Senin, 01 April 2013

Sekilas tentang Auguste Comte


August Comte (1798-1857) lahir di Montpellier Perancis, 17 Januari 1798 dan meninggaldi Paris Perancis, 5 September 1857 pada umur 59 tahun. Intelektual yang memiliki nama asli Isidore Marie Auguste François Xavier Comte ini dalam dunia pendidikan dikenal sebagai Bapak Sosiologi, selain itu dia dikenal juga sebagai orang pertama yang mengaplikasikan metode ilmiah dalam ilmu sosial. Khazanah pemikirannya telah menjadi cakrawala baru bagi dunia dalam memandang sosiologi.
Dalam pemikirannya mengenai diskursus keagamaan, ia melihat sebuah perbedaan yang mencolok antara agama Katolik yang ia anut dengan pemikiran keluarga monarki yang berkuasa sehingga ia terpaksa meninggalkan Paris. Hal-hal yang sebenarnya menarik perhatiannya bukanlah yang berbau matematika tetapi masalah-masalah sosial dan kemanusiaan. Berangkat dari hal inilah yang kemudian pada bulan Agustus 1817  Comte bersedia menjadi murid sekaligus sekertaris dariClaude Henri de Rouvroy, Comte de Saint-Simon, yang kemudian membawa Comte masuk ke dalam lingkungan intelek. Pada tahun 1824, Comte meninggalkan Saint-Simon karena lagi-lagi ia merasa ada ketidakcocokan dalam hubungannya.
Saat itu, Comte mengetahui apa yang ia harus lakukan selanjutnya dia mulai meneliti tentang filosofi positivisme. Rencananya ini kemudian dipublikasikan dengan nama Plan de travaux scientifiques nécessaires pour réorganiser la société (1822) (Indonesia: Rencana studi ilmiah untuk pengaturan kembali masyarakat). Tetapi ia gagal mendapatkan posisi akademis sehingga menghambat penelitiannya. Kehidupan dan penelitiannya kemudian mulai bergantung pada sponsor dan bantuan finansial dari beberapa temannya.
Kehidupan terus bergulir Comte mulai melalui kehidupannya dengan menjadi dosen penguji, pembimbing dan mengajar mahasiswa secara privat. Walaupun begitu, penghasilannya tetap tidak mecukupi kebutuhannya dan mengenai karya awal yang dikerjakannya mandek. Mengalami fluktuasi dalam penyelesainnya dikarenakan intensitas Comte dalam pengerjaannya berkurang drastis.
Comte dalam kegelisahannya yang baru mencapai titik rawan makin merasa tertekan dan hal tersebut menjadikan psikologisnya terganggu, dengan sifat dasarnya adalah seorang pemberontak akibatnya Comte mengalami gejala paranoid yang hebat. Keadaan itu menambah mengembangnya sikap pemberang yang telah ada, tidak jarang pula perdebatan yang dimulai Comte mengenai apapun diakhiri dengan perkelahian.
Kegilaan atau kerajingan yang diderita Comte membuat Comte menjadi nekat dan sempat menceburkan dirinya ke sungai. Datanglah penyelamat kehidupan Comte yang bernama Caroline Massin, seorang pekerja seks yang sempat dinikahi oleh Comte ditahun 1825. Caroline dengan tanpa pamrih merawat Comte seperti bayi, bukan hanya terbebani secara material saja  tetapi juga beban emosional dalam merawat Comte karena tidak ada perubahan perlakuan dari Comte untuk Caroline dan hal tersebut mengakibatkan Caroline memutuskan pergi meninggalkan Comte. Comte kembali dalam kegilaannya lagi dan sengsara.
Comte menganggap pernikahannya dengan Caroline merupakan kesalahan terbesar, berlanjutnya kehidupan Comte yang mulai memiliki kestabilan emosi ditahun 1830 tulisannya mengenai “Filsafat Positiv” (Cours de Philosophie Positiv) terbit sebagai jilid pertama, terbitan jilid yang lainnya bertebaran hingga tahun 1842.
Lalu Comte bertemu dengan Clotilde de Vaux, Comte sangat mencintainya, namun Clotilde hanya menganggap hubungan itu biasa saja. Tak lama Clotilde wafat karena terserang TBC. Setelah Clotilde wafat, kehidupan Comte kembali terguncang, dia bersumpah untuk membaktikan hidupnya untukmengenang Clotilde. Tak lama setelahnya Comte, yang merasa dirinya adalah seorang penemu sekaligus seorang nabi dari “agama kemanusiaan” (religion of humanity) menerbitkan bukunya yang berjudul System of Positive Politics (1851-1854).
Dalam buku System of  Positive Politics, sifat tulisan Comte umumnya berubah secara menyolok setelah menjalin kasih dengan Clotilde, buku ini menjadi sebuah bentuk perayaan atas cinta. Karena dimaksudkan untuk mengenang Clotilde, buku ini didasarkan pada gagasan bahwa kekuatan yang sebenarnya mendorong orang dalam kehidupannya adalah perasaan, bukan pertumbuhan intelegensia. Agama humanis Comte merupakan satu gagasan utopis untuk mereorganisasi masyarakat secara sempurna.sosiologi akan menjadi ratu ilmu pengetahuan, hal itu memungkinkan satu penjelasan tentang kemajuan pengetahuan manusia secara komperhensif dan mengenai hukum-hukum keteraturan dan kemajuan sosial. Hal itu mendorong suatu sistem moral yang merangkul semuanya, yang akan mempersatukan semua orang dalam penyembahan terhadap humanis dan menjamin keteraturan sosial yang perlu untuk kemajuan selanjutnya.
