekali.
Teori Pertukaran sosial beranggapan orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Pada pendekatan obyektif cenderung menganggap manusia yang mereka amati sebagai pasif dan perubahannya disebabkan kekuatan-kekuatan sosial di luar diri mereka.
Homans menekankan bahwa kelima proposisi itu saling berkaitan dan harus diperlakukan sebagai satu perengkat. Dalam analisis final, Homans menyatakan bahwa masyarakat dan lembaga-lembaga sosial itu benar-benar ada disebabkan oleh pertukaran sosial; dan ini akan dianalisa dengan kelima proposisi itu.
Dalam pertukaran sosial menunjukkan adanya gejala munculnya kekuasaan yang terjadi pula dalam suatu kelompok. Dalam kelompok akan terjadi persaingan antarindividu, dan tiap individu akan berusaha memperoleh kesan lebih menarik jika dibanding dengan yang lain. Agar orang itu terkesan lebih menarik dari orang lain syaratnya dapat menarik perhatian orang lain. Dalam persaingan itu nantinya akan nampak adanya pihak atau orang yang dapat menarik perhatian orang-orang yang dalam kelompok yang bersangkutan. Kelebihan orang yang bersangkutan dapat menarik perhatian orang lain kemungkinan karena kepandaiannya, kejujurannya, kesopanannya ataupun kebijaksanaannya.
Dari tiap-tiap kelompok akan ada yang menonjol dan yang menonjol itu akhirnya akan muncul satu orang yang paling menarik perhatian orang dalam kelompok-kelompok tersebut maka muncullah kekuasaan, dalam arti ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Dalam hal ini, pemimpin (pemegang kekuasaan) akan memperoleh penghargaan sebagai akibat tanggung jawab yang dapat dipenuhinya. Sementara orang yang dipimpin akan mendapat penghargaan karena ketaatannya, baik karena tugas yang diselesaikan maupun kesediaannya mematuhi peraturan-peraturan yang ada.
Perintah yang dipatuhi adalah perintah yang diberikan oleh pemimpin yang sah. Agar perintah dipatuhi maka pemimpin (pemegang kekuasaan) harus mempunyai wewenang. Wewenang yang dimiliki oleh pemegang kekuasaan digunakan untuk merekrut anggota dalam kelompok.
Kontradiksi yang palng parah dalam teori pertukaran sosial Homans ialah kepercayaannya bahwa dia sedang menghadapi psikologi, yaitu psikologi perilaku yang mempelajari manusia sebagai manusia, sebagai anggota spesies manusia, namun psikologi ini ternyata telah mengambil prinsip-prinsipnya dari perilaku binatang. Lebih menarik adalah kenyataan bahwa Homans kehilangan apa yang mungkin paling esensil dalam manusia. Berbeda dengan binatang, tindakan manusia tidak perlu dikaitkan dengan masa lalu mereka, tetapi manusia dapat bertindak sekarang, walaupun masa lalu menyediakan perhitungan berbagai kemungkinan masa depan yang menguntungkan mereka.
Para pengkritik lain juga merasa dirisaukan oleh “manusia ekonomi” Homans khususnya dengan asumsi mengenai semua interaksi sosial itu “fair” atau sesuai dengan prinsip distribusi keadilan. Pengkritik itu menyatakan tidak realistis bila melihat dunia sebagai suatu sistem yang cenderung kearah pertukaran seimbang. Dari kritik tersebut akan terlihat bahwa pandangan Homans tentang kekuasaan dan keadilan itu tidak tepat. Apaka perbudakan, gaji di bawah standar, atau peperangan benar-benar dapat di redusir pada prinsip pertukaran ? Banyak komentator sosiologis akan berfikir sebaliknya.
Para ahli sosiologi naturalistic lain tidak bersedia meredusir sosiologi ke dalam penjelasan-penjelasan  psikologis. Reduksionisme psikologi adalah sumber pertikaian bagi para ahli sosiologi yang menyatakan gejala sosial itu lahir dan memiliki karakteristiknya. Karakteristik (properties) itu tidak dapat diredusir kepada penjelasan-penjelasan psikologis.
Kesalahan khusus dari posisi reduksionis Homans ialah pada kesimpulan logisnya, bahwa reduksionisme psikologis dapat menopang sosiologi yang sudah basi. Dengan demikian, walau pertukaran informasi antara sosiologi dan psikologi sangat diinginkan demi pengertian yang utuh tentang manusia dalam masyarakat, tetapi  meredusir sosiologi ke prinsip-prinsip psikologis kelihatannya tidak demi kepentingan masing-masing disiplin itu.
Walau Homans menyatakan teori pertukaran itu dapat dipaksa menjelaskan perilaku manusia di tingkat institusonal dan sub-institusional, tetapi teori itu pada dasarnya bersifat sub-institusional dan beruang lingkup mikro.

Sekilas tentang Georg Simmel


Simmel lahir di Berlin, 1 Maret 1858. Ia mempelajari berbagai cabang ilmu di Universitas Berlin. Tetapi, upaya pertamanya untuk menyusun disertasi ditolak dan salah seorang profesornya pernah mengatakan “Kami akan banyak membantunya bila tak mendorongnya ke arah ini” (Firsby, 1984 : 23). Meski proposal pertamanya ditolak, ia mempertahankan disertasi dan menerima gelar doktor filsafat tahun 1881. Hingga 1914 ia tetap di Universitas Berlin berstatus tenaga pengajar meskipun hanya menduduki jabatan yang relatif penting sebagai “dosen privat” dari 1885-1900. Dia kemudian menjadi dosen yang tak digaji, yang kehidupannya tergantung pada honor dari mahasiswa. Meski honornya kecil, dalam jabatan ini kehidupan ekonominya agak baik karena ia seorang dosen yang cerdas dan menarik banyak mahasiswa yang membayarnya (Frisby, 1981:17; Salomon, 1963/1997). Gaya mengajarnya demikian populer, hingga bahkan anggota terpelajar masyarakat Berlin pun menghadiri kuliahnya.
Keterpinggiran Simmel paralel dengan fakta bahwa Simmel agak kontradiktif dan merupakan pribadi yang membingungkan : Jika kita kumpulkan keterangan yang ditinggalkan oleh teman mahasiswanya di masa itu, kita akan menemukan sejumlah indikasi mengenai Simmel yang kadang-kadang saling bertentangan. Ada yang melukiskannya sebagai orang yang tinggi dan ramping, orang lain melukiskannya sebagai orang yang pendek dan berpenampilan sedih. Dilaporkan penampilannya tak menarik, khas Yahudi, tetapi juga sangat cerdas dan ningrat. Dilaporkan pula ia pekerja keras, juga lucu, dan sangat pandai berbicara. Terdengar pula ia sangat pintar (Lukacs, 1991:145), ramah, rapi, tetapi iapun irrasional, kusam dan sembrono (Schnabel dikutip dalam Poggi, 1993 : 55).