Comte bersama ahli-ahli bidang lainnya yang sepakat dengan pemikirannya menjadi perangkat institusi keagamaan yang dibuatnya dan mulai mensosialisasikan kepada kalangan elit-elit politik, Comte mengarang buku kembali dan diberikan judul Positivist Catechism dan Appeal to Conservatives. Comte dengan konsistensinya mensosialisasikan agama humanitas-nya dan hukum tiga tahap yang memaparkan perkembangan kebudayaan manusia hingga akhir hayatnya, Comte meninggal di Paris pada tanggal 5 September 1857.
Pada abad ke 19, Prancis mengalami perubahan sosial yang signifikan setelah pecahnya revolusi Prancis. Comte mengemukakan kekhawatirannya terhadap gejala sosial yang terjadi. Perubahan mendasar dari revolusi Prancis adalah munculnya demokrasi di Prancis, namun selain perubahan positif ini revolusi juga mendatangkan konflik antar kelas di dalam masyarakat. Dilatarbelakangi peristiwa inilah ia membayangkan suatu ilmu yang berdiri sendiri dan penelitian tersebut harus berdasarkan pada metode-metode ilmiah. Saat itu Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum fisik yang dapat mengatur gejala-gejala sosial. Comte kemudian menamakan ilmu ini sosiologi. Dalam pemikirannya Comte lebih memusatkan perhatiannya pada tingkat kultural kenyataan sosial, ia percaya bahwa pola pikir suatu masyarakat sejalan dengan tingkat intelektualnya. Comte memahami bahwa begitu intelektualkita bertambah, maka masyarakat itu akan maju.
Comte bukan hanya melakukan penelitian-penelitian atas penjelasan-penjelasan yang perlu dirombak karena tidak sesuai dengan kaidah keilmiahan Comte tetapi layaknya filsuf lainnya, Comte selalu melakukan kontemplasi juga guna mendapatkan argumentasi-argumentasi yang menurutnya ilmiah. Dan, dari sini Comte mulai mengeluarkan agitasinya tentang ilmu pengetahuan positiv pada saat berdiskusi dengan kaum intelektual lainnya sekaligus.
Asumsi-asumsi ilmu pengetahuan positiv itu sendiri, antara lain : Pertama, ilmu pengetahuan harus bersifat obyektif (bebas nilai dan netral) seorang ilmuwan tidak boleh dipengaruhi oleh emosionalitasnya dalam melakukan observasi terhadap obyek yang sedang diteliti. Kedua, ilmu pengetahuan hanya berurusan dengan hal-hal yang berulang kali. Ketiga, ilmu pengetahuan menyoroti tentang fenomena atau kejadian alam dari mutualisma simbiosis dan antar relasinya dengan fenomena yang lain.
Bentangan aktualisasi dari pemikiran Comte adalah dikeluarkannya pemikirannya mengenai “hukum tiga tahap” atau dikenal juga dengan “hukum tiga stadia”. Hukum tiga tahap ini menceritakan perihal sejarah manusia dan pemikirannya sebagai analisa dari observasi-observasi yang dilakukan oleh Comte.
Versi Comte tentang perkembangan manusia dan pemikirannya, berawal pada tahapan teologis dimana studi kasusnya pada masyarakat primitif  yang masih hidupnya menjadi obyek bagi alam, belum memiliki hasrat atau mental untuk menguasai (pengelola) alam atau dapat dikatakan belum menjadi subyek. Fetitisme dan animisme merupakan keyakinan awal yang membentuk pola pikir manusia lalu beranjak kepada politeisme, manusia menganggap ada roh-roh dalam setiap benda pengatur kehidupan dan dewa-dewa yang mengatur kehendak manusia dalam tiap aktivitasnya dikeseharian. Contoh yang lebih konkritnya, yaitu dewa Thor saat membenturkan godamnyalah yang membuat guntur terlihat atau dewi Sri adalah dewi kesuburan yang menetap ditiap sawah. Beralih pada pemikiran selanjutnya, yaitu tahap metafisika atau nama lainnya tahap transisi dari buah pikir Comte karena tahapan ini menurut Comte hanya modifikasi dari tahapan sebelumnya. Penekanannya pada tahap ini, yaitu monoteisme yang dapat menerangkan gejala-gejala alam dengan jawaban-jawaban yang spekulatif, bukan dari analisa empirik. “Ini hari sialku, memang sudah takdir !”, “penyakit AIDS adalah penyakit kutukan!”, dan lain sebagainya, merupakan contoh dari metafisika yang masih ditemukan setiap hari. Tahap positive, adalah tahapan yang terakhir dari pemikiran manusia dan perkembangannya, pada tahap ini gejala alam diterangkan oleh akal budi berdasarkan hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan dibuktikan atas cara empiris. Penerangan ini menghasilkan pengetahuan yang instrumental, contohnya, adalah bilamana kita memperhatikan kuburan manusia yang sudah mati pada malam hari selalu mengeluarkan asap (kabut), dan ini karena adanya perpaduan antara hawa dingin malam hari dengan nitrogen dari kandungan tanah dan serangga yang melakukan aktivitas kimiawi menguraikan sulfur pada tulang belulang manusia, akhirnya menghasilkan panas lalu mengeluarkan asap.
Auguste Comte adalah manusia yang berjalan di tengah-tengah antara ideologi yang berkembang (progressiv vs konservatif), berada pada ruang abu-abu (keilmiahan ilmu pengetahuan). Comte memberikan sumbangsih cukup besar untuk manusia walaupun, ilmu pengetahuan yang dibangun merupakan ide generatif dan ide produktifnya. Comte turut mengembangkan kebudayaan dan menuliskan : “Sebagai anak kita menjadi seorang teolog, sebagai remaja kita menjadi ahli metafisika dan sebagai manusia dewasa kita menjadi ahli ilmu alam”.

Sekilas tentang Anthony Giddens


Giddens adalah teoritis sosial Inggris masa kini yang sangat penting dan salah seorang dari sedikit teoritisi yang sangat berpengaruh di dunia. Giddens lahir 18 Januari 1938 (Clark, Modgil dan Modgil, 1990). Ia belajar di Universitas Hull, di the London School Economics, dan di Universitas London. Tahun 1961 ia diangkat menjadi dosen di universitas Leicester. Karya awalnya bersifat empiris dan memusatkan perhatian pada masalah bunuh diri. Tahun 1969, ia beralih jabatan menjadi dosen sosiologi di Universitas Cambridge dan sebagai anggota King’s College. Ia terlibat dalam studi tentang pencampuran kultur, menghasilkan bukunya yang pertama yang mencapai penghargaan internasional, berjudul The Class Structure of Advanced Societies (1975). Selama dekade berikutnya ia menerbitkan sejumlah karya teoritis penting. Dalam karya-karyanya itu selangkah demi selangkah ia mulai membangun perspektif teoritisnya sendiri, yang terkenal sebagai teori strukturasi. Tahun 1984 karya Giddens mencapai puncaknya dengan terbitnya buku The Constitution of Society : Outline of the Theory of Society, yang merupakan pernyataan tunggal terpenting tentang perspektif teoritis Giddens. Tahun 1985 ia diangkat menjadi Profesor Sosiologi di Universitas Cambridge.
Giddens berpengaruh dalam teori sosiologi lebih dari dua dekade. Ia pun berperan penting dalam membentuk sosiologi Inggris masa kini. Salah satunya, ia menjadi konsultan editor dua perusahaan penerbitan. Macmillan dan Hutchinson. Lebih penting lagi, ia adalah salah seorang pendiri Polity Press, sebuah perusahaan penerbitan yang sangat aktif dan berpengaruh terutama dalam teori sosiologi. Giddens pun menerbitkanSociology (1987), sebuah buku ajar yang ditulisnya menurut gaya Amerika, yang mencapai sukses di seluruh dunia.
Sebagai teoritisi, Giddens sangat berpengaruh terutama di AS maupun di berbagai bagian dunia lain. Yang menarik, karyanya sering agak kurang diterima di negerinya sendiri (Inggris), dibandingkan dengan di bagian dunia lain. Hal ini mungkin disebabkan sebagian oleh kenyataan bahwa ia telah berhasil memenangkan perlombaan mendapat pengikut teoritis di seluruh dunia yang telah dicoba mencapainya oleh kebanyakan teoritis sosial Inggris lain dan gagal. Seperti dikatakan Craib, “Giddens-lah kiranya menyadari fantasi kebanyakan kita, yang menyatakan pendapat kita sendiri ke dalam sosiologi selama periode perdebatan yang bersemangat dan menggairahkan ketika dikembangkannya teori strukturasi” (1992:12).
Di 1980-an, karir Giddens mengalami serangkaian perubahan menarik (Bryant dan Jary, 2000). Beberapa tahun terapi menggiringnya kepada ketertarikan yang lebih besar terhadap kehidupan personal dan buku-buku seperti Modernity and Self-Identity (1991) dan The Transformation of Intimacy (1992). Terapi juga memberikan kepadanya kepercayaan diri untuk menjalankan peran publik serta menjadi salah seorang penasehat Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Pada 1997 beliau menjabat sebagai direktur London School of Economic (LSE), sebuah sekolah yang sangat disegani. Beliau memperkuat reputasi akademis LSE dan pengaruhnya dalam wacana publik baik di Inggris maupun di seluruh dunia. Ada beberapa suara yang menyatakan semua ini yang mengakibatkan kemunduran kemampuan akademis Giddens (karyanya di 1990-an kurang dalam membingungkan dibanding karya terdahulunya). Tapi beberapa waktu kemudian, beliau kembali berkonsentrasi untuk menjadi kekuatan yang patut dipertimbangkan di masyarakat.