Simmel menulis banyak artikel (“The Metropolis and Mental Life”) dan bukuThe Philosophy of Money. Ia terkenal di kalangan akademisi Jerman, mempunyai pengikat internasional, terutama di Amerika. Di situ karyanya berpengaruh besar dalam kelahiran sosiologi. Tahun 1900 ia menerima penghargaan resmi gelar kehormatan murni dari Universitas Berlin yang tak memberinya status akademisi penuh. Simmel mencoba mendapatkan berbagai status akademisi, namun ia gagal meski mendapat dukungan sarjana seperti Max Weber. Salah satu alasan yang menyebabkan Simmel gagal adalah karena ia keturunan Yahudi, sementara di abad 19 Jerman sedang dilanda paham anti-Yahudi (Kasler, 1985). Begitulah, dalam sebuah laporan tentang Simmel yang ditulis untuk menteri pendidikan, Simmel dilukiskan sebagai seorang “Israel tulen dalam penampilan luarnya, dalam sikapnya dan dalam cara berpikirnya” (Frisby, 1981:25). Alasan lain adalah jenis karya yang dihasilkan. Banyak artikelnya dimuat di koran dan majalah; yang ditulis untuk konsumen lebih umum ketimbang untuk sosiolog semata (Rammstedt, 1991). Lagi pula karena ia tak memegang jabatan akademis reguler ia terpaksa mencari nafkah melalui ceramah umum. Peminat tulisannya maupun ceramahnya lebih banyak intelektual publik ketimbang sosiolog profesional dan ini menimbulkan penilaian yang melecehkan dari rekan seprofesinya misalnya salah seorang rekan sesamanya mengutuknya karena  pengaruhnya terhadap suasana umum dan terutama terhadap “jurnalisme” (Troeltsch, dikutip dalam Frisby, 1981:13) kegagalan personal Simmel pun dapat dikaitkan dengan rendahnya penghargaan akademisi Jerman terhadap sosiologi ketika itu. Tahun 1914 Simmel akhirnya diangkat sebagai dosen tetap di Universitas kecil (Strasbourg), tetapi sekali lagi ia merasa sebagai orang asing. Di satu sisi ia menyesal meninggalkan peminat ceramahnya di Berlin. Istrinya menyurati Max Weber : Georg meninggalkan peminatnya dalam sedih…. Mahasiswa di Berlin itu sangat simpati dan setia…. Inilah keberangkatan ke puncak kehidupan” (Krisby, 1981:29). Di sisi lain Simmel tak merasa menjadi bagian kehidupan dari Universitas barunya itu. Ia menyurati istri Weber “Hampir tak ada yang dapat kami laporkan, kami hidup … menyendiri, tertutup, acuh tak acuh, terpencil dari kehidupan luar. Kegiatan akademis = 0, orangnya… asing dan bermusuhan secara diam-diam.” (Krisby, 1981:32). Perang Dunia I pecah segera setelah Simmel diangkat menjadi dosen di Strasbourg. Uang kuliah menjadi rumah sakit militer dan mahasiswa ikut berperang. Demikianlah Simmel tetap menjadi tokoh marginal di dunia akademis Jerman hingga kematiannya tahun 1918. ia tak pernah mendapat karir akademis yang normal. Bagaimanapun juga Simmel menarik perhatian sejumlah besar mahasiswa di zamannya dan kemasyhurannya sebagai seorang sarjana terpelihara bertahun-tahun.

Sekilas tentang Erving Goffman


Goffman wafat tahun 1982 ketika berada di puncak ketenarannya. Ia sejak lama dianggap sebagai tokoh “pujaan” dalam teori sosiologi. Status ini dicapai meski ia telah lama menjadi profesor di jurusan sosiologi bergengsi di Universitas California, Berkeley dan kemudian menjadi ketua di Liga Ivy, Universitas Pennsylvania.
Menjelang 1980-an ia tampil sebagai teoritisi yang sangat penting. Di tahun kematiannya sebenarnya ia terpilih sebagai presiden The American Sociological Association, tetapi tak memungkinkan menyampaikan pidato pengangkatannya karena ia tertimpa penyakit. Berkenaan dengan status Goffman ini, Randall Collins dalam pidatonya mengatakan : “Tiap orang ingin tahu apa yang akan dia sampaikan dalam pidato pelatikannya sebagai presiden asosiasi sosiologi: prestasi tradisional langsung jelas tak mungkin disampaikan Goffman berkenaan dengan reputasinya sebagai seorang yang menentang pemujaan lembaga-lembaga sosial yang ada…kami menerima pesan yang lebih dramatis Pidato pelatikan dibatalkan, Goffman meninggal. Itu adalah jalan keluar Goffmania yang tepat” (1986b:112).