Sekilas tentang Abdul Rahman Ibnu-Khaldun


Nama lengkapnya adalah Waliuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan yang kemudian masyhur dengan sebutan Ibnu Khaldun. lahir di Tunisia pada 1 Ramadan 732 H./27 Mei 1332 M. adalah dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Sebagai ahli politik Islam, ia pun dikenal sebagai bapak Ekonomi Islam, karena pemikiran-pemikirannya tentang teori ekonomi yang logis dan realistis jauh telah dikemukakannya sebelum Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (1772-1823) mengemukakan teori-teori ekonominya. Bahkan ketika memasuki usia remaja, tulisan-tulisannya sudah menyebar ke mana-mana.
Tulisan-tulisan dan pemikiran Ibnu Khaldun terlahir karena studinya yang sangat dalam, pengamatan terhadap berbagai masyarakat yang dikenalnya dengan ilmu dan pengetahuan yang luas, serta ia hidup di tengah-tengah mereka dalam pengembaraannya yang luas pula.
Selain itu dalam tugas-tugas yang diembannya penuh dengan berbagai peristiwa, baik suka dan duka. Ia pun pernah menduduki jabatan penting di Fes,
Granada, dan Afrika Utara serta pernah menjadi guru besar di Universitas al-Azhar, Kairo yang dibangun oleh dinasti Fathimiyyah. Dari sinilah ia melahirkan karya-karya yang monumental hingga saat ini. Nama dan karyanya harum dan dikenal di berbagai penjuru dunia. Panjang sekali jika kita berbicara tentang biografi Ibnu Khaldun, namun ada tiga periode yang bisa kita ingat kembali dalam perjalan hidup beliau. Periode pertama, masa dimana Ibnu Khaldun menuntut berbagai bidang ilmu pengetahuan. Yakni, ia belajar Alquran, tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, fikih madzhab Maliki, ilmu nahwu dan sharaf, ilmu balaghah, fisika dan matematika.
Dalam semua bidang studinya mendapatkan nilai yang sangat memuaskan dari para gurunya. Namun studinya terhenti karena penyakit pes telah melanda selatan Afrika pada tahun 749 H. yang merenggut ribuan nyawa. Ayahnya dan sebagian besar gurunya meninggal dunia. Ia pun berhijrah ke Maroko selanjutnya ke Mesir; Periode kedua, ia terjun dalam dunia politik dan sempat menjabat berbagai posisi penting kenegaraan seperti qadhi al-qudhat (Hakim Tertinggi). Namun, akibat fitnah dari lawan-lawan politiknya, Ibnu Khaldun sempat juga dijebloskan ke dalam penjara.
Setelah keluar dari penjara, dimulailah periode ketiga kehidupan Ibnu Khaldun, yaitu berkonsentrasi pada bidang penelitian dan penulisan, ia pun melengkapi dan merevisi catatan-catatannya yang telah lama dibuatnya. Seperti kitab al-’ibar (tujuh jilid) yang telah ia revisi dan ditambahnya bab-bab baru di dalamnya, nama kitab ini pun menjadi Kitab al-’Ibar wa Diwanul Mubtada’ awil Khabar fi Ayyamil ‘Arab wal ‘Ajam wal Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawis Sulthan al-Akbar.
Kitab al-i’bar ini pernah diterjemahkan dan diterbitkan oleh De Slane pada tahun 1863, dengan judul Les Prolegomenes d’Ibn Khaldoun. Namun pengaruhnya baru terlihat setelah 27 tahun kemudian. Tepatnya pada tahun 1890, yakni saat pendapat-pendapat Ibnu Khaldun dikaji dan diadaptasi oleh sosiolog-sosiolog Jerman dan Austria yang memberikan pencerahan bagi para sosiolog modern.
Karya-karya lain Ibnu Khaldun yang bernilai sangat tinggi diantaranya, at-Ta’riif bi Ibn Khaldun (sebuah kitab autobiografi, catatan dari kitab sejarahnya); Muqaddimah (pendahuluan atas kitabu al-’ibar yang bercorak sosiologis-historis, dan filosofis); Lubab al-Muhassal fi Ushul ad-Diin (sebuah kitab tentang permasalahan dan pendapat-pendapat teologi, yang merupakan ringkasan dari kitab Muhassal Afkaar al-Mutaqaddimiin wa al-Muta’akh-khiriin karya Imam Fakhruddin ar-Razi).
DR. Bryan S. Turner, guru besar sosiologi di Universitas of
Aberdeen, Scotland dalam artikelnya “The Islamic Review & Arabic Affairs” di tahun 1970-an mengomentari tentang karya-karya Ibnu Khaldun. Ia menyatakan, “Tulisan-tulisan sosial dan sejarah dari Ibnu Khaldun hanya
satu-satunya dari tradisi intelektual yang diterima dan diakui di dunia Barat, terutama ahli-ahli sosiologi dalam bahasa Inggris (yang menulis karya-karyanya dalam bahasa Inggris).” Salah satu tulisan yang sangat menonjol dan populer adalah muqaddimah (pendahuluan) yang merupakan buku terpenting tentang ilmu sosial dan masih terus dikaji hingga saat ini.
Bahkan buku ini telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa. Di sini Ibnu Khaldun menganalisis apa yang disebut dengan ‘gejala-gejala sosial’ dengan metoda-metodanya yang masuk akal yang dapat kita lihat bahwa ia menguasai dan memahami akan gejala-gejala sosial tersebut. Pada bab ke dua dan ke tiga, ia berbicara tentang gejala-gejala yang membedakan antara masyarakat primitif dengan masyarakat moderen dan bagaimana sistem pemerintahan dan urusan politik di masyarakat.
Bab ke dua dan ke empat berbicara tentang gejala-gejala yang berkaitan dengan cara berkumpulnya manusia serta menerangkan pengaruh faktor-faktor dan lingkungan geografis terhadap gejala-gejala ini. Bab ke empat dan ke
lima, menerangkan tentang ekonomi dalam individu, bermasyarakat maupun negara. Sedangkan bab ke enam berbicara tentang paedagogik, ilmu dan pengetahuan serta alat-alatnya. Sungguh mengagumkan sekali sebuah karya di abad ke-14 dengan lengkap menerangkan hal ihwal sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu dan pengetahuan. Ia telah menjelaskan terbentuk dan lenyapnya negara-negara dengan teori sejarah.
Ibnu Khaldun sangat meyakini sekali, bahwa pada dasarnya negera-negara berdiri bergantung pada generasi pertama (pendiri negara) yang memiliki tekad dan kekuatan untuk mendirikan negara. Lalu, disusul oleh generasi ke dua yang menikmati kestabilan dan kemakmuran yang ditinggalkan generasi pertama. Kemudian, akan datang generasi ke tiga yang tumbuh menuju ketenangan, kesenangan, dan terbujuk oleh materi sehingga sedikit demi sedikit bangunan-bangunan spiritual melemah dan negara itu pun hancur, baik akibat kelemahan internal maupun karena serangan musuh-musuh yang kuat dari luar yang selalu mengawasi kelemahannya.
Ada beberapa catatan penting dari sini yang dapat kita ambil bahan pelajaran. Bahwa Ibnu Khaldun menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan tidak meremehkan akan sebuah sejarah. Ia adalah seorang peneliti yang tak kenal lelah dengan dasar ilmu dan pengetahuan yang luas. Ia selalu memperhatikan akan komunitas-komunitas masyarakat. Selain seorang pejabat penting, ia pun seorang penulis yang produktif. Ia menghargai akan tulisan-tulisannya yang telah ia buat. Bahkan ketidaksempurnaan dalam tulisannya ia lengkapi dan perbaharui dengan memerlukan waktu dan kesabaran. Sehingga karyanya benar-benar berkualitas, yang di adaptasi oleh situasi dan kondisi.
Karena pemikiran-pemikirannya yang briliyan Ibnu Khaldun dipandang sebagai peletak dasar ilmu-ilmu sosial dan politik Islam. Dasar pendidikan Alquran yang diterapkan oleh ayahnya menjadikan Ibnu Khaldun mengerti tentang Islam, dan giat mencari ilmu selain ilmu-ilmu keislaman. Sebagai Muslim dan hafidz Alquran, ia menjunjung tinggi akan kehebatan Alquran. Sebagaimana dikatakan olehnya, “Ketahuilah bahwa pendidikan Alquran termasuk syiar agama yang diterima oleh umat Islam di seluruh dunia Islam. Oleh kerena itu pendidikan Alquran dapat meresap ke dalam hati dan memperkuat iman. Dan pengajaran Alquran pun patut diutamakan sebelum mengembangkan ilmu-ilmu yang lain”.
Jadi, nilai-nilai spiritual sangat di utamakan sekali dalam kajiannya disamping mengkaji ilmu-ilmu lainnya. Kehancuran suatu negara, masyarakat, atau pun secara individu dapat disebabkan oleh lemahnya nilai-nilai spritual. Pendidikan agama sangatlah penting sekali sebagai dasar untuk menjadikan insan yang beriman dan bertakwa untuk kemaslahatan umat. Itulah kunci keberhasilan Ibnu Khaldun, ia wafat di Kairo Mesir pada saat bulan suci Ramadhan tepatnya pada tanggal 25 Ramadhan 808 H./19 Maret 1406 M.

Senin, 25 Maret 2013

Mendownload Gratis - Berbagi Edukasi

Berikut Kumpulan-kumpulan File (pdf) Beberapa Matakuliah Seperti Ekonomi Pembangunan, Sosiologi Gender, Sistem Ekonomi Indonesia, Metode Penelitian Kualitatif, Sistem Politik Indonesia, Sistem Sosial Budaya Indonesia, Sosiologi Keluarga :

Ekonomi Pembangunan

ABHIJIT VINAYAK BANERJEE - UNDERSTANDING POVERTY
silakan download : klik disini
AMARTYA SEN - DEVELOPMENT AS FREEDOM
silakan download : klik disini
E. WAYNE NAFZIGER - ECONOMIC DEVELOPMENT
silakan download : klik disini
JAGDISH BHAGWATI - IN DEFENSE OF GLOBALIZATION
silakan download : klik disini
JOSEPH STIGLITZ-FAIR TRADE FOR ALL - HOW TRADE CAN ROMOTE DEVELOPMENT
silakan download : klik disini
WILLIAM EASTERLY - REINVENTING FOREIGN AID
silakan download : klik disini

Sosiologi Gender

Gender Dalam Pembangunan
silakan download : klik disini
Pengantar Gender
silakan download : klik disini

Sistem Ekonomi Indonesia

International Journal Of Economy Science
silakan download : klik disini
Variable Demand Elasticities And Tariff Liberalization
silakan download : klik disini

Metode Penelitian Kualitatif

Kualitatif
silakan download : klik disini
Landasan Filsafat Dan Metode Penelitian Kualitatif
silakan download : klik disini

Sistem Politik Indonesia

Penilaian Demokratisasi Di Indonesia
silakan download : klik disini
Perkembangan Demokrasi Di Indonesia
silakan download : klik disini

Sistem Sosial Budaya Indonesia

Negara Bangsa Dan Masyarakat
silakan download : klik disini
Negara Dan Pengusaha
silakan download : klik disini
Strategi Pembangunan Kerakyatan
silakan download : klik disini

Sosiologi Keluarga

Tindak Kekerasan Terhadap Anak Perempuan Pada Saat Pemilihan Jodoh
silakan download : klik disini



Untuk bertarung menuju SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) tahun 2013 ini dibutuhkan latihan-latihan soal seperti :
  • Tes Potensi Akademik (TPA).
  • Tes Kemampuan Dasar Umum (TKDU) terdiri atas kemampuan Matematika Dasar, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
  • Tes Kemampuan Dasar Saintek (TKD Saintek) terdiri atas kemampuan Matematika, Biologi, Kimia, dan Fisika.
  • Tes Kemampuan Dasar Sosial dan Humaniora (TKD Soshum) terdiri atas kemampuan Sosiologi, Sejarah, Geografi, dan Ekonomi.
Silakan download latihan-latihan soal berikut :

Semoga bisa bermanfaat bagi teman-teman, pesan saya tidak lolos SBMPTN bukan berarti dunia runtuh dan enggan melanjutkan kuliah. Tetap lanjutkan hidup anda dan cobalah jalur-jalur lain di PTN atau PTS. Tetap semangat...!!!