Goffman lahir di Alberta, Canada, 11 Juni 1922 (Williams, 1986). Ia menerima gelar doktornya dari Universitas Chicago dan sebagai teoritisi interaksionisme simbolik. Tetapi ketika ia ditanya tak lama sebelum meninggal apakah ia seorang interaksionis simbolik, ia menjawab bahwa nama itu terlalu samar untuk memungkinkannya menempatkan dirinya ke dalam kategori itu (Manning, 1992). Kenyataannya, sulit memasukkan karyanya ke dalam kategori tunggal manapun. Dalam menciptakan perspektif teoritisnya, Goffman menggunakan berbagai sumber dan menciptakan sebuah orientasi khusus.
Collins (1986b; Williams, 1986) lebih menghubungkan Goffman kepada antropologi sosial ketimbang kepada interaksionisme simbolik. Ketika belajar S1 di Universitas Toronto, Goffman telah belajar dengan seorang antropolog dan ketika di Chicago, kontrak utamanya bukanlah dengan teoritisi interaksionisme simbolik, tetapi dengan W.L. Wamer (antropolog), (Collins, 1986b:109). Menurut Collins, hasil pemeriksaan atas kutipan dalam karya awal Goffman menunjukkan bahwa ia dipengaruhi oleh antropolog-sosial dan jarang mengutip pemikiran interaksionis simbolik dan bila ia menyinggung pemikiran interaksionisme simbolik, hal itu adalah untuk mengkritik pemikiran tersebut. Namun, Goffman dipengaruhi oleh studi deskriptif yang dihasilkan di Chicago dan menyatukan hasil studi deskriptif itu dengan hasil studi antropologi sosial untuk menciptakan perspektif khususnya sendiri. Jadi, pakar interansionis simbolik memperhatikan bagaimana cara aktor menciptakan atau merembukkan citra diri mereka, sebaliknya Goffman memperhatikan bagimana cara masyarakat… memaksa orang untuk menampilkan citra tertentu mengenai diri mereka sendiri… karena masyarakat memaksa kita berpindah-pindah diantara berbagai peran yang kompleks maka kita akan menjadi selalu agak tidak jujur, tak taat asas dan tidak hormat” (Collins, 1986a:107).
Meski ia mempunyai perspektif khusus, Goffman berpengaruh besar terhadap interaksionisme simbolik. Lagi pula, dapat dikatakan bahwa ia pun berperan dalam membentuk etnometodologi, bagian lain dari sosiologi kehidupan sehari-hari. Collins melihat Goffman sebagai tokoh kunci dalam pembentukan etnometodologi dan metode analisis percakapan. “Goffmanlah yang memprakarsai studi empiris yang teliti tentang kehidupan sehari-hari, walaupun ia melakukannya dengan mata telanjang sebelum ramainya pemakaian tape-recorder dan video-recorder” (1986:111). Sebenarnya, sejumlah pakar etnometodologi penting (Sackes, Schegloff) semula sama-sama belajar dengan Garfinkel, pendiri etnometodologi.
Mengingat pengaruhnya terhadap interaksionisme simbolik, strukturalisme dan etnometodologi, teori Goffman mungkin akan tetap berpengaruh dalam jangka panjang.

Sekilas tentang Emile Durkheim


Emile Durkheim lahir di Epinal, Perancis 15 April 1858. Ia keturunan pendeta Yahudi dan ia sendiri belajar untuk menjadi pendeta (rabbi). Tetapi, ketika berumur 10 tahun ia menolak menjadi pendeta. Sejak itu perhatiannya terhadap agama lebih bersifat akademis ketimbang teologis (Mestrovic, 1988). Ia bukan hanya kecewa terhadap pendidikan agama, tetapi juga pendidikan masalah kesusastraan dan estetika. Ia juga mendalami metodologi ilmiah dan prinsip moral yang diperlukan untuk menuntun kehidupan sosial. Ia menolak karir tradisional dalam filsafat dan berupaya mendapatkan pendidikan ilmiah yang dapat disumbangkan untuk pedoman moral masyarakat. Meski kita tertarik pada sosiologi ilmiah tetapi waktu itu belum ada bidang studi sosiologi sehingga antara 1882-1887 ia mengajar filsafat di sejumlah sekolah di Paris.