Cekidot...!!!
(Foto Kartu Ujian SNMPTN Tulis 2011 - Saya)
...Alhamdulillah lolos di pilihan pertama...
-Sebuah mimpi yang terwujud-
"Sosiologi Universitas Airlangga"

Sabtu, 09 Maret 2013

Rakyat Kecil Dipermainkan oleh Para Wakil Rakyat


Puisi Chairil anwar yang berjudul “AKU” memang sangat termahsyur. Hampir semua siswa SMP dan SMU di era 80-an sampai 90-an bahkan era-era sebelumnnya dipastikan mengingat satu kalimat pada puisi itu “Aku ini binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang”. Setelah bertahun-tahun lewat, kalimat “Aku ini binatang jalang“ mengingatkanku pada nasib rakyat Indonesia beberapa tahun belakangan. Ketika hajatan pemilihan umum digelar, baik itu pemilih presiden maupun legislatif.
Menjelang pemilu, rakyat yang selama ini di acuhkan dipinggirkan bahkan dilupakan menjadi komoditas yang paling dicari. Semua calon kandidat tiba-tiba mengaku dan merasa dekat dengan rakyat kecil, orang pinggiran, manusia yang selama ini tidak jadi prioritas, dan luput dari perhatian. Drama pun digelar oleh para politisi ini. Ada yang jadi tukang becak dadakan, ada yang bermalam dirumah petani miskin, ada yang berjanji menyekolahkan anak-anak orang miskin sampai perguruan tinggi, ada yang makan nasi bungkus bersama-sama di warteg. Pendek kata kesan glamor hilang dari para politisi ini, bahkan ada yang memeluk petani yang berkeringat dan baru pulang dari sawah. Semuannya menunjukan bahwa mereka peduli, bahwa mereka adalah bagian dari rakyat yang tidak berpunya. Hampir 24 jam televisi mengiklankan "keakraban para politisi, petinggi partai dengan rakyat miskin”. Seolah-olah tidak ada jarak dan kelas diantara mereka. Kelihatannya semua begitu natural, seperti sahabat lama yang tidak pernah bertemu bertahun-tahun dan kemudian bersama-sama menggali kenangan-kenangan indah yang pernah dijalani bersama. Mengapa para politis dan petinggi partai melakukan hal yang berlawanan 1000 derajat dengan “kebiasaaan berkelas meraka” ? semua orang sudah tahu jawabannya. Apalagi kalau bukan untuk mendapatkan dukungan dan suara sebanyak-banyaknya demi melanggengkan kedudukan mereka dipuncak kekuaasaan.
Drama para politisi ini sesungguhnya memuakan. Mungkin sebaiknya survey mengenai “seberapa seringkah anda secara otomatis memindahkan channel anda ketika para politisi gombal berpura-pura menyatu dengan rakyat” ? Saya yakin, jawaban polling akan secara signifikan menunjukan tingginnya angka kemuakan terhadap perilaku pamer kemesraan mereka dengan rakyat miskin menjelang pemilu. Yang menjadi pertanyaan mungkin, mengapa mereka bersusah payah mengubah jalan hidup mewah dan memasang muka manis kepada masayarakat ? Jawabannya tentu saja sesederhana pertanyaanya “bahwa setengah rakyat indonesia adalah orang miskin. Setengah dari 250 juta, berati 125 juta. Ini yang tidak dirilis BPS. Kenapa saya begitu yakin setengah penduduk Indonesia miskin menurut para politisi ini ? Karena para politisi itu bukan orang bodoh, mereka punya lembaga survey, punya hubungan dengan universitas, dan para penelitinnya. Mereka mengetahui jumlah riil penduduk miskin ketimbang BPS. Seandainya jumlah penduduk miskin seperti yang dilansir BPS Cuma 30 juta, maka mereka tidak akan berepot ria memoles dan mengubah citra mereka ke orang-orang miskin itu dalam hal ini masyarakat kebannyakan. Kalau jumlah orang tidak miskin 120 juta, maka tidak perlu repot-repot berbaur dengan masyarakat yang tidur di gubuk reot dan sering makan nasi aking. Mereka pasti memiliki cara jitu lain dalam mendekati dan menebar pesona kepada masyarakat kelas menengah itu. Bikin arisan orang kaya kah, atau apalah. Tapi mereka tahu, basis massa dan kantong suara sesungguhnya ada di masyarakat kelas bawah yang kemudian menjadi “KOMODITAS” pada setiap putaran pemilu.
Sehingga, tidak salah kalau kemudian nasib masyarakat itu setelah pemilu persis apa yang di ungkapkan “Chairil Anwar” Aku ini binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang. Mau bukti, lihat saja setelah Pemilu usai, mana ada yang betah makan di warteg bersama para buruh ? Tidak ada lagi pejabat yang memakai Rolex terlihat membawa becak dijalanan. Nginapnya bukan lagi dirumah petani miskin di desa nun jauh disana yang tidak dialiri listrik. Kembali lagi ke habitat, nginap di hotel bintang lima yang tarifnnya semalam setara dengan harga kebun sang petani. Maka, sebagai orang yang punya pendidikan sedikit, kita mesti berbuat sesuatu dan mengcounter para politikus busuk semcam ini. Penyadaran perlu dilakukan di akar rumput walaupun dengan cara-cara sederhana. Semoga di pemilu 2014, nasib rakyat indonesia tidak lagi seperti puisi Chairil Anwar……………….”aku ini binatang jalang dari kumpulannya yang terbuang”.

Tiga Fungsi yang Harus Diemban Para Anggota Dewan yang Terhormat


Cobaan demi cobaan terus mendera Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Repubik Indonesia belakangan ini. Mulai dari kasus korupsi, kunjungan ke luar negeri yang didaulat sebagai pemborosan, renovasi dan pembangunan gedung baru yang biayanya dianggap terlalu berlebihan, produktifitas legislasi yang rendah, kapasitas anggota DPR yang dianggap tidak mumpuni, dll. Walaupun beberapa kritikan dan masukan ada yang valid, namun dengan berbagai sorotan yang terus mendera muncul pula analisa bahwa serangan atas citra DPR merupakan bagian rencana terkoordinir guna mendelegitimasi DPR sebagai sebuah lembaga negara. Baik itu kritik konstruktif ataupun serangan bermotif, kualitas DPR sebagai salah satu kaki dari trias politica memang perlu terus ditingkatkan. Namun untuk melakukan itu perlu dipahami secara utuh fungsi dan manfaat keberadaan DPR dalam sistem politik Indonesia.
Di tahun 2013, sesuai peraturan KPU No 18/2012 tentang tahapan pemilu legislatif, akan dimulai proses administrasi penentuan Daftar Calon Sementara (DCS) dan Daftar Calon Tetap (DCT) untuk masing-masing partai politik (parpol). Daftar tersebut bukan hanya akan memuat nama tapi sebenarnya juga akan memuat harapan. Bagi parpol, daftar tersebut akan memuat harapan bahwa calon-calon legislatif (caleg) yang bisa menguatkan pendulangan suara parpol di pileg 2014 guna menghasilkan pegangan yang kuat, secara kuantitatif dan kualitatif di DPR nantinya. Bagi para caleg sendiri, daftar tersebut akan memuat harapan mereka masing-masing guna mewujudkan mimpinya di dunia politik. Baik itu mimpi ideologis atau mimpi kepentingan pribadi. Bagi rakyat di masing-masing daerah pemilihan (dapil), daftar tersebut memuat harapan mereka agar ada wakil-wakilnya yang bisa memperjuangkan aspirasi rakyat di dapil-dapil tersebut.
Pasca keanehan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) di tahun 2009 yang menyatakan pileg menggunakan cara suara terbanyak, yaitu caleg terpilih menjadi anggota DPR bukan berdasar nomer urut tapi jumlah suara yang secara individu diperoleh. Sudah hampir pasti di masing-masing dapil akan terjadi jeruk makan jeruk. Maksudnya setiap caleg tidak hanya akan merasa harus bertarung dengan caleg dari parpol lain, namun juga dari parpolnya sendiri. Dari peperangan Bharata Yuda para caleg inilah akan lahir anggota-anggota DPR yang selama lima tahun yang akan menyandang harapan parpol. Dirinya sendiri dan pemilih di dapil masing-masing dalam koridor tiga fungsi mereka sesuai UUD 1945, UU No 27/2009 tentang MPR, DPR, DPD dan DPRD (MD3), Tata Tertib DPR, dan tentu platform (landasan) masing-masing parpol. Ketiga fungsi tersebut adalah fungsi legislatif, fungsi pengawasan, dan fungsi anggaran.
Fungsi yang pertama, legislatif, dapat dikatakan sebagai fungsi utama dari anggota DPR. Fungsi ini yang membuat mereka dikenal dalam bahasa politik internasional sebagai legislator atau law maker. Fungsi inilah yang memungkinkan, dan mengharuskan, anggota DPR untuk terlibat dalam proses pembuatan dan pengesahan Undang-Undang (UU). Fungsi ini yang memberikan validitas kepada kritik atas kuantitas dan kualitas legislasi, atau UU, yang dihasilkan DPR setiap tahunnya.
Fungsi yang kedua, pengawasan, adalah fungsi yang memang terkandung dalam semangat trias politica (eksekutif, legislatif, yudikatif) yaitu check & balance serta pemisahan kekuasaan (separation of power). Sesuai dengan sejarah Indonesia di masa Orde Baru (Orba) yang kekuatan eksekutif-nya begitu besar, fungsi pengawasan DPR turut mewakili semangat sejarah bangsa. Yaitu agar lembaga legislatif tidak lagi hanya sekedar menjadi lembaga pemberi stempel persetujuan (stamp of approval) basa basi atas tindak laku lembaga eksekutif. Itu sebabnya di dalam UUD 1945 dan berbagai UU, pemerintah dalam mengambil berbagai keputusan yang sifatnya strategis harus berkonsultasi terlebih dahulu dan mendapat persetujuan dari DPR. Fungsi pengawasan juga memberikan mandat rakyat kepada para anggota DPR guna mengawasi bila ada pelanggaran UU dan ketidakadilan yang terjadi di tengah kehidupan rakyat. Fungsi ini mengharuskan anggota DPR menjadi sebuah menara mercusuar yang memberikan panduan kepada kapal eksekutif dan peringatan bila kapal yang mengangkut rakyat Indonesia tersebut sedang berlayar ke arah yang salah atau membahayakan.
Fungsi yang ketiga, anggaran, adalah fungsi yang seringkali menjadi sumber kontroversi akhir-akhir ini terutama terkait keterlibatan DPR dalam proses penyusunan anggaran hingga tingkat Satuan Tiga (dokumen anggaran yang memuat deskripsi program dan rincian alokasi pagu anggaran per program). Kewenangan tersebut oleh beberapa pihak dianggap sebagai biang keladi permainan anggaran yang dikatakan terjadi di DPR. Sejak tahun 2008, pihak pemerintah selaku pelaksana anggaran telah menyerukan agar DPR tidak lagi memiliki wewenang untuk membahas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Satuan Tiga. Akan tetapi yang orang tampaknya lupa, sejarah negara Indonesia di masa orde baru telah mengajarkan serta mengingatkan kita bahwa lembaga eksekutif janganlah diberi keleluasaan yang terlampau besar dalam menyusun anggaran, tanpa adanya mekanisme pengawasan dari DPR. Singkatnya, keterlibatan DPR dalam pembahasan APBN hingga Satuan Tiga adalah produk sejarah reformasi Indonesia. Selain itu tanpa fungsi anggaran, DPR akan menjadi macan tanpa taji ketika melaksanakan fungsi pengawasannya. Keberadaan fungsi anggaran bisa digunakan DPR sebagai salah satu bentuk reward & punishment terhadap penilaian kinerja pemerintah atau institusi yang menjadi mitra kerja di komisinya masing-masing. Walaupun begitu bila memang semangat jaman sekarang memandang keterlibatan DPR hingga Satuan Tiga belum cukup menjamin akuntabilitas penyusunan anggaran, mungkin diperlukan penambahan mekanisme pengawasan anggaran namun tentunya bukan pengurangan mekanisme yang menyeret kita mundur ke praktik penyusunan anggaran era Orde Baru.
Permasalahannya faktor keterpilihan seorang caleg seringkali tidak mengandung pertimbangan kemampuannya untuk nanti menjalankan fungsi legislatif, pengawasan, dan anggaran sebagai anggota DPR. Faktor kedekatan, keterkenalan, dan janji-janji lebih menjadi pertimbangan pemilih di lapangan kala kampanye perang Bharata Yuda pileg berlangsung. Kita tidak bisa menyalahkan pemilih sepenuhnya, melainkan parpol dan caleg sendiri yang harus menjadi lebih baik. Mulai dari tahap penjaringan caleg serta pendidikan politik oleh parpol, hingga kesadaran dari caleg itu sendiri untuk menyiapkan kapasitas dirinya menjalankan tiga fungsi anggota DPR.
Ketiga fungsi anggota DPR, legislatif, pengawasan, dan anggaran, mengerucut kepada satu manfaat penting keberadaan mereka dalam sistem demokrasi Indonesia, yaitu anggota DPR secara kolektif sebagai pemberi solusi. Di fungsi legislatif, anggota DPR diharapkan memberi solusi bersama pemerintah menyusun payung hukum yang dapat menyelesaikan masalah tertentu. Di fungsi pengawasan, anggota DPR diharapkan memberi solusi alternatif dari pelaksanaan program atau pengambilan kebijakan pemerintah agar apa yang dijalankan benar-benar menyelesaikan masalah yang ada di rakyat. Di fungsi anggaran, anggota DPR diharapkan memberi solusi agar alokasi anggaran negara dapat benar-benar menyejahterakan kehidupan rakyat.
Satu manfaat tersebut yang saat ini sangat dinantikan dan diharapkan orang agar lahir dari DPR, baik sebagai anggota maupun kesatuan institusi. Walaupun negara kita sudah masuk G-20, masih begitu banyak masalah yang membutuhkan solusi. Mulai dari korupsi, pertumbuhan ekonomi yang tidak merata, terkikisnya identitas bangsa, dan lain lain. Solusi-solusi atas berbagai masalah itu yang ditunggu dari anggota DPR.