Hasratnya terhadap ilmu makin besar ketika dalam perjalanannya ke Jerman ia berkenalan dengan psikologi ilmiah yang dirintis oleh Wilhelm Wundt (Durkheim, 1887/1993). Beberapa tahun sesudah kunjungannya ke Jerman, Durkheim menerbitkan sejumlah buku diantaranya adalah tentang pengalamannya selama di Jerman (R. Jones, 1994). Penerbitan buku itu membantu Durkheim mendapatkan jabatan di Jurusan Filsafat Universitas Bordeaux tahun 1887. DI sinilah Durkheim pertama kali memberikan kuliah ilmu sosial di Universitas Perancis. Ini adalah sebuah prestasi istimewa karena hanya berjarak satu dekade sebelumnya kehebohan meledak di Universitas Perancis karena nama Auguste Comte muncul dalam disertasi seorang mahasiswa. Tanggung jawab utama Durkheim adalah mengajarkan pedagogik di sekolah pengajar dan kuliahnya yang terpenting adalah di bidang pendidikan moral. Tujuan instruksional umum mata kuliahnya adalah akan diteruskan kepada anak-anak muda dalam rangka membantu menanggulangi kemerosotan moral yang dilihatnya terjadi di tengah masyarakat Perancis.
Tahun-tahun berikutnya ditandai oleh serentetan kesuksesan pribadi. Tahun 1893 ia menerbitkan tesis doktornya, The Devision of Labor in Society dalam bahasa Perancis dan tesisnya tentang Montesquieu dalam bahasa Latin (W. Miller, 1993). Buku metodologi utamanya, The Rules of Sociological Method, terbit tahun 1895 diikuti (tahun 1897) oleh hasil penelitian empiris bukunya itu dalam studi tentang bunuh diri. Sekitar tahun 1896 ia menjadi profesor penuh di Universitas Bordeaux. Tahun 1902 ia mendapat kehormatan mengajar di Universitas di Perancis yang terkenal, Sorbonne, dan tahun 1906 ia menjadi profesor ilmu sangat terkenal lainnya, The Elementary Forins of Religious Life, diterbitkan pada tahun 1912.
Kini Durkheim sering dianggap menganut pemikiran politik konservatif dan pengaruhnya dalam kajian sosiologi jelas bersifat konservatif pula. Tetapi dimasa hidupnya ia dianggap berpikiran liberal dan ini ditunjukkan oleh peran publik aktif yang dimainkannya dalam membela Alfred Drewfus, seorang kapten tentara Yahudi yang dijatuhi hukuman mati karena penghianatan yang oleh banyak orang dirasakan bermotif anti-yahudi (Farrel, 1997).
Durkheim merasa sangat terluka oleh kasus Dreyfus itu, terutama oleh pandangan anti-Yahudi yang melatarbelakangi pengadilannya. Namun Durkheim tidak mengaitkan pandangan anti-Yahudi ini dengan rasialisme di kalangan rakyat Perancis. Secara luas ia melihatnya sebagai gejala penyakit moral yang dihadapi masyarakat Perancis sebagai keseluruhan (Bimbaum dan Todd, 1995). Ia berkata :
Bila masyarakat mengalami penderitaan maka perlu menemukan seorang yang dapat dianggap bertanggung jawab atas penderitaannya itu. Orang yang dapat dijadikan sebagai sasaran pembalasan dendam atas kemalangannya itu, dan orang yang menentang pendapat umum yang diskriminatif, biasanya ditunjuk sebagai kambing hitam yang akan dijadikan korban. Yang meyakinkan saya dalam penafsiran ini adalah cara-cara masyarakat menyambut hasil pengadilan Dreyfus 1894. keriangan meluap di jalan raya.  Rakyat merayakan kemenangan atas apa yang telah dianggap sebagai penyebab penderitaan umum. Sekurang-kurangnya mereka tahu siapa yang harus disalahkan atas kesulitan ekonomi dan kebejatan moral yang terjadi dalam masyarakat mereka; kesusahan itu berasal dari Yahudi. Melalui fakta ini juga segala sesuatu telah dilihat menjadi bertambah baik dan rakyat merasa terhibur (Lukes, 1972:345).