Logat Bicara Anggun Tidak Cocok dengan Telinga Orang Indonesia


Anggun C. Sasmi dikenal sebagai penyanyi Indonesia yang go internasional. Jejak Anggun hingga kini pun diikuti banyak penyanyi muda. Salah satunya adalah Agnes Monica. Kehadiran Anggun kini dapat dinikmati dalam ajang galatama atau performance audisi penyanyi berbakat X-factor.
Sayangnya setelah saya perhatikan dalam beberapa kali penampilan, komentar-komentar Anggun terasa jauh dari namanya yangAnggun. Saya merasa yakin bahwa Anggun mengalami kesulitan memilih padanan kata yang tepat untuk menunjukkan apresiasinya terhadap penyanyi yang berpenampilan bagus dan maksimal.
Misalnya komentar Anggun kepada Fatin. “Kamu kurang ajar banget” atau komentar lain seperti “Kamu nyebelin” bahkan kata-kata yang terdengar lebih kasar seperti “sialan” diucapkan oleh Anggun dengan enteng tanpa tendeng aling-aling.
Entah kenapa setelah Anggun mengucapkan kata-kata itu sebenarnya dia terlihat merasa bersalah. Apalagi jumat malam lalu Anggun keceplosan mengatakan bahwa “hidup tak seindah paha Cherrybelle”. Sayangnya kata-kata Anggun dengan mudah diimitasi oleh Rossa. Saya pun yakin Bebi dan Dhani merasa jengah ketika Anggun dan Rossa berucap kasar. Terlihat dari air mukanya yang berubah.
Saya merasa senang karena Dhani dan Bebi cukup santun ketika mengomentari peserta. Apa yang selama ini diucapkan oleh Anggun sebetulnya tidak tepat karena acara tersebut disiarkan secara langsung dan ditonton oleh jutaan penonton dari berbagi usia. Apalagi Fatin yang jelas-jelas seorang pelajar SMA.
Sebagai pemerhati media, saya cukup prihatin dengan ucapan-ucapan Anggun yang bertolak belakang dengan namanya yang indah. Kata-kata seperti itu mungkin lebih tepat digunakan dikala berkumpul dengan teman-teman sebaya yang sudah saling mengenal satu sama lain. Lebih tepatnya hanya untuk kalangan sendiri saja, tidak perlu di tunjukkan di muka umum.
Bagi pendidikan jelas ini sangat bertolak belakang. Anak-anak yang menonton Anggun akan dengan mudah pula meniru ucapan-ucapan kasar Anggun yang spontan. Meskipun sebetulnya Anggun berusaha memberikan pujian dengan mengeluarkan kata-kata tersebut.
Saya rasa kini Anggun dan Rossa sudah harus mulai bebenah diri terutama dalam bertutur kata dihadapan jutaan orang Indonesia yang menonton audisi penyanyi X-Factor secara langsung. Kecerdasaan seseorang akan runtuh ketika omongan yang keluar ternyata berkonotasi negatif.