Perhatian Durkheim terhadap perkara Dreyfus berasal dari perhatiannya yang mendalam seumur hidupnya terhadap moralitas modern. Menurut Durkheim, jawaban atas perkara Dreyfus dan krisis moral seperti itu terletak di akhir kekacauan moral dalam masyarakat. Karena perbaikan moral itu tak dapat dilakukan secara cepat dan mudah, Durkheim menyarankan tindakan yang lebih khusus, seperti menindak tegas orang yang mengorbankan rasa benci terhadap orang lain dan pemerintah harus berupaya menunjukkan kepada publik bahwa menyebarkan rasa kebendaan itu adalah perbuatan menyesatkan dan terkutuk. Ia mendesak rakyat agar “mempunyai keberanian untuk secara lantang menyatakan apa yang mereka pikirkan dan bersatu untuk mencapai kemenangan dalam perjuangan menentang kegilaan publik (Lukas, 1972:347).
Tetapi minat Durkheim terhadap sosialisme juga dijadikan bukti bahwa ia menentang pemikiran yang menganggapnya seorang konservatif, meski jenis pemikiran sosialismenya sangat berbeda dengan pemikiran Marx dan pengikutnya. Durkheim sebenarnya menamakan Marxisme sebagai “seperangkat hipotesis yang dapat dibantah dan ketinggalan zaman” (Lukes, 1972:323). Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan gerakan yang diarahkan pada pembaharuan moral masyarakat melalui moralitas ilmiah dan ia tak tertarik pada metode politik jangka pendek atau pada aspek ekonomi dari sosialisme. Ia tak melihat proletariat sebagai penyelamat masyarakat dan ia sangat menentang agitasi atau tindak kekerasan. Menurut Durkheim, sosialisme mencerminkan sebuah sistem dimana didalamnya prinsip moral ditemukan melalui studi sosiologi ilmiah di tempat prinsip moral itu diterapkan.
Durkheim berpengaruh besar dalam pembangunan sosiologi, tetapi pengaruhnya tak hanya terbatas di bidang sosiologi saja. Sebagian besar pengaruhnya terhadap bidang lain tersalur melalui jurnal L’annee Sociologique yang didirikannya tahun 1898. Sebuah lingkaran intelektual muncul sekeliling jurnal itu dan Durkheim berada dipusatnya. Melalui jurnal itu, Durkheim dan gagasannya mempengaruhi berbagai bidang seperti antropologi, sejarah, bahasa dan psikologi yang agak ironis, mengingat serangannya terhadap bidang psikologi.
Durkheim meninggal pada 15 November 1917 sebagai seorang tokoh intelektual Perancis tersohor. Tetapi, karya Durkheim mulai memengaruhi sosiologi Amerika dua puluh tahun sesudah kematiannya, yakni setelah terbitnya The Structure of Social Action (1973) karya Talcott Parsons.

Senin, 01 April 2013

Sekilas tentang Dorothy E. Smith


Teori sosiologi D.E. Smith berasal dari pengalaman hidupnya sebagai wanita yang bergerak antara dua dunia, dunia akademis yang didominasi lelaki dan dunia wanita yang pada dsarnya menjadi pusat kehiudupan selaku orang tua tunggal. Mengenang kembali dirinya waktu berada di Berkeley di awal 1960-an, studi untuk meraih gelar doktor sosiologi dan dengan status orang tua tunggal, Smith melukiskan bahwa kehidupannya rupanya telah dibentuk oleh apa yang ia lihat sebagai “tak sebanyak hal yang kebetulan yang membentuk karir” (1979:151). Tema tentang hak yang kebetulan ini adalah salah satu dari banyak pengalaman pribadi yang menyebabkan Smith menantang keortodoksan sosiologi seperti citra tentang kesengajaan aktor bekerja melalui konflik peran.
Apakah terjadi secara kebetulan atau disengaja, kejadian berikut ini bagi orang luar akan tampak sebagai tahap-tahap penting dalam perkembangan Smith. Ia lahir di Inggris tahun 1926, mendapat gelar sarjana muda sosiologi dari universitas London tahun 1995. dan Ph.D. sosiologi dari Universitas California di Berkeley tahun 1963. Dalam periode yang sama ini ia mengalami beberapa kejadian : menikah, pindah ke Kanada segera sesudah kawin, mendapat pekerjaan (Smith, 1979:151). Mengenai kejadian ini ia menegaskan : “Kejadian itu muncul di saat aku sebenarnya hampir tak punya pilihan dan jelas tak terbayangkan sebelumnya.” Pekerjaan yang tersedia meliputi riset sosiologi di Berkeley; mengajar sosiologi di Berkeley, mengajar sosiologi di Universitas Essex, Colchester, Inggris; asisten profesor dan kemudian menjadi profesor di jurusan Sosiologi di Universitas British Colombia; dan sejak tahun 1977 menjadi profesor sosiologi di bidang pendidikan di Ontario Institute for Studies in Education, Toronto.
Smith menulis berbagai topik, semuanya berkaitan dengan perhatiannya yang “bercabang dua (bifurkasi)”, adakalanya sebagai tema sentral dan adakalanya sebagai motif. Ia melihat pengalaman bifurkasi menjelma dengan sendirinya dalam pemisahan antara deskripsi ilmu sosial dan pengalaman hidup orang, memisahkan antara pengalaman hidup wanita dan tipe ideal patriarki yang mereka keluarkan untuk melukiskan pengalaman itu, pemisahan antara struktur dunia mikro dan makro yang mendiktekan pengalaman mikro, dan terutama pemisahan antara dunia mikro penindasan dan dunia mikro penindas yang tindakannya menciptakan struktur makro penindasan. Perwujudan tema ini dapat dilihat dalam resensi pilihan diantara banyak judul karya Smith : The Statistics on Women and Mental Illness; How  not to read them (1975), What it Might Mean to Do a Canadian Sociology; the Everyday World as Problematic (1976), K is Mentally III; The Anatomy of a Factual Account (1978), Where There is Opperassion, There is Resistance (1979). Di tahun 1987 Smith menghasilkan analisis yang sangat luas dan menyatu tentang tema ini dalam sebuah buku yang menjadi penuntun sosiologi feminis, The Everyday World as Problematic. Buku ini disusul buku lain the Conceptual Practices of Power (1990a), Texts, Facts and Feminity (1990b) dan Writing the Social (1999b).
Apa yang ia hasilkan untuk kepentingan sosiologi feminis dan untuk semua sosiolog dalam batas teoritis adalah sosiologi yang menyatukan perhatian neo-Marxian dengan struktur dan wawasan fenomenologi ke dalam berbagai jenis kehidupan subyektif dan interaksi mikro. Ia melihat berbagai jenis kehidupan sehari-hari dibentuk oleh struktur makro dan struktur makro ini dibentuk oleh sejarah khusus kebutuhan ekonomi. Dalam mengembangkan garis nalar ini Smith ingin menghindarkan pandangan tentang dunia dimana penindasan selalu ditafsirkan sebagai pembuatan keputusan oleh aktor individual berdasarkan kepentingan diri sendiri. Apa yang dilihat Smith adalah bahwa kepentingan diri sendiri itu terletak dalam struktur dan ia menghadap sosiolog memusatkan perhatian pada struktur yang menghasilkan penindasan itu. Ia yakin bahwa struktur ini hanya akan dapat diketahui dengan menyelidiki kehidupan sehari-hari ini karena banyak ilmu sosial yang memulai dengan asumsi bahwa struktur itu telah diketahui dan dapat diketahui terlepas dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Karyanya yang terakhir melanjutkan proyeknya tentang sosiologi wanita melalui penelitian struktur makro yang menata kehidupan sehari-hari. Ia terutama memusatkan perhatian untuk mengembangkan penelitian tentang organisasi dan hubungan sosial dalam politik kehidupan sehari-hari. Karyanya ini menawarkan sosiologi alternatif bagi feminis post-modernisme/ post strukturalisme.
Sosiolog yang menyusun perspektif feminis makin banyak mengalihkan perhatian utama mereka ke kerangka sistematis buatan Smith. Implikasi karya Smith untuk teori sosiologi memberikan basis untuk sebagian besar bab ini.

Sekilas tentang C. Wright Mills


C. Wright Mills dilahirkan pada 28 Agustus 1916 di Waco, Texas. Dia berasal dari latar belakang kelas menengah konvensional; ayahnya adalah broker asuransi, dan ibunya adalah ibu rumah tangga. Mills kuliah di Universitas Texas dan menjelang 1939 dia mendapat gelar sarjana dan master. Dia adalah mahasiswa yang luar biasa, dimana sampai dia meningalkan Texas dia telah mempublikasikan artikel-artikel di dua jurnal sosiologi utama. Mills mendapat gelar Ph.D. dari Universitas Wisconsin (Scimecca, 1977). Dia pertama mengajar di Universitas Maryland, tetapi kemudian menghabiskan sebagian besar karirnya, dari 1945 sampai meninggal, di Universitas Columbia.
Mills adalah orang yang gesit (Horowitz, 1983). Menjelang kematiannya karena serangan jantung pada usia 45 tahun dia sudah banyak memberi kontribusi penting bagi sosiologi.
Salah satu hal yang paling mengejutkan tentang Mills adalah pertikaiannya dengan tampaknya selalu bertempur sepanjang hidupnya. Dia mempunyai kehidupan pribadi yang penuh gejolak, yang dicirikan oleh banyak jalinan asmara tiga perkawinan dan seorang anak dari tiap-tiap perkawinan. Dia juga menjalani kehidupan profesional yang penuh pertempuran. Dia tampaknya bertikai dengan siapa saja dan dengan segala hal. Saat masih mahasiswa di Wisconsin, dia kerap berselisih dengan banyak profesornya. Kelak, dalam salah satu eseinya, dia terlibat dalam kritik terselubung terhadap bekas ketua jurusan di Wisconsin. Dia menyebut teoritisi seniornya di Wisconsin, Howard Becker, sebagai “dungu banget” (Horowitz, 1983). Dia akhirnya berkonflik dengan Hans Gerth, rekan penulisnya, yang menyebut Mills sebagai “operator hebat”, pemuda congkak yang menjanjikan, dan koboi Texas” (Horowitz, 1983:72). Sebagai seorang profesor di Columbia, Mills terisolasi dan diasingkan oleh kolega-koleganya di Columbia.
Tak ada kerenggangan antara saya dan Mills. Kami mulai renggang. Pada pertemuan mengenang kematiannya yang diselenggarakan oleh Universitas Columbia, saya tampaknya satu-satunya orang yang tak bisa mengatakan, “Aku pernah menjadi jauh”. Mungkin yang benar adalah sebaliknya (dikutip dalam Horowitz, 1983:83).
Mills adalah orang asing, dan dia tahun itu; “Aku adalah orang asing, bukan hanya secara regional, tetapi keseluruhan” (Horowitz, 1983:34). Dalam The Sociology Imagination (1959), Mills menentang bukan hanya teoritisi dominan pada masanya, Talcott Parson, tetapi juga metodologis dominan, Paul Lazarsfeld, yang juga kolega di Columbia.
Mills tentu saja bertentangan dengan orang; dia juga bertikai dengan masyarakat Amerika dan menentangnya dalam berbagai front. Tetapi barangkali yang paling menonjol adalah fakta bahwa ketika Mills mengunjungi Uni Soviet dan dihormati sebagai kritikus masyarakat utama, dia memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang sensor di Uni Soviet dengan bersulang (toast) kepada seorang pemimpin Soviet awal yang dilenyapkan oleh Stalinis : “Untuk hari ketika karya lengkap Leon Trotsky dipublikasikan di Uni Soviet” (Tilman, 1984:8). C. Wright Mills meninggal di Nyack, New York pada 20 Maret 1962.